Childhood :)


Sunday, 22 September 2013 at 10:04 AM
 >>  Jefferson Starship  – Nothing’s Gonna Stop Us Now
[Album : Starship, 1980]



***

Pagi ini aku berhenti melanjutkan rancangan usahaku karena kondisi badan yang masih belum fit, sejak seminggu yang lalu. Tapi aku tetap memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurku, merasakan betapa pegalnya seharian tergeletak tanpa melakukan aktivitas apapun. Aku sedang sendirian, sambil meneguk obatku, dan ingin membuat secangkir susu coklat panas. Namun apa yang terjadi? Aku justru beralih menuju ruang tamu karena mendengar ada sumber suara. Ternyata ada lima orang anak kecil sedang bermain di teras depan rumahku. Mereka sedang duduk-duduk disana dengan memasang raut wajah serius, ada yang tertawa, diantaranya ada yang sedang memegang setir sepeda dan ada juga yang sedang menjilat gulali. Aku mendengar mereka bercerita, dibalik tirai... menyaksikan selama 7 menit (itu karena aku melihat jam tanganku) dan tak terasa aku meringis sendiri sambil menutup mulutku, takut ketahuan. Kemudian, aku mundur secara perlahan...

Dengan membayangkan apa yang mereka ceritakan, aku jadi ingin seperti mereka lagi. Bermain dengan teman-teman tanpa memikirkan dunia. Kelihatannya mereka sangat bahagia, meskipun sesekali ingin memukul satu sama lainnya... bertengkar hebat dan selalu ingin menang sendiri. Sekedar jatuh dari kursi sepeda atau bermain apapun itu... makin menyiksa batinku dengan kenangan yang sudah lama aku simpan, aku miliki. Semakin menjadi-jadi, saat kemarin adikku memasang wallpaper ponsel waktu kita berdua masih kecil-kecil. Ah, aku ingin kembali ke masa itu lagi.

Seandainya aku hidup kembali di zaman itu, aku tidak akan membiarkan semua orang lantas pergi begitu cepat dari sisiku seperti apa yang sedang kualami sekarang. Ataukah memang aku sudah berubah secara konstan. Terkadang aku merasa bahwa, mungkin masa-masa yang tepat saat menciptakan kehangatan keluarga adalah ketika kita masih kecil. Setelah itu, semuanya akan pergi menyelesaikan kehidupan masing-masing, beranjak dewasa, atau satu persatu mulai lupa akan kenangan yang sudah kita ciptakan bersama-sama. Maaf, tapi ini realita yang terjadi. Kita tidak bisa memungkiri hal itu. Hanya akan ada sebagian dari keluarga kita yang masih peduli atau hidup bersama kita, sebagian yang lainnya akan pergi meninggalkan jejak, atau mungkin, memang sudah lupa.

Baiklah, itu tadi hanyalah sekedar intermezo saja. Jangan terlalu diperhatikan.

Aku punya cerita lucu. Waktu masih balita, aku dibentuk oleh ayah untuk menjadi jagoan berkarakter. Mainannya sama mobil remote control, boneka tentara, pistol-pistolan dan sepeda roda empat (tapi entah mengapa dibelikannya justru warna pink, hehe). Di zaman itu, anak kecil yang punya mainan mobil remote control itu hanya beberapa, dan biasanya jadi kelihatan ‘waaah’ kalau lagi mau pamer sama teman-teman. Maklum, namanya juga anak kecil, suka sekali kalau punya mainan bagus. Jadi kalau lagi diajak main sore di komplek perumahan, kerjaannya pasti bawa mobil itu. Saingannya, 3 anak cowok yang juga punya mobil seperti itu. Nanti kalau mobilnya rusak karena habis diadu, kemudian dibawa pulang ke rumah, ayah pasti marah... soalnya aku selalu minta dibelikan lagi.

Terkadang aku bingung sendiri, aku ini anak cewek atau anak cowok. Ini gila sebenarnya, mana ada anak cewek ‘ngapelin’ ke rumahnya anak cowok. Biasanya aku lakukan setiap pagi dan sore hari, mengajak main bola plastik atau tanding sepeda. Kata ayah, dulu sahabatku hanyalah tiga anak cowok itu, dan sampai sekarang fotonya masih ada. Hingga suatu hari, aku punya kejadian konyol. Pada hari Minggu pagi, setelah ibu memandikanku, aku pergi menuju garasi mobil untuk mengambil sepeda. Sebenarnya ibu sudah mengingatkan untuk tidak keluar rumah, tapi aku tidak mendengarkan. Saat itu ayah sedang mengeluarkan mobilnya untuk dicuci di luar garasi, bersama dengan pengasuhku yang mengeluarkan selang air, namanya ‘kangDarsono. Dengan mantap, aku berjalan menuntun sepeda bututku melewati jalanan komplek tanpa melihat langkahku sendiri. Aku berteriak memanggil nama temanku.

“Furiiii... Fuuuriiii... main yuuuuk!”
“...............................................”

Gedubraakk. Mak-jlebb!

Aku jatuh ke dalam selokan besar yang ada lumpurnya : di pinggir rumahnya si Furi. Lucunya adalah, sepedanya berdiri ‘cantik’ di pinggir selokan. Hahaha. Tapi untungnya pengasuhku sadar kalau aku hilang.

“Nunsewu Pak, dik Tya kok mboten enten’ suaranipun?”
(Permisi Pak, dik Tya kok tidak ada suaranya yah?)
“Ah, sing bener Dar. Iki mau dik Tya bar ngetokno’ sepedane. Lhooo? Nang ndhi’ arek iki...?!” kata ayah curiga.
(Ah, yang bener Dar. Ini tadi dik Tya baru ngeluarin sepedanya. Lhooo? Kemana anak ini...?!)
“..............................”

Akhirnya mereka mulai mencari aku dan sempat kaget, soalnya sepedanya ada tapi anaknya yang tidak ada. Setelah mendengarku merintih di dalam selokan, barulah aku bisa ditemukan. Oh tidak... badanku lumpur semua, sikutnya pun berdarah, padahal habis mandi. Alhasil, dimarahi ibu lagi :)

***

Ada lagi. Ayah dan ibu mengajak aku pergi ke department store. Rencananya mau membelikan sepatu bayi untukku. Pengasuhku juga diajak kesana. Sesampainya disana, aku dipilihkan ibu sepatu perempuan Bubble-Gummers berwarna soft pink yang waktu itu sedang “in”. Tapi tidak lama kemudian, aku mengamati ‘kangDar sedang membeli sandal karet Carvil berwarna hitam. Aku suka modelnya. Lalu aku bilang pada ibuku untuk minta dibelikan sepatu yang sama seperti itu.

“Ibu... Tya mau sepatu kayak ‘kang Dar...” kataku sambil menunjuk.
“Tya, ini tuh sepatunya anak laki-laki... kamu gak boleh pake sepatu model begitu ah... kamu udah ibu beliin sepatu yang lebih bagus dari itu, nak...”
“Tapi Tya maunya kembaran sama ‘kangDar, bu...” kataku lirih.
“Enggak. Pokoknya Tya harus pake sepatu yang ibu belikan...”

Menangislah aku. Beliau mulai gelisah. “Yaudah bu... daripada nangis terus, belikan aja dia sepatu yang sama seperti Darsono”, kata ayah. Setelah dibelikan, aku menggandeng tangan ‘kangDar sambil mengenakan sepatu dengan model yang sama. Hihi. :)

***

Di taman kanak-kanak. Kalau mau berangkat sekolah, paling tidak aku harus menggunakan becak setiap pagi dan ditemani oleh pengasuhku. Masalahnya adalah, aku sering kesal jika melihat teman-teman menertawai aku karena tidak pernah diantarkan oleh ibu. Tapi aku cuek saja. Sampai pulang sekolah pun, aku tetap harus sendirian di sudut sekolah --- menunggu pengasuhku menjemput. Sesekali ada ibu guru yang menggendongku ke dalam ruang kelas untuk menemaniku.

***

Aku punya hobi, lhooo...
Memburu cicak. Ini berkat doktrin dari ayah dan kang’ Dar kalau lagi menemukan banyak cicak di atap dapur. Nanti kalau cicaknya sudah dapat, pasti perutnya selalu aku pijit-pijit hingga akhirnya mati. Hal itu kulakukan karena aku gemas, merasakan perutnya yang lunak seperti jelly. Aduh, sumpah sadis sekali. Aku berhenti main cicak setelah aku mendapat mimpi di siang hari, kalau pergelangan tanganku digigit cicak sampai berlumuran darah. Sejak saat itu, aku menangis hebat kalau dikasih cicak. Pokoknya, aku tidak mau!

***

Namanya juga rumah tangga, pasti ada yang bertengkar. Seperti ayah dan ibuku, dulu.
Ceritanya : ibu sedang berulang tahun. Sebetulnya sudah sepanjang hari, ibu menunggu ayah di rumah untuk sekedar mendengarkan kalimat ‘selamat ulang tahun, sayang...’ dari ayah lewat telepon umum atau media faximile. Meskipun ayah sedang sibuk di kantor, tapi bukan berarti beliau lupa. Setelah pulang dari kantor, ayah langsung menuju kamar tidur tanpa mengucapkan satu kata pun. Ibuku cemberut dan menggerutu, soalnya sudah masak besar tapi ayah masih diam saja, tidak peka sama sekali. Tahukah kalian? Ayahku itu pandai menyembunyikan sesuatu...

“Tyaa... sini sini... ada mainan buat kamu,” katanya memanggilku sambil berbisik di kamar.
“Mmm-hmm?” aku menghampiri. Perawakan bayi umur 4 tahun.
“Ini, kasih sana ke Ibumu, bilang aja supaya suruh dibuka,” katanya.

Tapi, yang dikasih ke aku justru segumpalan kertas yang sudah diremas-remas, bukan mainan.

Alhasil, aku menghampiri ibu.
“Ibuuuu... ini dari Bapak... disuluh bukaaa... Tyaa gak tau ini icinyaa apaa,” kataku polos sambil menyodorkan sebelah tangan.
“Ini kertas apa, sayang?”
“Gak tau,” kataku sambil berlalu.

Setelah dibuka, ternyata isinya kalung emas.
Hihihi. Ibu jadi terharu... ayah pun juga begitu, cuma bisa senyum-senyum di kamar. 

***

Hehehe... kalau yang ini sih, ceritanya kocak.

Aku dulu punya kebiasaan : suka iseng mengaduk-aduk minuman tamu di ruang tamu. (ya ampyuuun...)
Pokoknya kalau ada yang singgah ke rumah, apapun minumannya, pasti disitu ada aku. Hahaha.
Sampai suatu saat pernah dicubit sama ibu di depan tamu, soalnya minumannya jadi tumpah semua.
Besoknya, kalau ada tamu lagi ke rumah, aku langsung digendong ke kamar supaya tidak jadi ‘tukang ngaduk’.

***

Tempat tidur. Masih balita tapi minta ukurannya yang double-bed.
Tidurnya pun sendirian... tidak ditemani siapa-siapa. Ibu paling tidak tega melihatku ingin tidur sendiri. Kalau di tengah malam aku mulai kehausan, aku bangun sendiri sambil berjalan ke arah meja makan untuk mengambil gelas. Pernah juga, aku menginap di tempat saudara yang rumahnya 2 tingkat, dan kebetulan memang ayah dan ibu saja yang dipercaya untuk menjaga rumah ‘sebesar’ itu. Rumahnya baru selesai dibangun, tapi belum ditempati sang pemilik. Kata tetangga, rumah ini lumayan angker. Suatu malam sekitar pukul 2 dini hari, tiba-tiba aku terbangun dan berjalan ke arah anak tangga. Ayah dan ibu masih tidur, tapi akhirnya terbangun juga karena melihatku tidak ada disamping mereka. Ayah mulai curiga, dan keluar dari kamar sambil membawa pedang samurai, memastikan tidak ada orang yang masuk ke rumah untuk menculikku. Ketika menuruni tangga... dan menghunus pedang... beliau tersentak :

Ada anak kecil sedang menggenggam gelas di ruang meja makan yang gelap gulita...

Ayah langsung menarik nafas panjang, menutup pedangnya, dan memasang raut tak percaya. Aku melihatnya dengan kepolosan yang amat sangat, sambil meneguk air.

“Bapak kenapa? Kok gak bobo? Tya cuma haus, kepingin minum...”
“Haduhh... kamu ini...”

Hahaha... dasar bocah. Tidak paham kalau ayahnya lagi cemas. Kalau di flash-back lagi supaya bisa berani seperti dulu, wah... bisa jadi film horor nantinya. Apalagi jika situasinya di meja makan itu... lampunya mati... ada tiupan angin lembut... lalu tirai putihnya bergoyang... daaannn... ya, ada wanita cantik berbaju putih sedang tersenyum dibalik jendela kaca.

***

Dulu aku pernah dibelikan kaset VCD “The Lion King 1 dan 2”, yakni kaset film kartun tiga dimensi yang menceritakan perjuangan seorang ayah yang akhirnya meninggal demi menjaga keselamatan putranya, yang mana selalu bisa membuat aku menangis di pelukan ibu kalau lagi menonton. Jadi kalau misalnya aku sedang tidak mau makan... atau lagi nakal... film itu pasti diputarkan kembali. Sekarang kaset versi 2-nya sudah aku berikan sama keponakan-keponakan cantikku, Aurelia dan Aiskanara. Nah, yang satu lagi masih aku simpan di laci sampai sekarang. Belum lagi, ayah membeli buku dongeng kerajaan sihir berbahasa Inggris, dan bukunya sangat besar sekali, tentunya juga sangat mahal (harganya setengah gaji ayahku waktu zaman dulu). Sayangnya, aku bukan anak ajaib... jadi masih tidak tahu ini semua artinya apa. Hehehe.
Setelah 17 tahun lamanya tidak pernah ditemukan, akhirnya aku melihat buku dongeng itu bersanding dengan buku lainnya di dalam lemari kayu. Sudah usang, pastinya... tapi aku tertarik membaca isinya lagi. Di dalamnya banyak sekali coretan spidol-ku, dan sebagian halamannya ada yang sudah sobek dan hilang karena gambarnya aku simpan. Kini aku masih belum mengerti juga maksud cerita dongeng itu, karena bahasa Inggris-nya terbilang expert dan ceritanya sangat kompleks. :)

***

Masih ada lagi cerita yang unik. Aku sebenarnya sudah tahu dari dulu kalau aku itu orangnya nyentrik. Alasannya, ayahku sudah memerhatikan bahwa aku punya ciri khas sendiri ketika berjalan, gagah seperti anak laki-laki. Sampai sekarang pun cara berjalanku masih seperti itu : praktis, tidak ada sentuhan goyang pinggul ala gadis genit. Kemudian, karena aku anaknya paling aneh sendiri dibandingkan yang lain (dan ya, mungkin sebagian dari kalian sudah tahu mengenai pribadiku ini yaa, hehehe). Bisa dikatakan aneh karena selain tidak pernah punya teman perempuan dari kecil, suka bertengkar dengan lawan jenis, tapi yang naksir justru banyak sekali. Nah! Itu dia yang tidak rasional. Seharusnya kalau benci, kan’ pasti menjauh dari lawannya. Ini malah justru dikejar. Maka dari itu, aku tidak boleh berdandan ala perempuan, tidak boleh keluar rumah, dan baju yang dipakai harus selalu dimasukkan ke dalam rok (peraturan ayah semenjak ditaksir kakak-kakak kelas). Bahkan aku diajari oleh beliau bagaimana cara memukul anak laki-laki kalau lagi bertengkar. Hitung kancing baju nomor 3. Mengapa bisa begitu? Karena aku sering diganggu di sekolah kalau sedang fokus belajar dan memerhatikan guruku. Jadi aku diajari untuk bisa mempertahankan diri sendiri. Dulu adikku juga satu sekolah denganku, jadi kalau dia sedang diganggu sama teman-temannya, aku yang maju.

Sebenarnya kalau mereka baik, aku akan lebih baik lagi dengan mereka. Tapi jika ada sesuatu yang tidak beres, atau ada yang menantangku di gerbang sekolah, ya aku hadapi dengan keseriusan untuk menghabisinya. Nanti kalau urusannya berkepanjangan hingga ke pihak sekolah, ayahku yang jadi pembela. Yang terpenting adalah : aku harus menang bertengkar karena aku benar, dan aku harus mengalah kalau memang aku yang salah. That was a fair.

***

Masih banyak lagi jutaan kenangan yang aku alami, dan akan menghabiskan ratusan halaman kalau aku teruskan menulisnya.
Intinya memang aku itu ditakdirkan untuk jadi tukang ngapel, tukang ngaduk, tukang bunuh cicak, tukang bawa gelas, jagoan neon dan tukang pukul. Hahaha. (kalau ada tawaran profesi jadi pembunuh bayaran, boleh juga tuh!)

..............................................................................................................................................................................

Jadi...
Aku tegaskan lagi padamu yah.

Masa kecil itu ibarat sebuah perisai untuk menjagamu agar jadi orang yang selalu ingat darimana asalmu.
Dan masa depanmu adalah... pedangmu.

..............................................................................................................................................................................

Aku jadi ingat sama salah satu saudaraku, namanya Mas Daniel, yang waktu itu pernah bersalaman dan memelukku sambil berkata, “Dik Tya... sekarang udah beda yah... masih jadi jagoan kayak dulu gak?”

Aku menyeringai. 


Comments

romantic poems