Inside #2
Monday
afternoon, February 24, 2014
“Aku seperti berada di lereng gunung penuh kabut,
dan berniat untuk mendakinya seorang diri.
Aku tahu bahwa diatas gunung akan muncul kesaksian
atas indahnya hidup, apabila gunung akan memudahkanku untuk mencapai langit nan
biru.
Tapi... aku bukan seorang pendaki.
Selain itu aku pun sedang dikhawatirkan banyak
orang karena takut aku akan terjatuh.
Kemudian aku melihat ke belakang. Jalan setapak
yang sudah kulalui sepanjang ini.
Hanya ada hutan belantara beserta hewan liar yang
siap menerkamku saat ku kembali.
Aku hanya menatapnya dengan sinis karena tahu jika
aku takkan pernah bisa pulang lagi.
Aku sudah membawa peralatan sebisaku, dan sejauh
ini, aku mendapatkan banyak pengalaman ketika menyusuri hutan itu.
Lantas aku merenung sejenak.
Haruskah aku berdiam lebih lama lagi hanya untuk
satu pilihan?
Sampai gunung akhirnya meletus, atau aku akan
diterkam habis oleh singa.
Banyak orang berusaha meneriakkanku di seberang
hutan. Dengan terpaksa, aku tidak menghiraukan mereka agar terus menahanku,
sebab aku selalu percaya pada diriku sendiri.
Jadi... aku memutuskan untuk tetap mendakinya.
Entah berhasil naik ke puncak dengan selamat, atau
mati berjuang.
Aku hanya meminta pada Tuhan agar gunung masih
seperti ini;
dan memohon agar diberi ketetapan hati untuk
menapakinya dengan benar.
Karena suatu hari... aku akan pulang dengan
membawa nama.
Yang menjadi sejarah bagi banyak orang, atau akan
terukir diatas pusara...”
###
Inilah kisah cintaku yang sebenarnya.
Terjebak saat mencintai seseorang diantara
penantian yang sangat lama.
Ia bagaikan gunung berselimut kabut; sosoknya
terlukis samar dalam pikiran, terlalu tinggi untuk digapai, tapi terlalu
berharga bila tidak dicintai.
Aku tahu, dengan mencintainya berarti aku akan
mendapatkan banyak risiko.
Aku akan lebih banyak menghabiskan separuh hidupku
hanya untuk menyimpannya di dalam hati saja. Tidak akan kubiarkan seorang pun
masuk...
Bersama dirinya, aku percaya bahwa keajaiban
terbentuk di hadapan mataku,
dengan apa yang sedang kurasakan sejak dulu bahkan
sampai saat ini, tanpa merasa ragu bila harus bersanding disisinya sepanjang
hidup.
Yah, kelak aku akan menggapai mimpi-mimpi
bersamanya, seperti gunung mencapai langit.
Tapi... aku bukan wanita yang pantas untuk dipuja.
Selain itu banyak orang mengingatkan agar tidak terlalu dalam saat mencintai.
Sebab
kalau sampai terjatuh, rasanya sangat sakit, hampir tak bisa dipulihkan lagi.
Kemudian kuputar kembali roda masa laluku. Betapa
banyak peristiwa pahit yang selalu kualami sebelum benar-benar menjalin
hubungan serius. Berapa banyak upaya semua orang agar bisa mendekatkanku kepada
pria lain, yang tak kunjung berhasil. Berapa banyak usahaku agar terus membuka
hati ini selebar-lebarnya, dan kesimpulannya selalu saja membuatku menyesal. Sedangkan
di dalam telingaku sudah banyak tuntutan; dan aku tak bisa tinggal diam hanya
dengan menunggu sekian pria lain yang bagiku masih asing. Kalaupun aku kembali
melakukan hal itu seperti dulu, berarti aku ini benar-benar bodoh. Karena itu
takkan bisa menjawab apapun.
Dan sudah berapa kali aku mencoba agar terus
menjauh darinya.
Kenyataannya aku masih tidak sanggup... dan
keberadaannya selalu terdengar di sekitarku.
Maka dari itu, aku sudah membawa segala persiapan
fisik dan mental sebelum benar-benar masuk ke dalam kehidupannya. Aku selalu
mencarinya dengan cara yang aku bisa, tetap menjaga prasangkaku dengan baik terhadapnya,
mendo’akan dia, selalu menemani dimanapun ia berada, bahkan mampu menegaskan
pendirian pada banyak orang jika aku akan selalu mencintainya...
Lantas aku berpikir.
Aku harus mengambil satu pilihan.
Sebelum akhirnya ia berpaling ke lain hati, atau
aku akan mencintai orang lain dengan setengah hati saja. Jelas sekali itu akan
sangat menyakitkan. Aku pun terpaksa mengabaikan kecemasan teman-teman,
sahabat, keluarga dan saudaraku mengenai itu, karena aku yakin ada sesuatu yang
menahanku jika harus pergi, dengan meninggalkan seseorang seperti dia yang
penuh arti dan berwibawa.
Jadi... aku
memilih agar tetap mencintainya.
Entah berhasil menjadi pendamping terbaik baginya,
atau aku akan gugur dan menyesali perbuatanku selamanya.
Aku hanya meminta pada Tuhan agar ia merasakan hal
yang sama sepertiku,
melihatku disini, menyimpanku di dalam jiwanya
sementara ia masih mendaki kehidupannya yang cemerlang,
dan memohon agar tidak dipalingkan dengan
siapapun.
Aku, ingin selalu mencintainya dengan cara yang
benar...
Karena suatu hari... aku akan kembali kepada pertanggungjawabanku
sendiri.
Apakah aku berhasil menemukan seseorang yang lebih
baik daripada dirinya, atau justru dialah satu-satunya pertahanan terakhirku.
Mungkin saat ini aku sedang sendirian,
tapi hatiku tidak benar-benar sendirian.
Ada seseorang disana yang juga sedang sendirian, menempuh
banyak rintangan untuk menjadi pria yang terbaik, pria yang pantas untuk dipuja
dan dibanggakan olehku, atau sebagai pemimpin dan pangeran penjagaku.
Kelak, aku akan menciptakan sejarah cinta yang
dinamis, sebagai pelajaran bagi banyak orang terutama generasi muda yang terus
berjuang meraih cita & cintanya sendiri.
Hai, untuk dikau yang disana...
bisakah kita sama-sama mendaki gunung agar kita
bisa saling bertemu? ---

Comments
Post a Comment