Intermediate (2018)


Pengalaman berharga selama sakit, belum pernah punya keluhan dan sesakit ini.

Menghabiskan waktu 1 minggu di rumah sakit, 3 minggu di rumah sambil rawat jalan. Yang tadinya sehat di kantor, larinya gesit, segar bugar, rajin olahraga, rajin minum susu dan banyak makan, tiba-tiba mau ambruk di kamar mandi kost2an pas jam 2 malam. Siapa yang bisa mengira kalau akhirnya, harus dirawat di rumah sakit karena kondisi kritis.

Jam 2 malam dini hari tiba-tiba bangun dari tidur dalam keadaan meringis : menahan sakit yang luar biasa, sampai menangis tapi ditahan karena takut suaranya mengganggu teman-teman kost yang lagi tidur. Perut rasanya seperti di silet-silet, dicabik-cabik, badan menggigil tapi panas tinggi, bingung harus menghubungi siapa dan harus bagaimana. Bertahan dengan rasa sakit sampai jam 5 subuh, pelan-pelan mulai meraih ponsel dan minta tolong sama teman kost supaya bisa mengantarkan ke rumah sakit, pagi itu juga.

Di UGD, sendirian. Kadang sesekali meratap ke langit-langit, dan cuma bisa melihat dokter visit mondar-mandir. Belum bisa menghubungi pihak keluarga, masih terlalu pagi dan bingung harus cerita mulai darimana. Pelan-pelan mulai pegang ponsel lagi, cuma bisa telpon ke satu orang : Bapak.

Dokter-dokter disana bergantian memeriksa saya dan belum jelas memberikan diagnosa. Kalau harus ada tindakan, maka harus dikabarkan ke pihak keluarga. Sedangkan Bapak saya masih di jalan. "Ok Dok, saya putuskan sendiri, sebaiknya ambil tindakan buat saya, pagi ini juga," lalu dengan lemas dan setengah yakin saya berikan tanda tangan diatas proposal.

Tes darah, tes gula darah, skin test dan USG. Ternyata justru nyaman sendirian ; lebih fokus dan tenang untuk menjalani setiap prosedur dari dokter. Di dalam ruang USG, Dr. Andrew cuma bisa geleng-geleng kepala dan sesekali mengernyitkan dahi, "Ini kenapa sampai ada penebalan dinding usus begini?"

Kalau dokter sampai bilang begitu, berarti penyakitnya serius. Selama ini saya cuek saja dan sering menahan sakit karena bagi saya, bukan masalah. Tapi ternyata apa yang ada di benak saya sekarang benar-benar kejadian. Kalau sampai benar dugaan saya, berarti ...

Setelah keluar dari ruangan USG, Dr. Andrew koordinasi dengan Dr. Arnold. Ternyata dua-duanya tidak ada yang tega menyampaikan diagnosa ke saya. "Dok, maaf kalau boleh saya tahu, apa diagnosa Dr. Andrew buat saya?" dan dengan muka setengah cemas, dia bilang, "Ananda benar, ini positif appendiks akut, usus buntu yang sudah pecah, jadi ananda harus dioperasi malam ini juga, kamu kuat kan?" katanya sambil menenangkan. "Berarti saya harus ... operasi besar, Dok?" dan anggukannya membuat saya paham kalau maksudnya ke arah sana.

Rasanya mau nangis tapi malu dilihat dokter, mau bilang mustahil tapi itu harus dilalui. Saya benci rumah sakit semenjak ibu saya meninggal di rumah sakit. Saya bertekad buat hidup sehat supaya tidak seperti ibu saya. Tapi hari ini kenyataannya beda, banyak hal yang harus saya tinggalkan termasuk pekerjaan, hobi, kegiatan di luar rumah juga keluarga. Awalnya tidak bisa terima, dan akhirnya cuma bisa merintih di sisi tempat tidur.

Siang itu juga saya dirujuk oleh Bapak ke salah satu rumah sakit terbaik dan terdekat dari rumah, dibantu oleh Dr. Arnold. Sudah tak terpikir lagi mengenai masalah asuransi atau biaya yang dikeluarkan. Saya dibawa suster untuk tes darah kedua untuk pemeriksaan lab (ginjal, hati, komposisi elektrolit), CT scan, dan thorax. Bapak saya sibuk telpon sana-sini supaya saya bisa mendapatkan kamar kelas 1. Saya sendiri sibuk memfokuskan pikiran supaya lebih tenang sebelum operasi. Malam harinya sekitar jam 10 setelah semua keluarga berkumpul, dan sesuai janji dokter, saya dioperasi oleh Dr. Hery. ✂

Esok paginya saya terbangun di sebuah ruangan penuh peralatan, lengkap dengan kabel-kabel denyut jantung, tensi otomatis dan banyak infus yang kabelnya bercabang.  Sekujur tubuh saya diselimuti busa untuk mengatur suhu badan karena belum stabil. Saya rasakan lidah saya, mengecap ada rasa manis, mungkin karena infus makanan. Karena sudah 2 hari 2 malam saya puasa, tidak boleh makan sedikitpun. Dengan tenang, perlahan saya melihat perut sudah dipenuhi perban, dan ada sambungan selang yang tertancap dan menembus ke dalam perut saya. Bergerak sedikit saja sakit, menoleh kiri-kanan melihat tangan saya seperti robot. Melirik ke depan dan beberapa suster sedang briefing dengan para dokter visit pagi ini. Ternyata saya ada di ruangan Intermedit.

Bapak saya tidak boleh berlama-lama saat bertemu saya, hanya diizinkan 10 menit lalu setelahnya harus pulang. Saya benar-benar pergunakan waktu itu sebaik-baiknya, memakai ponsel dan dikembalikan lagi ke beliau. Dokter visit dan suster selalu menanyakan obat-obatan yang harus dibayar dan dimasukkan, Bapak saya bicara dengan nada lembut, "Dok, anak saya kan sendirian. Tolong diperhatikan dan diberi pelayanan prima, karena saya tidak bisa memantau perkembangannya terus disini. Ada hal-hal yang harus saya kerjakan. Jadi, apapun obatnya, tolong dimasukkan saja, jangan tanya saya lagi yah."

Mendengar itu, saya jadi konsentrasi buat kesembuhan karena Bapak sudah memberikan saya kemudahan. Dengan begitu, tim medis jadi lebih intensif memerhatikan kondisi saya. Oh, begini rasanya jadi raja. Mau pipis tinggal tunjuk jari, kalau pusing tinggal tunjuk jari, infus habis tinggal tunjuk jari, perut nyeri tinggal tunjuk jari, badan panas tinggal kasih kode ke suster buat disuntik, tiap 15 menit tensi menyala otomatis, tiap saat dipantau dari jauh dan dicek oleh dokter visit. Malamnya bisa menyaksikan siaran langsung tim medis buka suara ke dokter dalam konferensi meja kotak. Setiap kasus pasien diceritakan secara mendetail mulai dari tindakan pertama sampai berapa banyak dosis obat yang diberikan. Benar-benar hafal di luar kepala, dan itu sungguh luar biasa. Saya jadi tahu pola pikir dan cara kerjanya, betapa tenang dan hebatnya tim medis di dalam mengambil keputusan-keputusan. Dihadapan saya. Langsung.

Saya diam-diam menyeringai sambil berpikir, agaknya saya mulai gila. Pasti ada alasannya kenapa Tuhan membuat saya jadi sakit. Belum lagi seharian saya harus mendengar jeritan pasien-pasien di ruangan ini, membuat saya jadi susah istirahat. Seumur hidup saya hanya mau dioperasi pada saat melahirkan anak nanti, bukan dioperasi karena ada penyakit seperti ini. Pasti ini salah satu ujian di masa muda. Saya yakin obatnya hanya keberanian dan kesabaran ekstra. Dan itu saya pelajari dari mereka. Hingga saya sendiri lupa kalau harus tidur malam. Tapi ini pemandangan yang langka, sayang kalau saya abaikan hanya untuk beristirahat. Akhirnya saya baru tertidur jam 1 malam, setelah menonton tayangan yang 'asyik dan mendebarkan' itu.

Esoknya saya dimandikan oleh suster sambil dicek progress grafiknya, lewat selembar kertas besar yang diperiksa selama saya dirawat disitu. Rencananya jam 10 pagi saya dipindahkan ke ruang perawatan karena grafik terus meningkat, itupun berdasarkan keputusan para dokter. "Wah, ananda ranking 1 nih, nanti siap-siap dipindahkan ya," katanya. Ada salah satu pasien di sebelah saya yang meraung-raung, ternyata dia habis operasi ginjal. Tapi tidak mau mengikuti saran dokter, tidak mau diberi obat atau disuapi makanan, sehingga kesakitan terus menerus. "Ibu harus makan, coba ibu contoh Mbaknya itu, apa ibu gak malu, mau makan sendiri," kata suster sambil membuka tirai dan menunjuk ke arah saya. Pasien tidak boleh dipindahkan ke ruang perawatan kalau kondisinya masih kritis. Prinsip saya, kalau kita mau cepat sembuh, ikuti aturan main dokter. Karena dokter lebih tahu kondisi kita, lebih memahami psikis kita disaat sakit, dan lebih mengerti harus diberi tindakan apa. Kalau harus makan ya makan, kalau harus disuntik ya disuntik. Saya justru merasa kelaparan selama disini --- bersyukur bisa makan enak meskipun badan tak enak.

Setelah dipindahkan di ruangan kelas 1, saya dipaksa untuk menggerakkan badan. Jangankan latihan jalan, bangun saja susah. Saya hampir frustasi karena teringat bahwa usus saya masih dicuci pakai selang setengah meter. Terus terang saya takut karena harus bangun dari tempat tidur dalam keadaan selang masih 'tersambung' di perut. Saya baru sanggup bertahan 2 menit untuk duduk, karena muka sudah pucat pasi. Tapi saya tidak mau jadi orang lumpuh. Besoknya saya coba bangun sendiri, masih belum sanggup. Besoknya lagi dibantu suster, masih belum sanggup juga. Sampai dokternya sendiri yang datang sambil bilang, "Ayo bangun, harus bisa, harus bisa!"

Karena bukan sakit appendiks biasa, dokter memperkirakan jika pemulihannya akan  lebih lama. Tidak diperbolehkan olahraga berat selama beberapa bulan ke depan. Tidak boleh stres, tidak boleh telat makan dan minum obat. Efek infeksi sebelum operasi kemarin, saya juga mengalami gangguan liver yang indikatornya jauh diatas rata-rata. Jadi saya harus ikut tes pemeriksaan selanjutnya. Setiap hari saya coba jalan ke kamar mandi sambil membawa tiang infus. Saya coba berdiri di depan kaca sambil pegangan wastafel. Kalau mau jatuh, langsung duduk di toilet. Bapak saya tidak tega, tapi saya tetap berusaha. Begitu seterusnya hingga saya mulai bisa berjalan dan diperbolehkan pulang.

Di rumah itu sangat membosankan. Tidak bisa kemana-mana, tidak boleh terlalu lelah, tiap minggu harus check up, harus senang-senang di rumah, harus banyak makan biar gemuk, cuma bisa minum obat, shalat, dan tidur. Kata orang, ini surga dunia. Tapi bagi saya, ini neraka dunia. Bapak saya bilang bahwa semua itu ada masanya. Disuruh menikmati hidup sebelum waktunya tiba. Lepaskan pikiran, belajar peduli dan mencintai diri sendiri dulu.  Belajar bahwa tubuh punya hak atas diri kita dan amanah untuk dijaga. Karena terlalu keras terhadap diri sendiri itu juga kurang baik.

***

Terkadang disaat kita bersenang-senang, melakukan berbagai hal yang kita sukai, kita lupa bahwa kesehatan itu prioritas utama. Kalau sudah terbaring sakit, kita tidak bisa meneruskan pekerjaan, tidak bisa mengerjakan ibadah seperti biasanya, tidak bisa menghabiskan waktu dengan keluarga dan sahabat, tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak bisa makan dengan enak, tidak bisa melakukan apa-apa. Berarti saya belum bisa membedakan mana yang hak dan mana yang merupakan kewajiban. Dan kalau sudah lupa, biasanya akan terus merasa tidak puas diri, tidak bersyukur, tidak menyadari bahwa kesehatan kita yang menunjang itu semua. Karena tanpa fisik yang sehat, kita pasti kehilangan banyak hal dan kesempatan. Karena tak semua orang mau peduli dengan kondisi dan kesehatan kita. Apalagi disaat kita sedang terpuruk dan tidak berdaya. Nasihat Bapak saya memang benar. Kalau kita ingin membahagiakan orang lain, kita dulu yang harus bahagia. Kalau kita ingin menyemangati orang lain, kita dulu yang harus menyemangati diri sendiri. Kalau kita ingin memerhatikan orang lain, kita dulu yang harus perhatian sama diri kita sendiri. Jangan terlalu mempedulikan kondisi orang lain, kalau kita sendiri, belum benar-benar siap.

***

"Jahitannya saya lepas yah, sudah bagus bentuknya, tidak ada keloid," kata Dr. Hery.       Masih bengong melihat gunting bedah yang dipegang, sampai rasa sakitnya tidak terasa. "Kamu tahan sakit juga yah ternyata. Kemarin ada barengan kamu juga operasinya, 2 orang tapi saya belum bisa izinkan pulang," katanya kalem. "Tapi bukan berarti kamu bisa lari-larian sekarang, tetap istirahat sampai pulih benar." lanjutnya. "Alhamdulillah, iya dong Dok, kan semuanya bilang di intermedit, kalau saya dapat ranking 1," jawab saya dengan muka polos. Beliau terkekeh karena geli melihat tingkah dan tanggapan saya. ---


romantic poems