Bohemian Rhapsody ~
*Bohemian
Rhapsody by Queen (A Night At The Opera)
*Fly
Love by Jamie Foxx
"Mama,
Just killed a man,
Put a gun against his head,
Pulled my trigger, now he's dead
Mama,
Life had just begun
But now I've gone and thrown it all away...
Mama, ooh,
Didn't mean to make you cry
If I'm not back again this time tomorrow... carry on, carry
on
As if nothing really matters..."
Bohemian Rhapsody.
Aku selalu
menyukai lagu itu sejak kecil, meskipun aku tak pernah tahu mengenai artinya.
Aku serasa
hidup kembali : punya semangat tinggi hingga tak terasa kakiku melayang,
berpijak.
Aku dan musik,
bagai kesatuan yang tak terpatahkan.
Saat
aku masih berumur 14 tahun, aku menyaksikan kehidupan Ibu yang tak pernah lepas
dari musik. Beliau bergerak kesana kemari tiada henti saat menyiapkan menu
masakan, berinteraksi dengan orang di dalam rumah, atau sekedar merenung di
teras rumah sambil mendengarkan musik klasik. Pertama kalinya aku mendengar
musik terindah, adalah dari musik-musik yang selalu Ibu putar melalui bass sound
system kami, yang sengaja Ayah atur agar seisi rumah terdengar menggema.
Saking niatnya, Ayahku rela membeli satu set perangkat sound system klasik era ‘60an bermerek ... (wah, yang ini rahasia
yah, hihi) dari hasil penawaran seorang teman kantornya yang juga kolektor sound system klasik. Alhasil, jadilah
rumahku yang selalu penuh dengan alunan musik.
Sejak
saat itu, aku tidak lagi menjadi pioneer
anak muda yang menggemari musik-musik pop terbaru di zaman itu. Biasanya ketika
di sekolah, teman-teman selalu berbicara mengenai musik terkeren dan terheboh
bagi anak-anak masa kini. Aku selalu jadi trendsetter
di sekolah, sering ditanyai sama teman-teman, kira-kira lagu apa yang saat ini
sedang nge-hits. Dengan percaya diri,
aku selalu menjawab. Tapi kini tidak lagi seperti aku. Aku bukan orang yang
tepat untuk ditanyai.
“Cin,
gue lupa nih, lagu apaan sih yang kemaren diputerin di Planet Remaja ANTV? Lo
nonton gak kemaren? Yang itu loohh, yang dinyanyiin sama Maia Estianty...”
“Hehehe,
maaf yah say, aku udah gak up-to-date
lagi buat tau tentang lagu-lagu pop, lagian juga aku kemaren gak sempet nonton
di tipi...”
“Yaahh...
kirain tau. Hehehe, tapi yaudahlah, ntar gue tanya ama anak-anak aja,” katanya.
Suatu
hari, aku membuka laci penyimpan kaset-kaset gulungan pita di rumah.
Aku
hendak mencari kaset vocal jazz milik
mendiang Ibu yang ingin kudengarkan sore ini, di kala mendung.
Setelah
diputar, aku tertahan dan memejamkan mata untuk meresapi.
Ternyata,
Ayah ada disampingku.
“Kamu
nemu kaset itu dimana? Lama banget lho ini, kasetnya. Zaman Ibumu masih kuliah
dulu,” katanya mencoba mengenang.
“Tya
nemu di laci. Abisnya sayang banget kalo gak pernah diputer. Tya suka banget
sama liriknya, Pak...”
“Kamu
gak akan bisa bayangkan gimana orang-orang zaman dulu, punya taste yang bagus terhadap musik,”
“Oyah?”
“Nih
ya, Bapak ceritain. Dulu waktu Bapak masih kuliah di Malang, gak ada satupun
musik-musik luar negeri yang gak bagus. Pokoknya yang masuk ke Indonesia itu
harus lagu-lagu yang bisa melegenda, kalo enggak, ntar grup musiknya bisa
dilemparin botol pas manggung di kota Malang...”
“...........................................”
“Gak
sembarang musik bisa masuk disana. Kalo kamu hidup di zaman itu, jangan harap
kamu bisa selamet, kecuali kamu tau dengan siapa kamu mau ngajak ngomong. Bapak
dulu sering ikut nonton konser lagu barat sama temen-temen kuliah, Bapak juga
seneng denger lagu-lagu slow rock. Gak
kayak anak zaman sekarang, lagunya gak kreatiipp...” katanya meledek.
“Hahaha,
Bapak nih, paling bisaaaaa aja...”
“Lho?
Kamu gak tau yah selera Bapak kayak gimana?? Gak percaya??? Nih Bapak puterin,”
Kemudian
beliau mengambil sebuah kaset bergenre Folk
dengan cover bergambar tengkorak.
Suaranya
pun menggema seperti alunan musik sirkus dengan paduan musik rock.
“Apaan
nih Pak?! Musik kayak beginian mah, mana ada seninya???” kataku sambil
menaikkan alis sebelah.
“Enak
ajeee... ini kasetnya mahal tauk harganya. Judulnya Dance Macabre. Tapi orang-orang suka bilangnya ini musik genre fuzion rock. Bapak pesen kaset ini dari
luar negeri... nih liat, masih ada cap stempelnya, kalo gak percaya...”
Waduuuh? Bener
juga. Di cap stempelnya masih bertuliskan ‘Indonesia Rp 3000,00”... nah loh,
berarti kalo itu kaset bising dibeli di zaman sekarang, sama aja dong harganya
kayak 300 rebuuu...
“Nih
Bapak masih punya lagu yang lain. Tapi kalo yang ini, kamu pasti suka. Soalnya
nadanya nge-beat dan dinamis.”
Kemudian
aku mendengarkan lagi. Ada unsur piano, gitar listrik, pria-pria yang bernyanyi
seirama, dan suara bass. Panjang
musiknya hampir 6 menit. Seperti alunan orkestra, tapi... kekuatannya terletak
di permainan gitar. Aku belum pernah sekalipun tahu bahwa ada juga musik yang
liriknya tak terarah, tapi bisa terbentuk melodi yang sempurna. Ayahku hanya
melirikku saat tersenyum sendiri secara tak sadar.
“Aaaaaa!!!
Tya suka bangeeeeettt sama lagu ini, Paakk...” kataku kegirangan sambil menarik-narik
lengan beliau.
“Hehehe,
baru tauu yaaahh?” katanya.
“Ini
judulnya apa Pak??? Tya mau donlot ah di internet,”
“Bohemian Rhapsody, grupnya namanya Queen. Ngapain kamu donlot segala, repot
tauk, ini kan ada di kaset... puter aja...”
“Ih
gapapa, mau Tya dengerin di mp3...”
“Kemaren
pas Bapak di pesawat, Bapak dengerin musik di headphone. Wuih keren lho, yang nyanyi Boney M - Daddy Cool.
Coba aja kamu donlot di komputer, trus simpenin di folder laptop Bapak. Oya, donlot juga lagunya Animal Nightlife, tapi Bapak lupa judulnya apa, panjang banget.
Ibumu suka tuh,”
“Okey
deh Pak!”
Kalau
dipikir-pikir, sebenarnya aku merasa serba salah juga sama musik-musik
Indonesia. Sebabnya, lirik-lirik lagu Indonesia itu hampir semuanya bertemakan
cinta pertama, cinta kedua, ketiga, putus-nyambung, diselingkuhi lagi, galau,
atau apalah namanya itu. Jadi, bosan juga akhirnya, kalau lama-lama
didengarkan. Di satu sisi, sebagai anak bangsa kan’ harus mencintai musik yang
ada di dalam negeri, tapi musik tersebut justru bukan musik-musik yang
disajikan secara ‘berkarakter’.
Bicara
masalah lingkungan keluarga, semuanya terlibat dalam dunia musik. Ayah, adikku
yang bawel, sepupu-sepupuku yang ganteng-kece-dan-keren,
saudara perempuan yang semuanya jago nyanyi, dll. Ayahku bisa bermain gitar
klasik dengan petikan jazz bahkan
sampai dangdut. Adikku bisa bernyanyi
sambil bermain gitar nuansa reggae, pop
dan rock. Sepupuku jago main gitar
sampai senarnya pada putus. Saudara-saudara perempuan juga eksis kalau disuruh
karaoke bareng keluarga besar. Nah aku sendiri? Nyanyinya nge-jazz teruuus, giliran disuruh nge-dangdut malah gak bisa.
Main gitar, hafal kuncinya, tapi gak bisa ngegenjreng. Mainin piano keyboard
punya saudara, cuma mencetin nuts-nutsnya doang sambil mainin lagunya Bryan
Adams yang judulnya Right Here Waiting (itupun lagu waktu zaman SMA, kadang
lupa-lupa inget), trus kalo punya niat main biola : pernapasan jantungnya belum
tentu bagus. Pokoknya tuh serba nanggung, hahaha...
Ada
satu hari dimana aku pernah bercengkrama dengan adikku, di kamar sambil
memerhatikan dia sedang memetik gitar.
“Dik,
lagunya ganti doong, jangan yang sendu-sendu melulu... coba kamu nyanyiin
lagunya Christian Bautista yang
judulnya Beautiful Girl... yang kayak
waktu itu... aku suka deh,”
“Enggak
ah, gue lagi males... enakan juga lagu reggae,
lagu santai breee...”
“Ah,
reggae mulu neh, nyeloow mulu nih
kamu.”
“Eh
kate siape, Mbak? Biarpun gue nyeloow kayak gene, cewek-cewek banyak yang suka
sama cara maen gitar gue...” katanya pe-de.
“Ah
masa?”
“Lah,
gue gitu lohh. Lagian, gue juga punya lagu keren lagee, gak cuma reggae doang. Gue kalo dengerin ini jadi
inget elo, Mbak. Mau gak?”
“Mana
coba?”
“Neh
dengerin, jangan ngiler tapi...”
Lalu
dia memutar musik melalui ponsel touchscreen-nya.
Aku takjub.
“Dik,
ini judulnya apa? Aku suka nada pertamanya, mungkin bisa nih kayanya, dijadiin ringtone di hape. Tapi nada berikutnya
aku kurang suka, kok alirannya hard rock
yah, suaranya serak-serak basah begini. Kirimin deh ke hape, via butut, (bluetooth)” kataku sambil menyodorkan
ponselku.
“The Diary Of Jane by Breaking Benjamin.
Oya, Mbak suka lagunya Firehouse gak?
Gue juga punya. Apa mau dikirimin sekalian?” katanya menawarkan diri.
“Wooaah
suka banget, ok ok boleh...”
Akhirnya,
musik karangan Breaking Benjamin dan
lagunya Firehouse yang berjudul More Than Words Can Say --- sampai di
tanganku.
Ada
salah seorang sahabatku semasa SMA yang juga memiliki selera bagus dalam
bermusik. Meskipun dia adalah cowok yang tergolong cuek, tapi kalau sudah
bersentuhan dengan piano, sosoknya jadi lain. Dia tahu bahwa aku senang
mendengarkan lagu-lagu jazz modern tahun ’80, sehingga dia
mencarikan satu lagu rock kesukaannya
yang bisa dibuat ke dalam versi jazz.
“Cin,
gue punya lagu bagus hari ini...” katanya di message ponsel.
“Lagu
apa tuh?”
“Judulnya
Chop Suey, albumnya System Of A Down, genre jazz. Tapi coba dengerin dulu yang genre
aslinya, versi rock...”
“Oke
deh, nanti dikabarin kalo udah di donlot, makasih yah...”
Keesokan
harinya setelah diunduh lewat komputer...
“Waw,
keren juga lagunya bro, hehehe...” kataku sambil mengirim message.
“Iya
dong, gue tuh suka lagu jazz yang
alirannya kayak gitu, sekitar tahun ‘60an tapi gak terlalu jadul juga,”
“Ohh,
hehehe...”
Terkadang
dia juga menyarankan aku agar mendengar musik karangan Depapepe yang banyak unsur petikan gitarnya. Dia juga suka
memainkan piano Pachelbel – Canon, atau sesekali memasangkan headphone di kepalaku buat mendengarkan
lagu-lagu Korea. Biasanya suka kugunakan saat menulis sesuatu, puisi atau apa
saja. To A Stranger by Park Hye Ri dan My Everything by Lee Min Ho. Tadinya
aku kurang tertarik dengan lagu Korea, tapi untuk kedua musik romantis ini, jadi-bikin-melted!
Sekitar
3 bulan yang lalu, ada salah seorang teman perempuanku yang rela berlari dari
kampus menuju kost-anku hanya untuk meminta musik-musik lembut. Kalau saja di
hari itu aku tidak bertanya padanya tentang lagu apa yang dia sukai, mungkin
akhirnya tidak akan seperti ini.
“Ciniiiinnn...
pliiisss aku minta semua lagunya yahh... ini aku bawain notebook aku sama flashdisk
juga... boleh kan yah, Cinin? Boleh yaahh??” katanya sambil memohon.
“Iyaaa
boleh kok say, ambil aja disitu, mana aja yang kamu suka...”
“Pilihin
dong saaay, kamu cantiikk deh...” katanya mengedip-edipkan mata sambil merayu.
“Hmm
kan, mulai deh kamu. Hehehe, nih coba dulu dengerin, lagunya Blackbox – Fall Into My Love...”
“Aaaaaa...
mauuu Ciniinn... ini aku sering dengerin di radio tapi gatau judulnya apa...”
“Kalau
yang ini?” dan musik Another Day In
Paradise mulai mengisi.
“Aaaaaaaaa
ini lagi apa sihh lagunyaaa... aku jadi inget ini sering diputer jadi backsound-nya Planet Remaja yang
ngebacain astrologi...”
“Hehehe,
ada satu nih yang romantis,” dan aku meng-klik
musiknya Keith Martin – Because Of You.
“Ya
ampuunn Ciniiinnn, so sweet banget
yah kamu...”
“Sebenernya
ada satu lagi musik yang menurutku bisa jadi special things buat aku. Tapi rencananya mah nanti, bukan buat
sekarang. Aku pengen nulis sesuatu buat seseorang, tapi pake musik ini...”
“.................................”
George Duke –
Sweet Baby.
Kuputar
musik itu dan aku hanya melihatnya tenggelam dalam nuansa, bertopang dagu.
“Cin,
jadi ini lagu yang kamu maksud? Bagus banget, aku bingung nih mau bilang
apa...”
“Iya,
hehehe, tapi aku tau bahwa gak semua orang punya selera yang sama, mungkin
termasuk kamu sama aku, meskipun kita berdua suka, tapi penilaiannya kan’ bisa
beda...” kataku.
“Iya
bener banget! Cin, kenapa sih kamu gak pernah bilang sama kita-kita kalo kamu
suka lagu-lagu klasik?”
“Yaa
abisnya, kan’ kalian gak pernah nanya aku, hehehe...”
Music is my
charger.
Dimanapun, kapanpun, apapun musiknya akan tetap menjadi memori tersendiri di
hati. Aku selalu bangun dari tidurku dan mencari headphone kesayanganku di tepian tempat tidur. Kalau headphone-ku sedang rusak, aku akan
segera mencari white earphone yang
selalu kusimpan di laci lemari. Kalau tidak berhasil juga, aku akan memutar
musik dengan volume besar di rumahku. Kalau masih belum memuaskan hati, aku
akan menyetel kaset karaoke dan bernyanyi kapanpun aku suka. Bila musikku telah
terhenti, aku akan menuju kamar mandi dan bernyanyi selengking mungkin. Jika
masaku telah tiba untuk menuangkan sejuta ide dan pemikiran lewat tulisan, aku
akan menyiapkan segudang musik favorit di music
player-ku. Apabila aku sedang ingin menangis dan tak tahu bagaimana cara
melampiaskan rasa amarah, aku akan memasang musik sendu yang setia menemaniku
di kala hujan. Ketika aku tak tahu apa yang harus kulakukan di rumah, aku akan
mengambil gitar dan memetik satu-dua nada secara perlahan dan bersenandung.
Saat teman perempuanku membawa tab-nya
ke kampus, aku akan meminjamnya untuk bermain piano dengan menyentuh layarnya. Saat
aku mendengar satu alunan lembut mengalir melalui telingaku dan tak tahu apa
judulnya, maka aku akan mencarinya dimana saja sampai akhirnya ketemu. Pada
saat Ayah mengajakku keluar rumah, yang kuinginkan hanya satu : mencari kaset
musik klasik. Dikala aku sedang memasak sesuatu sambil mendengarkan musik di earphone, dan Ayahku sering kesal, aku
akan memakainya kembali saat Ayah berhenti memarahi. Disaat aku mulai menyukai
satu buah lagu, aku akan mencari makna liriknya dan akan kuhafalkan dalam
nyanyian. Kalau aku sedang tak fokus belajar, maka segera kuputar musik
instrumental yang akhirnya membawaku tenang. Dan yang terakhir, jika tiba
saatnya mataku terasa lelah dan selimutku telah menggoda, maka aku akan
tertidur pulas dengan alunan musik terakhir.
Ketika
aku memasuki hari-hari libur panjang, kuputuskan untuk segera pulang ke Jakarta
dan menghabiskan masa-masa indah bersama keluarga. Termasuk di minggu-minggu
yang lalu, dimana aku bisa memanjakan diri sendiri. Aku tidak habis pikir bahwa
ternyata musik yang selama ini aku cari, akhirnya ketemu di sebuah stasiun
radio. Tomorrow by Double, True by Spandau Ballet dan tidak
ketinggalan juga musik kesayangan kedua orangtuaku : Sentimental by Kenny G. Akhirnya setelah sekian lamanya mencari,
yang namanya mata juga perlu istirahat karena selama 6 jam non-stop menatap layar notebook
untuk menemukannya.
Setelah
itu kuputar musik Ladies Night – Kool
& The Gang.
Tapi,
pada saat aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke ruang tamu, Ayahku berkomentar
lagi :
“Ckckck...
‘Nduk... nduk*. Kalo ngeliat kamu pake baju blouse gitu sambil mondar-mandir, jadi percis kayak Ibumu.”
*(‘Nduk itu berasal dari bahasa Jawa yang
artinya panggilan kesayangan untuk anak perempuan).
Selamat
mendengarkan musik, yah.
Tidak
ada salahnya menyukai musik seperti apa yang kamu sukai. Tapi aku percaya bahwa
dengan penentuan kualitas musik yang bagus, pasti selalu berdampak positif buat
kita juga. Musik itu sebenarnya hidup,
bisa dihidupkan, dan selalu menghidupkan. Kemarin, sewaktu hari Minggu sore
sekitar jam 2 siang, aku sedang menulis sebuah penggalan puisi untuk seseorang di
sofa dengan diiringi musik slow rock.
Saat kutuliskan namanya di kertas, seketika itu juga sound system tersebut mengganti musiknya sendiri menjadi musik
kesukaan si dia, Bohemian Rhapsody by Queen. Aku hampir tak bisa bernapas
beberapa detik : tidak ada orang yang memencet tombol next, tidak ada makhluk halus disini, bahkan juga tidak ada remote disampingku. Aku hanya tersipu
malu sambil mengusap wajahku yang kian memerah.
Sepertinya
Tuhan benar-benar mengerti bila aku rindu padanya. ---