Keinginan Terakhir
By Cinintya
Listianti
Backsound : Rod
Steward – Sometimes When We Touch (1982)
“Cinintya...
nanti kalau kamu sudah besar... mau jadi apa, Sayang?”
“Saya
mau jadi arsitek, Bu Guru!”
“Arsitek?
Kok kamu tidak ingin menjadi seorang dokter seperti teman-temanmu yang lain?”
“Karena
saya mau merancang rumah saya sendiri, Bu... jadi arsitek itu gajinya lumayan
buat saya... terus, saya ‘kan anak perempuan... jadi saya bisa mengerjakan
proyek tanpa harus tergesa-gesa, Bu...”
“..............................”
Itu adalah sepenggal percakapan
yang kulakukan dengan ibu guru di depan kelas saat aku masih duduk di bangku
sekolah dasar. Setelah mendengar perkataanku, beliau hanya tersenyum seraya
menggelengkan kepala karena tak menduga bahwa aku akan menjawabnya seperti itu.
Lantas aku sendiri berjalan menuju tempat dudukku dengan diiringi pandangan
teman-teman. Pelajaran yang kami terima dari ibu guru di hari itu memang
bertemakan cita-cita di masa depan, namun pasti tidak serumit dengan apa yang
sudah kubayangkan. Semuanya benar-benar terasa membingungkan. Ternyata pemikiranku
terlampau dewasa pada waktu itu.
Sebenarnya, sudah lama sekali
aku memendam bakat seni semenjak aku masih kanak-kanak. Ketika teman-teman
sedang asyik memainkan dirinya diatas ayunan, atau membuat istana megah dengan
media pasir; aku justru sibuk menyendiri dan menggenggam krayon warna diatas
buku gambarku. Tidak tanggung-tanggung, aku terus saja duduk di bangku kelas
--- hingga tak terasa ibu guru sudah memandangi sejak tadi. Aku terlalu cinta
pada krayonku. Alhasil, beliau memperbolehkanku membawa krayon milik sekolah
untuk kugunakan di rumah.
Ayah dan Ibu memang memiliki
darah seni yang tinggi. Mereka berdua sangat pandai dalam melukis, bernyanyi, menentukan
selera musik, menggambar relief... bahkan sampai pada urusan merangkai kata.
Saat masih remaja, Ayah dan Ibu adalah pasangan yang paling populer di kampus
karena keistimewaan yang dimiliki oleh keduanya. Menulis puisi. Tak heran
apabila aku selalu menyukai seni. Termasuk dalam dunia menulis. Di sekolah pun
aku mempunyai hobi tersendiri --- membuatkan denah rumah untuk dijadikan arena
bermain teman-temanku. Hanya dari selembar kertas yang sudah ku gambar, kami
bisa memainkan penghapus, tutup pulpen, atau semacamnya sebagai simulasi. Bermain
orang-orangan.
Aku masih ingat tentang satu
hari dimana seorang teman belajarku, Shanti, menuju ke rumahku dengan membawa
sekotak krayon pastel dan sebuah buku gambar berukuran A3. Kami memang sudah
berjanji satu sama lain saat di sekolah, kalau dia akan main ke rumahku. Tapi
pada saat ia tiba di depan rumah, Ibu melarangku untuk bermain karena nenekku
sedang tidur siang. Takut terganggu. Akhirnya, aku terpaksa menyuruh teman
baikku pulang dengan wajah yang sayu. Padahal kami sudah bersemangat untuk itu.
Gimana bisa jadi arsitek kalo gak bisa
ngegambar terus... gak pernah punya
kesempatan buat ngegambar, pikirku. Tapi aku tahu memang bukan kesalahan
Ibu untuk melarang. Lucunya, Ibu justru berkata bahwa aku lebih berbakat
menjadi seorang desainer. Mungkin karena Ibu pernah melihatku menggambar sketsa
baju. Ya, penilaian objektif seperti beliau yang berpendidikan psikologi memang
lain. Tapi bagi seorang anak polos sepertiku tetap saja ingin jadi arsitek. Sekali arsitek, tetap arsitek.
Gambar dan tulisan merupakan
suatu paduan yang misterius untuk dijelaskan. Pada dasarnya, semua orang bisa
mengekspresikan dirinya melalui suatu bidang, terlebih lagi sepertiku yang tak
pernah bisa diam dan selalu aktif mengerjakan apapun yang ingin kuciptakan. Aku
tidak tahu mengapa aku selalu ingin menjadi seorang arsitek yang handal; sejak
aku melihat beberapa foto dalam sebuah majalah arsitektur milik ayahku yang
tergeletak diatas meja. Kau tahu? Tidak banyak wanita yang bisa menjadi seorang
arsitek, karena biasanya profesi itu digeluti oleh kaum lelaki. Oleh sebab
itulah, aku selalu menaruh tekad yang besar untuk meraihnya.
Ketika memasuki usia 14 tahun,
aku mulai mengasah kemampuan desainku dalam aplikasi komputer. Memang hasilnya
tidak seberapa, tapi dengan mencobanya, itu sudah menandakan awal yang bagus.
Semakin sering aku mendesain, Ayah dan Ibu semakin mendukung; meski pada
mulanya mereka menginginkanku menjadi seorang dokter. Selain itu aku juga tetap
berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, yang terkadang disertakan dalam lomba
antar sekolah.
Hingga saat menginjak masa-masa
remaja, aku masih berpegangan pada komitmen yang sudah ku bentuk sekian tahun
lalu. Prestasi yang kian meninggi, namun terselubung oleh kesedihanku setelah
kepergian Ibu ke dalam pelukan Tuhan. Masih meniti perlahan dan terasa sangat
berat, karena impianku takkan pernah bisa dirasakan lagi olehnya suatu hari
nanti. Akan tetapi, semasa hidupnya, beliau tak pernah meragukan keputusan
apapun yang akan ku pilih. Jadi, untuk masalah penjurusan, aku langsung memilih
bergelut di bidang sains.
Namun pada suatu hari, aku
berkenalan dengan seorang teman di sebuah koridor sekolah saat jam istirahat
telah tiba...
“Hai,
Cinin...” sapanya ceria seraya melambaikan tangan dari kejauhan.
“Oh,
hai juga... eh maaf... kamu siapa, ya? Kok kamu tau namaku?” kataku keheranan.
“Kenalin,
namaku Amy... anak kelas 10-3... iya aku tahulah, kamu anak yang mau jadi
arsitek itu, ya? Aku denger banyak hal tentang kamu dari temen-temen,” katanya
bersemangat sambil menjabat tanganku.
“Oh
gitu, ya? Hehehe... nggak juga, sih...
sekarang lagi usaha,” kataku merendah.
“Hehehe...
baguslah, Cin. Aku do’ain semoga kamu bisa jadi arsitek sungguhan,” ia
menyeringai.
“Amien...
makasih yah. Oh iya by the way, kamu
sendiri nanti mau jadi apa?”
“Aku
mau jadi pengusaha, Cin. Tapi tetap lihat kondisinya nanti gimana,”
“Pengusaha
apa?” kataku dengan sarat pemikiran yang selalu saja ingin tahu.
“Yaa..
jadi pengusaha apa ajah. Meskipun jadi pengusaha sampah sekalipun. Yang penting
jadi pengusaha...” ia menjelaskan.
“Wow...
bagus juga tuh. Semoga berhasil, ya!”
“Iya,
Cin... makasih... oh iya aku mau masuk kelas dulu yaa... sampai ketemu lagi!”
“Ok
daaaghh...” kataku dengan diiringi senyuman lebar...
17
tahun sudah terlewati, dan kini tibalah saatnya penentuanku. Ambisi yang sudah
tertanam sejak kecil, kini nampak di depan mata. Setelah ujian akhir sekolah
usai, aku langsung mencari informasi tentang dunia arsitektur sebanyak mungkin,
tanpa kenal lelah dan waktu. Tiap malam selalu menatap layar monitor sambil ditemani
alunan musik jazz sebangsa Al Jarreau, Phil Collins, Peter Cetera,
George Duke... sampai Brian McKnight sekalipun! Ayah hanya
memerhatikan tingkahku sambil berpesan, “Ada baiknya kalo kamu juga fokus
dengan jurusan yang lain, siapa tau kamu berubah pikiran,” mendengar itu aku
hanya tersenyum, menyetujui perkataannya.
Tiga
hari setelah itu, aku dipanggil oleh guru konseling ke ruangan BP karena
mendapat beberapa panggilan dari 3 universitas swasta yang bergengsi. Semua
guru yang ada di ruangan tersebut begitu antusias mendengarnya, sedangkan aku
sendiri tak tahu mengapa namaku tercantum di dalam 3 amplop putih itu. “Perasaan... aku belum pernah mendaftarkan
diri ke universitas manapun, deh. Tapi
kenapa malah aku yang dapet panggilan?” benakku sambil mengernyitkan dahi
di ruang konseling. Mau tidak mau aku hanya mengiyakan nasihat dari
guru-guruku, dan membawa seluruh amplop ini pulang ke rumah.
Sekolah
Tinggi Manajemen Transport TRISAKTI, Logistik.
Universitas
Gunadarma, Psikologi.
Dan
yang terakhir...
Institut
Sains & Teknologi Nasional (ISTN), Teknik : Arsitektur.
Tiga
amplop itu ku buka lebar-lebar diatas meja belajar. Logistik... berarti kalo jadi pramugari, aku harus rela ninggalin
keluarga saat bertugas. Psikologi... dulu Ibu pernah bilang kalo jadi psikolog
itu gak mudah. Gimana kalo aku ambil ISTN aja? Arsitektur kan’ impianku. Tapi
masa’ langsung nyerah gitu aja sama keadaan. Kenapa gak nyoba universitas
negeri dulu? Kenapa? Kenapa??
Kemudian
ku tutup semua amplop dengan menunggu informasi baru esok hari.
Sekitar
pukul dua belas siang, Adam - teman belajarku yang juga menyandang status Ketua
OSIS itu sedang memegangi map berisi formulir dan sejumlah legalisir ijazah.
Dia menghampiriku sambil menawarkan formulir.
“Cin,
ikutan yok. Barusan gue dapet formulir PMDK dari IPB... Gue pengen masuk sana
ah,” katanya sambil sibuk mengisi formulir.
“Hah,
IPB? Kok bisa? Emang kamu mau masuk jurusan apa, Dam?” kataku menyelidik.
“Gue
mao masuk jurusan Gizi. Disini bisa ngisi jurusan buat S1 sama D3 dalam satu
formulir,”
“Aku
sih sebenernya mau ajah, Dam. Tapi kan’ kamu tau ayahku orangnya kayak gimana.
Mana mungkin aku dibolehin kuliah jauh-jauh di Bogor? Di Jakarta aja aku masih
bingung mau masuk mana...”
“Yah,
kalo masalahnya gitu mah gue angkat tangan dah. Tapi daripada kuliah di tempat
yang lebih jauh, kan’ masih mending di IPB. Coba deh diomongin dulu sama
bokap...” tuturnya.
“Iya
deh, aku pikir-pikir dulu. Makasih, Dam...”
Setelah
itu kusimpan penawaran formulir itu ke dalam tas ransel. Sepanjang perjalanan
pulang dari sekolah, aku merenung. Kira-kira
apa yaa pendapatnya Bapak kalo tau aku mau daftar di IPB? Dimarahin gak
kira-kira. Tapi katanya si Adam tuh bener juga. Daripada aku kuliah lebih jauh
lagi, yang ada nanti Bapak malah susah ngontrol keadaanku. Ah, nanti nyoba
nyari universitas negeri di Jakarta dulu deh...
Malam
harinya aku masih menunggu ayahku pulang dari kantor. Akhirnya, suara mobil
sedan keren milik Ayah terdengar riuh dibalik jendela kamarku. Yeah, it’s show time. Aku tahu Ayah
pasti sangat lelah karena habis meeting,
jadi aku pun tidak terlalu tergesa-gesa untuk segera membahas lembaran masa
depan itu.
Tapi,
bukan Ayahku namanya kalau tidak bertanya tentang keadaanku hari ini.
“Gimana,
Nduk. Kamu udah dapet informasi
darimana aja tadi siang? Bapak mau liat sejauh mana perkembanganmu tadi...”
“Hmm...
Tya dapet satu formulir lagi, Pak. Tapi jangan kaget, yah. Ini dari IPB,”
kataku mencoba setenang mungkin sambil mengaduk secangkir teh hangat.
“Dari
IPB? Jauh amat? Nanti kamu tinggal sama siapa kalo kamu kuliah disana, hah?
Kamu kan’ gak mungkin pulang pergi tiap hari kalo lagi kuliah...”
“Hmm...
Bapak akan ngasih izin Tya nggak, kalo Tya belajar nge-kost?” kataku polos.
“Emangnya
kamu bisa? Kenapa kamu gak tinggal di rumahnya Bude’ Bambang ajah? Kamu takut ngerepotin ya, kalo tinggal disana?”
... dan firasat beliau memang selalu
benar.
“Hehehe...
inggih, Pak. Lagian, daripada Tya
mesti kuliah ke Bandung, pasti Bapak gak bakalan ridho, kan?”
“Ya
sudah, coba liat dulu, ada jurusan apa aja disana. Teknik Arsitektur-nya ada
nggak?” tutur beliau. Kataku dalam hati : Yeeeesss!
Akhirnya Bapak ngasih izin juga!
“S1
Arsitektur Lansekap. Menurut Bapak, jurusan lain yang bagus tuh apa yah?”
“Hmm.
Disini ada jurusan Agribisnis. Kamu pilih itu aja. Kalo D3, lebih baik kamu isi
dengan jurusan Manajemen Agribisnis. Prediksi untuk 5 tahun ke depan, kamu akan
dibutuhkan banyak orang nantinya,” kata Ayah dengan segudang ilmu ekonominya.
“Agribisnis?
Tapi Tya belum tau banyak hal mengenai itu, Pak...”
“Kalo
gitu kamu cari tau dulu, sementara nunggu kamu masih mau daftar di UI dan
UNJ...”
“Nggih,
Pak...”
Dari
percakapan yang demokratis itulah, aku mulai mencari literatur di situs
internet dan membuka pikiran pada jurusan yang namanya Agribisnis itu.
Agribusiness,
Bogor Agricultural University.
Jurusan
yang aneh. Mendengarnya saja pun aku tidak pernah. Tapi berhasil membuatku
penasaran. Setidaknya masih berkaitan dengan dunia bisnis, barangkali. Sejenak
kulupakan arsitektur dan berputar 180 derajat untuk menggeluti bisnis pertanian
tersebut. Terus terang, mendengar kata IPB saja aku sudah merinding. Karena
selain keberadaannya cukup jauh, aku juga akan belajar hidup mandiri tanpa ada
pengawasan dari orang tua. Dan, dunia pertanian itu tidak pernah melintasi
pemikiranku selama aku hidup. Jadi, bagaimana aku bisa menguasai bidang tersebut,
kalau aku tidak pernah tahu.
Setelah
sekian lama mencari, perhatianku teralihkan pada beberapa kasus mengenai
pertanian yang terjadi di Indonesia, dan ini kenyataannya :
1.
Petani
itu selalu hidup prihatin, meskipun mereka memiliki lahan yang kaya.
2. Jika
mereka sedang gagal panen, mereka terpaksa hidup sementara dengan menyantap
sepiring nasi per hari. Bagi mereka, kebutuhan keluarga & anak-anak adalah
prioritas utama.
3. Petani
kaya memang ada, tapi petani miskin lebih banyak jumlahnya.
4. Kita
sebagai orang awam hanya mengerti bila ingin memasak nasi, kita harus membeli
dan mengolah beras.
Tapi untuk menjaga kualitas, mereka benar-benar
mempertahankan.
5. Terkadang
keberadaan petani di Indonesia kurang dihargai. Padahal, tanpa usaha mereka
untuk mengolah lahan, kita belum tentu bisa makan nasi.
Bergidik bulu roma ku.
Kok
bisa ya? Apalagi pada saat kuperhatikan foto-foto dan sejumlah
peristiwa mengerikan pada para petani di negara kita. Sungguh ironis memang,
dan ini bukan sekedar bicara. Apakah ini pertanda
bahwa aku mulai tertarik dengan dunia yang baru ini, dan menganggapnya sebagai
rencana kedua?
Aku mencoba pahami hal
itu, dengan perasaan yang tak karuan.
Seminggu kemudian...
Kulihat Adam dan
teman-temanku sedang berlari kegirangan seraya berteriak padaku :
“Cin! Lo diterima di
IPB! Jurusan Manajemen Agribisnis! Noh kalo gak percaya liat aja di mading
deket ruangan BP... Gue juga keterima disana... Jurusan Gizi D3!!!” katanya
sambil tak mempedulikan kami yang lagi melongo sedari tadi.
“Ah yang bener, Dam?!
Trus siapa lagi yang keterima?!” kataku menegang.
“Banyak kok, si Dhama
juga dapet di Teknik Lingkungan... Makanya buruan liat gih,”
Lalu ada seorang
temanku yang membawa secarik kertas pengumuman dan berdiri di depan kelas. Membacakan
isinya. Ternyata namaku juga disebutkan, dan seketika itu juga teman-teman
memelukku. Tapi aku justru berpaling dan meninggalkan kelas, dengan keraguan
yang memuncak...
Sesampainya di rumah,
aku menyerahkan berkas penerimaan mahasiswa IPB pada ayahku. Kami berdua
tenggelam dalam hening malam itu --- di antara rasa syukur dan keputusan yang
harus ku ambil. Aku memandangi 2 amplop diatas meja makan, dengan perasaan
tertekan. Arsitektur ISTN, atau Manajemen Agribisnis IPB. Ayah pasti tahu betul
seberapa besarnya guncangan yang kurasakan sekarang. Oleh karenanya beliau
hanya menepuk pundakku dan berkata :
“Sekarang kamu minta
petunjuk sama Allah. Ini masa depanmu. Kemarin kamu udah nolak masuk UI demi
meringankan Bapak biar gak bayar terlalu mahal. Tapi kalo menurut Bapak,
usahakan pilih negeri, sebelum ke swasta...”
“Nggih, Pak. Tya mau shalat istikharah dulu...”
***
“Ya Rabb... bagaimana caranya agar aku
bisa memutuskan. Aku sangat membutuhkan keduanya. Jika takdirku sudah kau
tentukan dengan impian yang ku tanam sampai hari ini, maka teguhkanlah hati dan
pilihanku. Namun bila impianku bukan yang terbaik bagimu, maka permudahlah aku
untuk melepasnya...”
“Ya Rabb... aku tahu, ambisiku memenuhi
apa yang kau kehendaki. Namun salahkah bila kusesali sejenak, segala usaha yang
telah ku gapai dengan semangatku. Kini aku hanya berusaha mengartikan dan
mengobati. Tapi percayalah, sekuat apapun petunjuk yang kau beri, ku jalani
meski jalannya berliku dan terjal...”
“Ya Rabb... jikalau kebahagiaanku kau
letakkan pada jalan yang lain, maka jadikanlah itu sebagai sumber kebahagiaanku
yang sejati. Kau Maha Tahu, aku juga menanggung harapan dari keluarga dan
banyak orang. Jangan sampai pilihanku membuat semua orang bersedih, hanya
karena ku tak mampu melaluinya. Izinkanlah aku menyelesaikan semua urusanku,
sebelum aku siap menghadapi kenyataannya...”
Air mataku telah
membasahi sujudku. Lama sekali ku meminta. Ketika sudah merasa cukup tenang,
aku mulai bangkit dan berjalan menuju meja makan. Kemudian, amplop impianku segera
kusingkirkan dan hanya menyodorkan amplop yang berisi ucapan selamat tersebut
pada ayahku.
“Pak, Tya udah bertekad
untuk milih IPB aja. Nanti Tya pelajari lagi ilmunya, abis itu Tya nerusin
ekstensi aja ke S1...” lirihku dengan mata yang sembab.
“Ya udah kalo gitu,
kalo memang jalanmu disitu, dijalani aja gapapa. Toh Bapak masih punya rezeki
buat nerusin kamu ke S1. Gapapa, Nduk...”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekarang aku sudah
menjadi mahasiswi Manajemen Agribisnis IPB. Awalnya memang terasa sulit dan
asing, sehingga banyak waktu kugunakan untuk mengasah rasa keingintahuanku. Ya,
meskipun aku tidak secerdas teman-teman belajarku atau berkutat dengan banyak
buku, setidaknya aku banyak tahu. Aku jadi memahami betapa pertanian di
Indonesia seharusnya lebih diutamakan dibandingkan nilai sebuah pembangunan. Untuk
apa kita hidup serba mewah, tapi ketahanan pangannya mulai mengikis. Untuk apa
pemerintah begitu lelah membangun jalan tol sedemikian luasnya, kalau rakyatnya
sendiri masih kesulitan mencari kesejahteraan hidup. Sekarang, penilaian yang
diberikan oleh negara lain terhadap keberhasilan negara kita bukan dilihat dari
megahnya gedung-gedung bertingkat, media transportasi yang memadai, atau
teknologi yang menembus pasar internasional. Tapi, sejauh mana negara kita
berdedikasi terhadap kebutuhan hidup rakyat sehari-hari dan bagaimana cara
pemerintah untuk mendidik agar rakyat bisa memiliki penghasilan lebih. Semua
hal yang besar itu selalu dimulai dari hal-hal kecil. Kalau yang diperhatikan
hanyalah yang tampak secara kasat mata saja, aku yakin hasilnya tidak akan
sesuai dengan yang diharapkan. Pada saat hasilnya tidak bagus, akibat yang
dirasakan pun memengaruhi faktor yang lain. Contohnya? Korupsi.
Dari semua cerita diatas, aku hanya ingin menguatkan argumen bahwa banyak sekali orang yang mengalami hal sepertiku. Mungkin kami sebagai pelajar hanya mengikuti, walau terkadang mengikuti pelajaran dengan perasaan setengah hati. Seiring berjalannya waktu, yang selalu kupikirkan setiap hari adalah apa kontribusiku setelah lulus kuliah dan memegang gelar, apakah bergerak menjadi seorang perintis, eksekutif muda, atau memilih bekerja sebagai pegawai kantor biasa.
Lalu, aku jadi teringat
perkataan temanku Amy saat masih sekolah dulu. Ternyata impiannya sudah menjadi
jalan impian baruku. Dia sendiri justru masuk Fakultas Kehutanan UGM. Kemudian,
Adam sudah menggeluti profesinya untuk menjadi calon koki handal di perhotelan.
Yang terakhir, Shanti, teman belajarku yang berkacamata dengan rambut ikalnya
bak bercita-cita menjadi seorang dokter, kini mengambil jurusan Arsitektur
Interior UI. Tapi ada satu hal terpenting yang selalu kuingat dari perkataan
adikku sendiri :
“Mbak, kalo emang Mbak
udah gak bisa jadi arsitek, biar gue aja yang nerusin. Gue kan’ cowok. Ntar
kalo misalnya gue mau bikin proyek, kita kerja sama aja. Mbak yang ngasih dana,
gue yang bikinin rumahnya,” katanya dengan yakin. Padahal aku sendiri tidak yakin apakah dia mau meneruskan, karena dia
masih labil. Tapi, idenya bisa dikatakan cukup brilian.
......................................................................................................................................................
Kini aku sadar betul, semua
proses yang terjadi secara tidak sengaja itu akhirnya mengubah kepribadianku. Kalau
saja aku ditakdirkan menjadi seorang arsitek, pasti aku akan mengalami
kesulitan dalam bersosialisasi atau memandang permasalahan dari berbagai aspek,
karena yang ku tahu hanyalah sejumlah penggaris besar dengan banyak bentuk, gulungan
kertas denah yang berserakan, dengan gaya hidup yang monoton dan serba kaku.
Memang, semua itu tergantung dari tipikal orang masing-masing. Tapi kalau bagi
perempuan yang mudah bosan sepertiku, jalan tersebut bukanlah keputusan yang
tepat.
Kedua, hal yang sering
terlihat adalah caraku menjaga penampilan. Kali ini aku sudah bisa menjadi
desainer untuk diriku sendiri. Dulu, aku bukanlah perempuan yang menyukai dunia
mode. Jadul abis, kata temanku. Yah, setidaknya aku sudah berusaha
menjaga dengan menggunakan pakaian yang pantas. Tapi kerap kali ku bertanya
apakah pakaian yang kukenakan hari ini sudah layak atau belum, salah seorang
temanku, Lisna --- hanya berucap, “Engga kok, Cinin pantes-pantes ajah kalo
make baju. Aku sih seneng aja ngeliatnya,” ........... ckckck, padahal aku sendiri bingung dengan baju yang kukenakan.
Ketiga, meski
cita-citaku masih bertengger untuk menjadi pengusaha dan penulis terkenal, aku
masih punya harapan untuk bisa bermain-main di lahan perkebunan yang luas ---
bercengkrama dengan petani kebun seraya menunggangi kuda putihku. Bahkan, aku
masih memiliki keinginan terakhir untuk bisa menjadi seorang arsitek.
Ya,
menjadi arsitek untuk membangun rumah impianku sendiri suatu saat nanti.
---
......................................................................................................................................................
Sekarang, aku menemukan
banyak pendapat dari orang-orang terdekatku. Bahkan, aku jadi merasa geli sendiri
saat mendengarnya, yang kuanggap bahwa hal itu sangat lucu. Coba kita simak :
“Cin... kamu tuh
mendingan jadi pemerintah aja, deh. Udah pantes tadi gayamu pas berdebat kalo
jadi menteri. Ibu dukung deh kalo kamu jadi menteri,” kata Bu Siti Masithoh,
selaku dosen Sosiologi Industri IPB, yang pada saat itu bersalaman denganku
ketika pulang kuliah.
“Hehehe... amien, Bu.
Tapi saya gak mau jadi pemerintah deh, takut gak bisa megang amanah, Bu. Lagian,
jadi pemerintah itu susah, gak segampang yang kita pikirin...” kataku sambil
tersenyum kecut.
“Hahaha... tapi Ibu
ngerasa kalo kamu tuh cocok, Cin... pokoknya jadi pemerintah itu harus
bijaksana,” kata beliau tertawa.
“Hahaha... semoga aja
bener yah, Bu...”
Baiklah, kali ini giliran para
sahabatku Febri dan Ria yang mengutarakan pendapat saat kami masih duduk di
bangku SMA :
“Cin, lo tau gak sih?
Menurut gue, lo tuh gak cocok jadi arsitek. Lo tuh pantesnya jadi pejabat,
pengacara, hakim... atau apalah namanya gue gak tau... pokoknya yang suka
ngehakimin orang deh,” kata Ria mencelos.
“Eh buset?! Sadis bener
dong aku kalo jadi hakim... mendingan gausah aja sekalian,” kataku tertawa
geli.
“Heh Ria, lo tuh kalo
ngomong jangan asal nyeplos aja woooy. Yaudah sih kalo Cinin maunya jadi
arsitek. Emang maunya dia kaya gitu. Trus apa urusannya sama lo?” kata Febri
berkomentar, seakan ingin adu argumen dengan si Ria.
“Yaaaa... okeeee...
tapi itu menurut gue yaaah. Secara gitu Cin, gue akui lo emang jago ngomong. Hehehe...”
katanya sambil mengangkat bahu.
“Udah, Nin... si Ria
mah gausah didengerin,” kata Febri.
“Hahaha... gatau dah.
Liat ntar aja deh! Hehehe...”
*Nah, kalau yang ini, pendapat dari
tukang bakso langgananku saat masih kecil :
“Pak
Roni... masih inget sama saya, ‘ndak?
Hehehe... kalo boleh, saya mau pesen bakso dua bungkus,” kataku dengan ceria,
dan wajahnya langsung cerah karena melihatku sudah sebesar ini.
“Lhoooo?!
Ini beneran Mbak Tya?! Ya Allah Mbak... saya pangling’ ngeliatnya... opo
kabare’, Mbak??!!...” katanya tersentak kaget seakan tak percaya, tertawa
seraya bersalaman denganku.
“Hahaha...
alhamdulillah baik, Pak Roni... wah, baksonya makin laris aja, nggih...”
“Inggih, Mbak... oh inggih, saya kok ‘ndak
pernah ngeliat Mbak Tya yah... tau-tau udah gede ajah. Sekolah dimana sekarang
Mbak??” ... dan kuperhatikan tangannya
tidak menuangkan saus pada bakso pesananku. Berarti dia masih ingat betul
kesukaanku.
“Dalem sekarang kuliah di Bogor, Pak... hehehe...”
“Wah, berarti kuliah di IPB nggih Mbak? Wiiih keren lho Mbak, anak saya aja susah mau masuk
situ,” tuturnya.
“Mboten ngertos, nggih. Mungkin rezekinya aja Pak, lagi dapet
disitu... hehehe...” kataku.
“Tapi saya bangga Mbak
jadinya. Yah pokoknya saya do’aken’
mugi-mugi Mbak bisa jadi pejabat... jadi menteri... biar bisa nyelametin
hidup orang-orang kayak saya, Mbak...”
“Nggih, Pak... maturnuwun...
insya’Allah,” kataku sambil membayar dua bungkus bakso itu. Kuhampiri Ayah yang
sedang menunggu di dalam mobil, dan melambaikan tangan pada tukang bakso
kesayanganku itu.
...... Saudara-saudara, inilah
bagian paling akhir. Kebetulan, sekitar hari Kamis malam pekan lalu : aku
bertemu dengan tukang satai ayam langgananku di daerah Pondok Ranggon, Jakarta
Timur. Seperti biasa, Ayah selalu menunggu di dalam mobil dan mengawasiku
dibalik jendela kaca :
“Bang Heri... apa kabarnya, Bang? Saya mau pesen
sate ayam 20 tusuk yah! Hehehe...” kataku dengan berlari-lari kecil.
“Eh, ada Mbak Tya toh ternyata... hehehe... tumben
nih baru keliatan, kemana aja Mbak? Trus kesini sama siapa??” katanya dengan
senyum sumringah.
“Noh, sama Bapak. Hehehe... iya neh Bang, ini aja
baru pulang dari terminal. Lagi kepengen sate aja nih,”
“Oh hehehe... kirain sama siapa Mbak. Biasanya kan’
Mas Jodi yang suka beli sate. Lah kok dari terminal? Emang sekarang kuliah
dimana, Mbak Tya? Kemaren saya tanyain noh Mas Jodi-nya, kakaknya sekarang
dimana, eh... cuman nyahut dikit...” katanya berceloteh.
“Hahaha... oh gituu Bang... iya soalnya saya kan di
Bogor sekarang. Jadi pulangnya agak jarang,”
“Hmm... pantes. Katanya Mas Jodi, kuliah di IPB ya
Mbak?”
“Iya, Bang...”
“Enak dong, bisa protes ke Istana Bogor. Emang Mbak
gak ikutan demo, kan’ bentar lagi BBM naek,”
“Ckckck, si Abang. Saya tuh ke Bogor bukan buat
ikutan demo kayak begituan, Bang. Saya tuh mao nuntut ilmu. Boro-boro mau
protes, belajarnya aja masih belum bener,” kataku sambil memainkan pisau satai.
“Yeee... Mbak Tya mah. Kan’ jadi mahasiswa itu
bukannya harus kritis, Mbak? Tapi ada benernya juga sih Mbak... kita kan’
kuliah buat ngebanggain orang tua yah. Kalo saya mah terus terang agak beban
gara-gara denger BBM naek. Mana UMR-nya gak naik-naik...”
“Hehehe... yaudahlah Bang. Saya sendiri juga bingung
mesti gimana. Ya kalo emang itu keputusan yang terbaik, asalkan utang negaranya
bisa beneran ke tutup, saya ngedukung aja deh,”
“Hehehe... makanya Mbak, belajarnya yang rajin yak,
biar bisa jadi orang DPR. Noh coba aja liat pemerintahan sekarang, kerjaannya
korupsi mulu...”
“Iyee aja deh Bang, amien...” ---
Hahaha... well, sejauh ini sih kelihatannya masih lucu untuk direnungkan. Tapi aku masih
menunggu pendapat lain yang akan muncul setelah ini. Apakah sebaiknya aku
beralih mimpi menjadi seorang pejabat suatu saat nanti? Who knows? ***
