Indefinition (Part 1)


debut novel by : Cinintya Listianti



Identity Name        : Sahara Pearlina
Date Of The Birth    : 1 September 1987
Nationality          : Indonesia
Identity Code        : 198870023
               
Paspor keberangkatanku. Seharian penuh aku mencarinya di seluruh sudut apartemen. Tergeletak dan dibiarkan terbuka begitu saja diatas meja kerja. Oh, tidak. Jam tanganku bergidik. Ini sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Tidak mungkin semua pekerjaan ini bisa kuselesaikan hanya dalam hitungan detik. Tuhan, tolong aku. Lebih baik kubereskan semua pakaian dan surat-surat penting ini ke dalam kopor. Aku harus bergegas menuju bandara Changi pagi ini.

Dimana jaket kesayanganku. Ah, itu dia. Di sebelah jendela. Entah mengapa saat kukenakan setiap hari, selalu ada kesan misterius yang berarti. Warnanya memang maskulin, tapi aku suka. Coklat bergradasi warna cremé. Aku membelinya secara tak sengaja dari salah seorang rekanku yang bekerja di Singapura. Karenanya, gaji pertamaku pun hilang dalam sekejap. Tapi tak mengapa, itu semua sudah menjadi keputusan.

Now, it’s time for a mirror. Kuikat rambutku mirip kuncir kuda dengan alas jilbab yang tak beraturan. Hmm, aku berantakan sekali. Kuseret koporku sambil berlari menuju pintu depan. High-heels sudah menunggu.

Ada satu hal yang mengusikku saat kuputar kunci dua kali. Pintu apartemen ini akan menjadi sebuah kenangan. Terlalu berat bagiku untuk meninggalkannya --- sekarang. Rutinitas yang selalu kutemui sepanjang hari, sepertinya akan memudar saat aku pergi. Semenjak keputusan itu. Memenuhi panggilan perusahaan besar dan bekerja di Jakarta. Aku rindu tanah airku. Rumahku. Ayah, Ibu, dan kakakku yang baru saja pulang dari Amerika. Tetapi akankah kutemukan kesibukan yang serupa, seperti apa yang pernah kudapatkan disini? Kini aku bertekad.

Aku berjalan melintasi trotoar dengan mengenakan kacamata hitam. Di seberang jalan terdapat sebuah taksi yang sedang melaju. Kulambaikan tanganku.

“Taxi,”
“Good morning, young lady. Come in, please...”
“Morning, Sir. Can you take me to the Changi airport, please?”
“Are you in a hurry?”
“Yes I am. Could you mind?”
“Of course not, okay let’s go now...”

Percakapan kami terpaksa terhenti sesaat karena supir itu mengerti keadaanku. Lebih baik aku duduk di belakang. Meski ia terus bicara dan mencoba tetap ramah, setidaknya itu dapat mengurangi frekuensi kemarahanku. Aku hanya bisa tersenyum sekenanya saat beliau bercerita. Sepanjang jalan perhatianku teralih pada patung-patung singa yang memancarkan air di tengah taman kota. Dibalik jendela, aku menggumamkan sesuatu. Singapura, selamat tinggal... Indonesia, aku akan datang...

Aku melangkah keluar dari taksi dengan perasaan bergetar. Aku segera menghampiri petugas untuk memasukkan koporku ke dalam x-ray cabbinet. Kulewati dengan cepat steel detector yang berdiri tegak. Sepertinya aku harus menuju check in counter, tapi waktu terus mengejar. Lihat, sekarang sudah pukul berapa. Setengah sembilan. Masih ada waktu setengah jam untuk menenangkan diri dan berpikir. Di boarding lounge akhirnya kuperoleh sebuah kursi. Aku ada ide. Menyantap sarapanku yang sudah dipersiapkan sebelum berangkat kesini. Rasanya kurang lengkap bila roti panggangku tidak ditemani secangkir kopi panas. Sebaiknya aku mencari.

Tapi ada seseorang yang menepuk pundakku hingga aku tertahan untuk pergi. Aku menoleh. Seorang pria tampan berdiri di hadapanku dengan memberi secangkir minuman. Aku hampir pucat, sepucat kulit tubuhnya.

“Will you accompany me to drink a cup of hot coffee?” ia bicara.
“Well, how do you know if I really want it?”
“I think it doesn’t complete when we’re eating our breakfast without a cup of coffee, right?” katanya ramah.
“Hahaha... that’s right. Thanks a lot, before... you’re very nice,”
“Ah... you’re welcome, girl. So, where do you come from?”
“Indonesia...”
“....................” ia berhenti melangkah dan melihat ke arahku.
“What’s wrong?” aku mengernyitkan dahi. Jangan sampai dia tidak tahu negara Indonesia.
“Can you repeat it again? Are you from Indonesia?” ia memastikan.
“Yes I am,”
“Aku salah menebak, aku kira kamu bukan orang Indonesia...” ia tersenyum sumringah.
“Hah?!”

Kata-katanya terlontar sangat fasih dan tidak asing di telingaku. Apakah fungsi pendengaranku yang bermasalah, atau... dia memang orang Indonesia sepertiku?! Setahuku mimpi semalam tidak ada tanda-tanda keberuntungan seperti hari ini. Ingin rasanya melompat sepuluh meter, tapi itu tak mungkin kulakukan di depan orang ini.

“Ya ampun! Tadi aku juga mengira kalau kamu orang luar,” kataku kegirangan.
“Hahaha... aku? Ah, kau bercanda... mana mungkin orang sepertiku terlihat begitu,” tukasnya sambil membimbingku ke tempat duduk.
“Hei, aku serius... kulitmu saja nampak pucat seperti kulit mereka,” kuarahkan telunjukku pada beberapa orang asing yang sedang antri sambil memeriksa paspor.
“Oh, begitu... berarti kita sama, ya?” ia menggodaku.
“Kelihatannya begitu,”
“By the way, kenalkan, aku Marion. Panggil saja aku dengan Ion, ok?” katanya sambil menjabat tanganku.

Terlalu cepat untuk sebuah perkenalan. Aku tak tahu mengapa ia bisa menangkap sinyal kemana arah mataku berlari. Sebenarnya ini adalah caraku. Berusaha untuk tetap tenang dan bersikap wajar itu tidaklah mudah.

“Aku Sara,”
“Sara...”
“Nama lengkapku Sahara Pearlina. Tapi semua orang biasa memanggilku Sara,” sergahku.
“Hmm... nama yang bagus,” ia tersenyum.
“Terimakasih,”

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi diantara kami sekarang. Mencoba bertanya pada diri dan mencuri pandangannya sekilas. Ia nampak sangat tenang dan bahagia. Tidak seperti diriku yang sudah mulai berkeringat dingin. Butuh sebuah pukulan dan cubitan di pipi bahwa aku tidak bermimpi. Dia terlalu baik dan berharga untuk kubiarkan.

“Kau akan berangkat jam berapa? Kau mau terbang kemana, sih?” katanya.
“Ke Jakarta. Dua puluh menit lagi aku akan kesana,” kataku sambil melirik jam tangan.
“Sebenarnya ini lucu,”
“Lucu bagaimana?” aku terheran.
“Aku juga akan berangkat kesana,”
“Oya? Dalam rangka apa?” aku masih saja heran, aku berharap sikapku tidak terlalu skeptis.
“Saudara tiriku sedang koma karena kecelakaan. Sehingga perusahaan yang dipimpinnya tidak ada yang bisa memegang kendali. Termasuk ayahku. Jadi aku harus kesana untuk menggantikan posisinya...”
“Maaf, kalau boleh tahu, sejak kapan saudaramu terbaring sakit?”
“Sejak ibu kandung kami meninggal. Ia mengebut dari arah kantor menuju pemakaman setelah tahu kabar dariku,” ia memalingkan wajah, berusaha menutupi perasaan.
“Aku turut berduka atas semua yang telah terjadi, sungguh aku minta maaf. Ion, aku yakin kau adalah orang yang hebat. Berusahalah melakukan yang terbaik untuk ibu dan saudaramu itu, ya?” aku mengelus pundaknya.
“Terimakasih, tapi aku tidak apa-apa. Aku mengerti,”
“...............”

Matanya sudah berkaca-kaca. Entah apakah dia bisa memahami bahwa aku juga peduli. Ia memandang ke berbagai arah, melihat orang sedang lalu lalang. Aku salah karena terlalu dalam memasuki dunianya. Ini baru permulaan. Harusnya perkenalan ini diakhiri dengan senyuman, bukan kesedihan.

Lima menitku akan segera tiba. Aku berkemas. Tampaknya ia pun begitu. Lalu ia berkata.
“Kopor itu biar aku saja yang membawanya. Kau bertugas membawa ini,”
“Ini ranselmu?”
“Hmm. Tolong bawakan, ya?”
“Baiklah, tapi hati-hati, koporku agak berat,”
“Iya, Nona. Itu sudah menjadi tugas pria,” katanya sambil mengedip.
“Ok, Tuan,” kataku mengangguk.

Kami berjalan menuju tempat penetralisiran barang untuk dimasukkan ke dalam pesawat. Tanpa sadar, langkah kakiku mulai melambat. Sepertinya lecet. Inilah dampak menggunakan high-heels tanpa tahu kondisi. Tapi aku tidak memiliki sepatu kulit. Mana mungkin aku harus melepas sepatuku diantara keramaian orang. Itu sangat memalukan.

“Kakimu lecet,”
“Iya, tidak apa-apa. Aku masih bisa berjalan,”
“Butuh bantuan?”
“Ah tidak usah, terimakasih, sedikit lagi sudah sampai di pesawat kok,” aku meyakinkan.
“Kalau begitu, pegang tanganku,”

Ia menyodorkan tangan kirinya dengan sangat cepat. Aku memerhatikan. Baik sekali, dia. Semoga saja ini bukan tipuan. Atau jebakan. Sangat disayangkan kalau bantuan ini diabaikan, karena dua menit lagi aku akan berangkat.
Kugapai tangannya dengan tanganku.



To be continued ...

romantic poems