Someday.
Tuhan...
Hari ini, aku ingin bicara
padamu.
“Aku selalu terlambat menyadari
bahwa cintaku selalu berujung kepada orang-orang yang salah. Namun aku juga
tidak pernah merasa bila mereka adalah orang-orang yang tepat. Mengapa takdirku
harus berujung pada luka yang tak pernah hilang. Cintaku sungguh terlambat
untuk kuselamatkan sekarang. Mungkin dia adalah pria terakhir yang menyakitiku
dalam hidup ini. Jadi, apakah sebaiknya aku pergi mencari duniaku yang lain.
Tanpa seorangpun bisa menemukanku dalam keadaan menangis. Atau haruskah aku
menutup diri untuk selamanya. Demi Tuhan, aku terlalu cinta padamu. Tapi aku
tidak pernah punya kuasa untuk mengatakannya. Setiap hari aku hanya berusaha
membuatmu mengerti, sampai akhirnya aku gagal mempertahankan perasaanku padamu.
Aku egois, dan tak ingin kau mengetahuinya. Ketika kau bersamaku menjalani
segalanya, kita tidak pernah terjebak dalam perasaan yang biasa. Entah apakah
hanya perasaanku saja, tapi aku wanita...
Semenjak hari itu aku rela membuka hatiku kembali, meski aku pernah berjanji untuk tidak membukanya lagi. Kau tahu? Aku sakit. Setiap hari hanyalah senyuman ceria yang menghiasi hidupku. Namun aku berhasil membuatmu tak mengetahuinya, kan? Kini semuanya telah terjadi. Aku terpaksa bicara sejujurnya, agar kau tahu bila selama ini aku sanggup. Tatkala aku ingin bicara, kau selalu pergi. Itu bukanlah suatu alasan, dan aku memahami dengan semua keadaan ini...
Ternyata aku tidak mampu menahan apa yang menjadi hakku untuk mengatakan. Apakah wanita sepertiku tidak pantas mendapatkan seseorang yang kusukai...
Selama ini, aku hanya menyaksikanmu dari kejauhan, menerka dengan separuh keyakinanku atas keberadaanmu yang tak pernah terlihat. Ya, karena aku melihatnya dengan hati. Kini aku berusaha untuk pergi, meski setiap waktu Engkau membuatku agar selalu mencintainya. Masih adakah kesempatan bagiku untuk melangkah kesana, memperjuangkan cita dan cintaku tanpa hadirmu di hidupku lagi.
Biarlah hujan menghapus rasaku, menyingkirkan harapan semu yang tidak akan pernah kembali. Mungkin memang sudah seharusnya aku selalu hidup sendiri, tanpamu, tanpa mereka, tanpa perasaan. Aku... harus berlari sekarang. Seberapa besar sulitnya jalan impianku nanti, hanya Dia yang tahu, bahwa : aku ingin bahagia.
Aku ingin segera pergi jauh. Saat ini aku masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya, dan semoga usaha atas mimpi-mimpiku terwujud. Pasti akan ada saatnya kita bertemu di suatu tempat, yang kita sendiri tak tahu dimana kita berada. Jika kau adalah cintaku yang sesungguhnya, maka kau takkan peduli bagaimana caranya agar kau bisa menemuiku. Sebab Ia akan menggerakkan hatimu secara tak sadar, entah saat itu aku masih memikirkan kamu atau tidak. Disanalah kau akan menyadari : bahwa tiada seorangpun yang bisa menandingi kesetiaanku, yang akhirnya menyerah, tak bertahan. Karena cinta telah mengubahku menjadi... sosok yang lain.
Tetaplah menjadi orang yang selalu kuinginkan. Kisah ini akan menyisakan banyak air mata untuk kusimpan. Dengan segala kerendahan hati, aku akan terus bergerak, menjadi seseorang yang selalu berdiri di setiap pintu kebahagiaan mereka, menantinya dengan penuh kasih.”
Semenjak hari itu aku rela membuka hatiku kembali, meski aku pernah berjanji untuk tidak membukanya lagi. Kau tahu? Aku sakit. Setiap hari hanyalah senyuman ceria yang menghiasi hidupku. Namun aku berhasil membuatmu tak mengetahuinya, kan? Kini semuanya telah terjadi. Aku terpaksa bicara sejujurnya, agar kau tahu bila selama ini aku sanggup. Tatkala aku ingin bicara, kau selalu pergi. Itu bukanlah suatu alasan, dan aku memahami dengan semua keadaan ini...
Ternyata aku tidak mampu menahan apa yang menjadi hakku untuk mengatakan. Apakah wanita sepertiku tidak pantas mendapatkan seseorang yang kusukai...
Selama ini, aku hanya menyaksikanmu dari kejauhan, menerka dengan separuh keyakinanku atas keberadaanmu yang tak pernah terlihat. Ya, karena aku melihatnya dengan hati. Kini aku berusaha untuk pergi, meski setiap waktu Engkau membuatku agar selalu mencintainya. Masih adakah kesempatan bagiku untuk melangkah kesana, memperjuangkan cita dan cintaku tanpa hadirmu di hidupku lagi.
Biarlah hujan menghapus rasaku, menyingkirkan harapan semu yang tidak akan pernah kembali. Mungkin memang sudah seharusnya aku selalu hidup sendiri, tanpamu, tanpa mereka, tanpa perasaan. Aku... harus berlari sekarang. Seberapa besar sulitnya jalan impianku nanti, hanya Dia yang tahu, bahwa : aku ingin bahagia.
Aku ingin segera pergi jauh. Saat ini aku masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya, dan semoga usaha atas mimpi-mimpiku terwujud. Pasti akan ada saatnya kita bertemu di suatu tempat, yang kita sendiri tak tahu dimana kita berada. Jika kau adalah cintaku yang sesungguhnya, maka kau takkan peduli bagaimana caranya agar kau bisa menemuiku. Sebab Ia akan menggerakkan hatimu secara tak sadar, entah saat itu aku masih memikirkan kamu atau tidak. Disanalah kau akan menyadari : bahwa tiada seorangpun yang bisa menandingi kesetiaanku, yang akhirnya menyerah, tak bertahan. Karena cinta telah mengubahku menjadi... sosok yang lain.
Tetaplah menjadi orang yang selalu kuinginkan. Kisah ini akan menyisakan banyak air mata untuk kusimpan. Dengan segala kerendahan hati, aku akan terus bergerak, menjadi seseorang yang selalu berdiri di setiap pintu kebahagiaan mereka, menantinya dengan penuh kasih.”

Comments
Post a Comment