Di Kamar


***



...................................................................................................

Meraung-raung fajar ini
Arahkan ke dalam mimpi
Silau
Raja sinar pun menari
Tirai berseri

Aku tak melihat
Banyaknya niat
Ketika menggeliat
Harapan lalu mencuat
Ya, segeralah berbuat

Kala kutulis
Inspirasi berbaris
Terbangun dari rasa
Terbawa romansa
Memuja semi waktu
Hingga tengah hari beradu
Merasakan hal jitu
Aduh, aku makin bau

Tak mandi, tak sarapan
Tak berbenah, tak berdandan
Rupaku, oh rupaku
Ayolah, dimana elokmu?

Bergerak kian kemari
Berisik, mirip perkusi
Gedebak-gedebuk
Tugu berjalan, lihai sekali
Semampai tapi tak berisi

Usai mempercantik
Ku kembali pada ruangan bau tengik
Sungguh amat baik
Penataan yang unik

Inilah dunia seni
Berantakan sekenanya
Bergelimangan kertas diantaranya
Pena, si banyak tanya
Dengan banyak busana menggantung
Tanpa patung

Musik, musik dan musik
Haus akan artistik
Ayahku selalu memekik
Ah, itu kan’ hanya alasan klasik

Inilah dunia seni, lagi
Hanya kau yang mengerti
Perkenalkan, jiwaku berbunyi
Berasal dari kebiasaan diri
Sentuhlah apa yang kumiliki
Tapi hati-hati,
Ku takkan sudi
Kau sentuh jantungku, nadiku, hatiku, ooh

Wow, semarak
Banyak hal bisa ditebak
Di kamar, ada fakta terkuak
Buku-buku terjajar
Harganya kadang tak wajar
Tanda seorang terpelajar

Siang datang, panas tertahan
Atau lekas bermain dengan nyanyian
Semerdu buaian anak burung memasuki senja
Kian mengeras dan bias
Mengatup bibir, terdiam
Meraih biola
Gesekan sempit, kawan
Buatmu gemetaran

Teka-teki catur
Kelam berbaur
Antara sang pengatur
Mengikuti alur
Rahasia raja-raja pemain
Punya wacana pilihan
Jarang tampilkan kesan
Yang penting akhiran

Metode deduksi, kusukai
Ada gaya dalam intuisi
Meski sering gigit jari
Hasilnya bodoh sekali
Hingga malam hari
Kadang masih menyeringai
Padahal tak pasti
Dari apa yang kupelajari
Alamak, sudah sepanjang hari

Berdehem
Tak bisa kalem
Anak perawan
Makan, tak ditelan
Kurang nyaman
Bergegaslah aku berjalan
Mandi agar rupawan

Kursi malas yang setia
Kududuki dengan wibawa
Mulailah argumen berkelit
Kau tahu? Aku tak suka suasana menghimpit

Di kamar
Dinginnya tidak menusuk
Hanya sebagai alternatif
Otak yang imajinatif
Inilah dunia seni, sahabat
Aku ini bukan pejabat
Kalau diam merapat
Kalau bicara menggugat

Prasangkamu, aku gila
Lihat bagaimana caraku menatap
Cermin juga bingung
Makna permainan hidup ini
Senyumkah, sedihkah
Alisku saling terpaut
Pertanda makin larut
Sebingkai wajah
Jagoan semasa sekolah
Ahli beraksi

Ponsel di genggaman
Selepas seharian
Apakah ada panggilan?
Atau mesranya pesan-pesan
Selidik boleh selidik, menjahil ria
Hingga tertawa tak dirasa
Sendiri, hih
Bulu kuduk mau berdiri
Sepertinya aku kurang waras
Hahaha, aku lupa ini sudah jam berapa

Perjalananku
Bulan menunjukkan pukul satu
Bantal dan selimutku
Tenggelamlah bersamaku

Esok kan’ kutemukan fajar
Seperti itu lagi, dan

Berakhirlah, di kamar ---

_

#thediary

2.45 AM

Comments

romantic poems