Vienna
Vienna
# Dekat di Hati - RAN
Dulu, sewaktu saya
masih kuliah... saya mengikuti study tour ke Jogja dan seperti biasa, seusai
kegiatan pembuatan proposal akhirnya saya memutuskan untuk mencari cinderamata
agar bisa dibawa pulang ke rumah. Sebelumnya saya sudah mengunjungi Pekalongan
dan pegunungan Dieng, tapi cinderamata disana lebih banyak baju-baju batik dan
sweater tebal beserta scarf khas pegunungan. Dan saya sudah bosan setiap kali
bepergian jauh pasti selalu membeli barang-barang itu lagi, hehehe.
Setelah saya tiba
di Jogja untuk yang “ketiga kalinya di dalam hidup”, saya bersama beberapa
teman cowok memilih terjun untuk berjalan-jalan di sepanjang pinggiran kota,
sibuk melihat-lihat banyaknya pedagang kaki lima yang mahir memasarkan
dagangannya yang serba klasik dan antik itu. Kalau bukan dompet batik,
kacamata, kaos – kaos dagadu, pernak-pernik, biasanya tas jinjing atau tas
ransel ala backpacker dengan banyak motif. Saya biarkan teman-teman bersuka ria
membeli, sementara saya bersama dengan Ahmad memilih jalur lain di sela-sela
parkiran becak. Sahabat saya yang asli keturunan Pakistan ini, punya kegemaran
yang sama dengan saya, sukanya berburu ukiran dan miniatur. Tapi yang namanya
beli oleh-oleh kan’ mesti cerdas yah, soalnya kalau keburu senang duluan, mau
semahal apapun pasti harus dibeli. Padahal masih banyak yang lucu-lucu buat
dibeli. Untungnya saya bukan cewek yang rumit, jadi kalau sudah membeli satu
barang yang disukai, biasanya tidak akan membeli apa-apa lagi.
Tapi sekalinya beli, yang lumayan mahal harganya.
Hahaha... *sama saja dong yah kalau begitu*
Nah, kebetulan
saat itu saya mampir ke salah satu toko ukiran kayu.
Tapi yang menarik
di mata saya adalah, semua barang yang dijual disitu kebanyakan alat musik.
Biasanya kita lebih sering menemukan ukiran kayu berbentuk becak misalnya, atau
motor-motoran, mobil-mobilan... sepeda tua dengan lampu dan lonceng, dsb.
Sebenarnya saya agak lama berada disana, hampir 1 jam lebih, karena mata saya tidak
bisa pergi kemana-mana. Ahmad mulai mengurungkan niatnya untuk membeli miniatur
karena harganya serba mahal, tapi itu tidak membuat saya ikut terpengaruh.
Malah tambah semangat 45’, jadinya. Dengan sisa uang seratus ribu di saku
celana, dengan modal nekat, saya rogoh secepatnya dan mulai menanyakan kepada
penjualnya kira-kira disini ada miniatur biola atau tidak. Entah kenapa yang
saya tanyakan adalah biola, bukan piano atau gitar yang terpampang diatas meja
display.
Dan memang
miniatur biola itu ditakdirkan untuk saya.
Tinggal satu
soalnya, dan dijual hanya beberapa buah, kata penjualnya.
Berhubung harganya
sekitar Rp40000, akhirnya saya beli tanpa ditawar, padahal biasanya skill
berbahasa Jawa-nya sering kupakai waktu mau beli barang beginian, hahaha...
Untuk kali ini sepertinya lebih baik tidak usah
ditawar, kasihan penjualnya sudah tua renta juga. Lagipula ini sudah menjelang
sore... jadi saya dan Ahmad segera kembali ke penginapan.
Malam harinya,
kami berenam [red : para cowok] pergi jalan-jalan buat menelusuri jalan besar
untuk makan-makan di lesehan pinggir jalan. Kenapa harus sama cowok-cowok?
Soalnya kalau pergi bareng mereka tuh seru, bawaannya ketawa-ketawa terus...
dan pastinya ada yang jagain saya, hahaha. Tapi saya masih kepikiran sama
miniatur biola tadi. Bukannya fokus makan, eh malah justru melamun. Jadi sepanjang makan malam itu yah
kebayangnya cuma biola.
Biola, ohhh
biolaaa...
Sesampainya di
penginapan, sebetulnya saya tidak bisa tidur gara-gara masih memandangi
miniatur biola. ‘Kira-kira bentuk aslinya biola,
kayak gimana sih?’ benak saya dalam hati waktu itu. Harusnya saya tidak
boleh berlama-lama di dalam rasa penasaran ini, masalahnya kalau terus-menerus
dipikir, bisa-bisa saya begadang. Kan’ gak lucu
kalo besok pagi matanya jadi mata panda...
Sejak saat itu,
sampai sekarang, saya jadi suka sama biola.
***
Apapun yang
bentuknya biola, saya suka. Termasuk musik-musik yang ada unsur biolanya.
Kalau selera musik sih saya lebih suka smooth jazz...
dance funk... RnB atau classic rock era 80’an...
Dan, di tahun segitu mana ada kombinasi antara musik
dance dengan musik klasik. Jadi kesannya kalau mendengarkan musik klasik itu
vintage... jadul... seleranya persis orang tua. Waktu masih kecil agaknya saya
masih antipati mendengarkan musik itu. Tapi setelah membeli miniatur biola
akhirnya saya jadi berpikir. Mungkin tidak yah, saya harus beli biola yang
asli?
Publik akan
memiliki persepsi bahwa biola itu langka dimainkan oleh orang-orang pada
umumnya, biasanya kalau bukan main gitar, yah mungkin main piano di rumah.
Bermain biola itu identik dengan guru privat khusus yang mengajarkan kita,
tidak sembarangan main gesek-gesekan. Pemain biola juga dominan berada dalam
grup-grup orkes musik, mainnya cuma iringan melodi saja, bukan inti dari unsur
musik. Dan, ada juga yang bilang kalau main biola itu punya tingkat kesukaran
yang tinggi, entah kenapa bisa dibilang memiliki “tingkat kesukaran yang
tinggi” itu seperti apa maksudnya. Sudah sukar, tinggi pula.
Sampai akhirnya
saya punya ide gila. Bagaimana kalau menabung dulu? Bagaimana kita bisa tahu
kalau biola itu sukar jika kita belum punya biolanya. Bagaimana kita bisa
menjawab semua pertanyaan dan asumsi semua orang kalau kita sendiri, belum
pernah mencoba.
Saya itu orangnya
straight-ahead, kalau punya kemauan biasanya langsung dikejar.
Tapi dengan pertimbangan yang matang dong pastinya,
hehehe. Rata-rata harga biola itu diatas 1 juta, itupun berlaku untuk kualitas
biola yang paling rendah. Sedangkan saya, mana punya uang? Penghasilan di
kantor waktu itu belum cukup, dan sisa tabungannya hanya buat jajan sewaktu
kuliah. Saya juga tidak terbiasa meminta uang sama Bapak, padahal saya tahu
bahwa beliau pasti mau membelikan semahal apapun itu, tapi saya sungkan
terlebih lagi untuk sesuatu yang harus diminta. Apalagi setelah saya
ditertawakan oleh teman-teman dan bahkan adik saya sendiri.
Sungguh penghinaan yang luar binasa memang, hahaha...
Oke
fine, aku akan beli biola kalo begitu. Tunggu aja tanggal mainnya.
Akhirnya saya
bertekad buat beli biola dengan uang sendiri, entahlah itu didapatkan darimana.
Setelah saya pikir-pikir di kamar... and raise-my-shoulders-as-usually,
hahaha... saya putuskan sebaiknya tidak perlu banyak bicara sama orang-orang
kalau saya diam-diam sebetulnya sedang menabung buat beli biola. Saya agak
sedih juga karena belum mendapatkan pekerjaan lagi setelah lepas dari kantor
sebelumnya, tapi saya merasa tidak apa-apa. Saya pasti bisa mendapatkan uang tanpa
harus bekerja sekarang. Dimulai dari simpanan uang di bank pemberian Eyang
tahun lalu, juga sering ikut teman jalan-jalan kalau ada project, kalau dikasih
uang bonus dari Bapak langsung disimpan di dompet, dikasih uang sama Tante
langsung bilang “Makasih banyak, Tante!”
terus uangnya langsung dimasukkan ke saku celana... kalau diminta menyanyi atau
sekedar bantu-bantu pembukaan acara keluarga sama kakak sepupu juga sering
dikasih uang jajan, padahal bukan buat jajan.
Masih ada lagi
godaannya, yaitu... persediaan make-up saya ada yang habis. Masa iya sih sudah
capek-capek menabung dan ujung-ujungnya buat beli make-up. Okelah, lebih
prioritas mana, beli biola atau beli make-up. Cewek mana sih yang tahan buat
beli make-up? Perawatan wajah itu perlu, meskipun dilakukan sendiri di rumah...
Huh.
***
Sekian lama
menabung, akhirnya terkumpul juga uangnya di dompet. Tugas saya yang kedua
adalah, mencari toko alat musik yang terdekat dari rumah. Bapak saya itu
orangnya protektif, apalagi saya anak perempuan yang sering pergi kemana-mana
sendirian. Otomatis saya harus mengajak dua orang teman yang rumahnya juga
tetanggaan dengan saya. Untungnya mereka sedang tidak sibuk.
Kami bertiga
berangkat tgl. 9 Agustus 2014, tanggalnya masih saya ingat. Dengan berbekal
uang dan pengetahuan jalur-jalur naik angkot, kami pergi dari satu tempat ke
tempat yang lain untuk mencari biola yang cocok dengan budget yang saya bawa.
Ada satu toko alat musik terakhir yang kami datangi, dan disitulah saya
mendapatkan biola pertama saya. Sebenarnya saya mencari biola putih dengan
merek Karl Steinhoff 4/4, kualitasnya bagus menurut saya tapi harus dipesan
jauh-jauh hari. Kemudian saya ditawarkan biola coklat merek Vienna 4/4 untuk
pemula, dan saya membelinya meskipun tak sebagus Steiner 4/4 atau Skylark 4/4.
Saya pikir, dengan
membeli biola dan bow-violin, itu sudah cukup.
Kenyataannya
tidak, pemirsa.
Saya harus
melengkapinya dengan penunjang. Harus beli rosin biola, beli violin strings
cadangan, beli alat tuning dan baterai, shoulder-rest, serta violin case-nya.
Selain banyak, harganya juga mahal. Untung harga biolanya masih bisa ditawar,
hehehe.
Teman-teman saya
tetap memberi semangat dan masukan. Katanya, main biola itu keren.
Tidak semua orang bisa memainkan biola. Mungkin itu
yang menyebabkan orang-orang jarang punya hobi main biola. Saya benar-benar
memulai semuanya dari nol. Karena tidak ada yang bisa mengajari saya main
biola, kecuali saya punya kocek uang yang dalam, dan les privat di tempat
tertentu.
Sesampainya di
rumah, saya dan teman-teman bicara sedikit di ruang tamu. Mereka juga punya
kenalan yang bisa main biola, tapi karena lokasinya jauh, saya terpaksa menolak
dengan cara halus. Mereka memahami saya bahwa sebenarnya berlatih biola itu
seharusnya tidak sendirian. Tapi entah kenapa saya merasa bahwa untuk saat ini
saya bisa dan saya sangat yakin untuk bisa walaupun harus latihan sendiri.
Setelah kami asyik ngobrol-ngobrol, akhirnya mereka pamit pulang.
Bapak dan adik
saya terheran-heran sewaktu melihat saya dengan PD-nya menjinjing tas biola.
Mungkin beliau berpikir... agaknya anak ini benar-benar serius. Raut wajah saya
tak seterang sekarang. Saya tahu konsekuensinya, dan pastinya berat karena saya
mencoba berlatih sendiri. Saya pun mengabaikan bagaimana rasa sulitnya kalau
sewaktu-waktu saya gampang lelah karena berlatih dan tidak disemangati oleh
siapapun.
Tidak ada guru
les, tidak ada buku-buku panduan, tidak apa-apa.
***
Di kamar.
Saya sempat mendengar
suara-suara ledekan adik saya, mungkin hanya bercanda.
Sebelum membeli
biola, saya sudah mencari tahu seputar biola di internet, bagaimana cara
setting-up dan memainkannya. Tapi yang ada di genggaman saya sekarang yaitu
senar bow yang longgar, dan tidak ada bunyinya ketika digesek ke senar biola.
Muka saya merah padam sewaktu adik menertawakan tingkah lugu kakaknya, bukannya
dibantu malah diketawain. Saya pun menggeseknya bukan di depan batas senar,
malah di belakang batas senar.
“Jangan
main di belakang panggung, Mbak! HAHAHAHA.”
Sialan.
Belum tahu dia,
kakaknya punya bogem mentah.
Saya diam saja
sewaktu mencari-cari cara bagaimana supaya senar bow ini bisa dikencangkan. Bapak
saya ikut membantu, dan itu makin membuat saya malu. Setelah ketemu, saya
kencangkan, tapi sewaktu digesek, masih belum bunyi-bunyi juga. Apa mungkin
jenis senarnya yang kurang bagus, apa karena masih baru, atau bagaimana. Saya
bergegas mencari pertapaan ke internet, ternyata senar bow itu harus diasah
dulu dengan menggunakan rosin. Oh, pantas rosinnya berbentuk kristal.
Setelah diasah
dengan kesabaran karena sejak tadi belum main-main juga, saya mencoba
menggeseknya tapi suaranya jadi sakit didengar di telinga. Lengkingannya tidak
bisa halus... kemudian saya mencoba menggesek ke tahap yang lebih pelan...
lebih ringan tekanan senarnya. Agak mendingan. Sampai-sampai Bapak saya pasang
“warning” ke adik untuk tutup telinga kalau saya lagi latihan. Kadang-kadang,
benturan dari senar satu ke senar yang lain seringkali sumbang didengar, belum
lagi saya harus belajar menyeimbangkan diri dengan keberadaan biola diatas
pundak saya.
Main sepuluh menit
saja rasanya sudah bikin pegal-pegal di pundak. Tangan-tangan pun juga.
Jari-jari tangan kiri bertugas untuk memencet not, dan tangan kanan bertugas
untuk menggesek bow. Jangankan untuk bermain tangga nada, menggesek satu senar
pun saya masih belum bisa. Saya akui, kalau bermain gitar, meskipun nadanya tak
teratur, petikan gitarnya masih enak didengar. Tapi kalau main biola, wah...
jangan harap bisa merdu suaranya hanya dalam sekali main. Secara faktual memang
biola sangat sulit dimainkan, tapi bagi saya, masih sulit memainkan gitar yang
harus menghafal not.
Saya menghela
nafas sejenak dan minum air putih, diam sambil berpikir, sepertinya mulai
sekarang kesabaran saya akan diuji oleh alat musik ini. Tapi ini baru hari
pertama saya belajar dan mengenal biola, dan baru beberapa jam merasakan tubuh
biola yang sesungguhnya.
Never givin’ up.
***
Seminggu ini saya
masih berfokus pada cara menggesek biola yang baik dan benar.
Baik hasilnya, belum tentu caranya benar. Atau benar
caranya, tapi belum tentu kualitas suaranya baik. Saya juga sering buka-buka
Youtube dan melihat seperti apa para violinist bekerja dibalik senar biola.
Tapi kebanyakan memang sangat profesional, nada-nada yang dihasilkan juga
keren. Cara bermainnya benar-benar tak pakai otak, mungkin cuma pakai insting dan
perasaan. Saya belum bisa menggesek secara cepat ibarat kilatan petir begitu.
Do re mi fa sol la si do saja masih sering salah.
Saya mulai bosan
menggesek senar tanpa kemerduan. Paling tidak, sekarang saya belajar setel
kunci (tuning) tanpa menggunakan tuner up. Takutnya kalau nanti baterainya
habis, saya tidak bisa tune-up sendiri. Biasanya pakai itu, tapi sekarang saya
coba pakai perasaan. Perlahan-lahan saya coba juga untuk melepaskan
shoulder-rest di pundak saya, agar terbiasa bermain tanpa shoulder-rest.
Ternyata, setelah dilepaskan, malah makin pegal. Sejak pertama kali sebetulnya
saya tidak suka menggunakan shoulder-rest, bikin ketergantungan dan mengganggu
pergerakan tubuh saya. Dengan tambahan waktu yang semula hanya berlatih 1 jam sehari,
saya tingkatkan menjadi 3 jam.
Tubuh seperti
diforsir harus mengeluarkan keringat karena saya harus bermain sambil berdiri.
Saya ambil positifnya karena seperti olahraga biasa. Daripada saya harus
jogging, naik sepeda di hari Minggu pagi atau main basket seperti dulu, kalau
buat cewek sih mendingan olahraga di kamar. Beberapa minggu ini saya merasakan
perbedaan di lengan, mulai berotot, dan urat nadinya agak kelihatan sedikit.
Padahal saya ini cewek loh, hahaha, cewek tulen...
Setiap hari saya
harus bermain, karena biola sangat berbeda dengan alat musik biasa. Saya pernah
meninggalkannya seharian diatas tempat tidur tanpa dimainkan, besok paginya saya
jadi lupa yang mana tangga nada dasarnya. Jadi, tingkat sensitifitas kita
terhadap alat musik akan berkurang kalau kita tinggalkan. Apalagi yang suaranya
melengking macam begini. Dari biola ini, setidaknya saya harus menghasilkan dua
macam suara indah : melengking begitu kuat, atau lembut penuh getaran. Nah,
untuk menghasilkan suara yang bisa “bergetar dan hidup” di telinga memerlukan
teknik khusus. Saya --- lagi dan lagi, harus belajar sendiri, dibantu
tampilan-tampilan video di Youtube.
Suatu saat saya
dihadapkan oleh situasi yang menjenuhkan. Satu titik dimana saya putus asa.
Selain karena kelelahan, target saya dalam bermain juga belum bisa memuaskan.
Dan saya sendiri mulai meragukan apakah ini akan menjadi bakat yang bisa
menghasilkan uang atau hanya sekedar hobi semata. Sedangkan banyak waktu sudah
saya habiskan untuk bermain biola. Saya hanya merenung di kamar dan tak bisa
bercerita kepada siapa-siapa. Tapi tahukah kalian? Ada suatu barang berharga
yang tiba-tiba mengalihkan pandangan ini.
Miniatur biola itu
menguatkan saya.
Dia-lah yang
berhasil membuat saya membelinya pertama kali tanpa ditawar-tawar, tanpa banyak
sergahan, tanpa kompromi. Di toko ukiran itu, dia memang sudah ditujukan hanya
untuk saya. Dia yang saya beli dengan perjuangan di Jogja. Dulu saya hanya bisa
memandangi dia karena saya belum bisa membeli biola sungguhan. Dulu saya hanya
bisa membayangkan jika suatu saat saya bisa punya biola sendiri dan dapat
memainkannya seperti orang profesional. Dulu saya seperti orang gila yang
menari-nari di dalam kamar hanya untuk membayangkan --- hanya untuk
membayangkan saja. Dia yang memengaruhi saya untuk segera menabung dan gigih
menyisihkan uang sedikit demi sedikit dari manapun jalannya. Dia yang selalu
diam saja tanpa cemburu kala melihat saya sudah memiliki biola asli untuk
dimainkan. Dan ketika saya berhasil mendapatkan biola yang saya inginkan dan
berlatih sudah sejauh ini, lantas menyerah?
Saya sudah hampir
setengah jalan untuk bisa memainkan. Biola adalah bakat saya setelah menguasai
seruling recorder. Saya bukan lagi orang yang penuh tanda tanya mengapa biola
sangat jarang dimainkan oleh orang lain. Kini saya mengerti kenapa orang lain
memilih belajar dengan tutor dibandingkan harus belajar otodidak. Dan kenapa
bermain biola itu harus dimulai dari usia dini. Saya paham kenapa biola itu
memiliki “tingkat kesukaran yang tinggi” seperti apa yang banyak orang lain katakan.
Tapi bukan berarti kita berhenti pada saatnya dan menganggap bahwa itu tak pantas
dicoba. Kita harus bisa memotivasi diri sendiri saat kelelahan, dan untuk itu,
kita harus punya tenaga, pikiran, dan kesabaran ekstra.
***
Saya belum
memiliki pemikiran untuk belajar dengan tutor, saat ini.
Tapi saya masih
berlatih. Dan kalau nanti saya bekerja di kantor lagi, mungkin harus
menggendong biola setiap harinya untuk latihan sendiri, supaya di waktu weekend
dapat berlatih seharian bersama tutor. Belum ada sepertinya, cewek nekat yang
mau bawa-bawa biola di kantor, dan itu adalah saya. Itu baru keinginan, sih. Beberapa
bulan yang lalu sewaktu saya diwawancarai oleh interview user di sebuah program
pertelevisian, saya ditanya oleh beliau kenapa tidak membawa biola. Sayangnya
saya tidak bawa, dan kalau misalnya bawa, mungkin saya sudah diterima bekerja
disana. Hahaha...
Bapak dan adik
saya sering geleng-geleng kepala kalau lagi melihat saya bermain secara
langsung, dengan mata kepala sendiri. Teman-teman juga agaknya mendukung, malah
mau belajar juga katanya. Sebenarnya saya tidak mau pamer, tapi kadang-kadang,
orang lain sering melecehkan karena kita tidak memiliki skill yang
mencengangkan. Saya tidak mau dilihat hanya dari segi fisik, sikap, dan
akademis. Pihak keluarga pun sering kaget-kagetan kalau dapat kabar jika saya
hobi main biola. Pandangannya jadi lain ketika melihat saya. Saya juga baru tahu
dari Eyang kalau zaman dulu Eyang buyut saya ada yang suka main “viol” sampai bergetar senarnya, sambil
galau melihat lukisan wajah istrinya yang sudah meninggal. [red : bahasa
Belanda, artinya biola]
Saya lagi mencoba
memainkan lagu-lagu gubahan almarhum Idris Sardi, suaranya bisa menyengat dan
mendayu-dayu. Mungkin kalian ada yang tahu lagu Melati dari Jayagiri, karena
lagu itu berhasil bikin saya terenyuh. Sekali-sekali kadang saya suka ngejam
lagu-lagu classic rock.
....................................................................................................................................................................................
Dan saya selalu
menaruh miniatur biola itu diatas meja.
Dengan barang
sekecil ini, saya masih terheran-heran sampai saat ini, kenapa pengaruhnya bisa
sedemikian hebat menguasai dunia saya. Kalau ingat masa-masa sulitnya saya
bertahan dari keraguan, saya tidak akan pernah bisa lupa. ---

Comments
Post a Comment