Pemimpin yang sebenarnya.
#Backsound
: Christopher Cross – Swept Away (Classic Rock, 1983).
Thursday, 19 July at 4:35 PM.
Aku baru saja menyaksikan siaran berita di televisi siang
hari ini. Sebenarnya aku malas untuk menonton, karena tidak ada satupun
tayangan yang layak untuk disimak. Berulang kali aku menekan tombol remote. Ganti... ganti... dan ganti.
Akhirnya perhatianku teralih pada satu kasus yang sedang dibahas oleh beberapa
pakar politik dan ekonomi.
Kemudian, kulihat Ayahku sedang memasuki ruangan dan menuju
ke wastafel. Beliau mencuci tangannya dengan sangat lama, hingga aku tidak
sabar untuk segera bercerita padanya.
Dan aku bersuara.
“Pak, kayaknya akhir-akhir ini pejabat-pejabat kita mulai
diringkus pihak kepolisian, yah. Kasian, mulai dari artis sampai orang-orang
terkenal, udah kena semua. Korupsi terus. Kalau gitu caranya, mendingan Tya gak
usah punya cita-cita jadi pejabat, ah... Tya takut sendiri jadinya,” kataku
sambil cemberut. Ayah justru tersenyum, sepertinya beliau menyimpan beberapa
kata yang ingin diucapkan.
“Hehehe... kalau jadi pejabat yang kaffah, gimana?” katanya dengan senyuman jahil.
“Hmm... dulu kan’ Bapak pernah bilang kalau pejabat yang
baik sekalipun, pasti bisa kena korupsi. Soalnya mau gak mau mereka harus
berada di lingkungan itu. Kadang aliran dananya gak jelas darimana, jadi
kemungkinan kena korupsi pasti ada, meskipun mereka ngerasa gak ngelakuin hal
itu,” kataku dengan lugas.
“Ya, betul itu, tapi kok kamu masih inget?” kata beliau
kaget.
“Ya ingetlah Pak, hehehe...” yaa jelas aja inget, Daddy. Tya kan’ ngerekamnya bukan pake kuping,
tapi pake recorder.
“Korupsi itu sebenernya bisa menimpa siapa aja, gak
terkecuali orang-orang kayak kita. Bisa aja orang dari luar akhirnya ikut masuk
buat mensukseskan juga. Cuma emang kita harus kuat mental dan iman, kalau
enggak, yaa kayak yang kamu bilang tadi, jadi ketangkep polisi karena kurang
hati-hati...”
“Lah, trus kalau akhirnya satu persatu para menteri
ketangkep semua, apa mungkin pemerintahan kita bakalan dibubarin? Atau dibentuk
struktur organisasinya dari ulang? Kan’ itu gak mungkin, lagian presiden juga
dilibatkan...”
“..........................................................”
“Belum lagi ngeliat kondisi presiden. Kasian kan? Pada
akhirnya dia jadi serba salah sekarang. Mau mengundurkan diri dari jabatan,
nanti rakyatnya menduga kalau dia nyerah buat ngatasi berbagai masalah
kenegaraan. Tapi kalau dia bertahan, rakyat banyak menuntut sama dia, sedangkan
menjadi seorang pemimpin itu kan’ gak selamanya sempurna...”
Sejenak kuhentikan pertanyaanku yang bertubi-tubi itu.
Keingintahuan ini sudah melampaui batas kedewasaanku. Lagi, dan lagi. Beliau
memandangku jauh ke dalam mataku. Lantas ia duduk disampingku dengan tersenyum.
“Kalau kamu pelajari sejarah Islam dari awal, kamu gak akan
mengira bahwa sebenernya pemerintahan kita lama-kelamaan didasari oleh ilmu
Islam,” katanya bijak.
“Oh ya?”
“Iya... kamu tau kan’ sahabat Rasulullah, Umar Bin Khattab?
Saking cintanya Rasulullah sama dia, Rasulullah sampai pernah bilang kalau
seandainya beliau meninggal, hanya Umar yang pantas menggantikan dia demi
kemaslahatan rakyatnya...”
“..........................................................”
“Umar juga dicintai oleh Allah karena dibalik kebengisan dan
kejahatan yang dia punya, ternyata hatinya selembut kapas ketika menjaga dan
menyayangi umatnya. Dia bagaikan singa di padang pasir. Dia gak pernah peduli,
terhadap setiap tetesan darah yang dia alirkan dibalik tusukan-tusukan pedangnya.
Dia suka main judi, dan pernah menang taruhan buat membunuh bayi tetangganya.
Tapi waktu dia melintasi rumah Rasulullah, dan mendengar Rasulullah lagi baca
Al-Qur’an di rumahnya, seketika itu juga ia lari menghadap Rasul dan bertekuk
lutut. Dia ngotot masuk Islam, cuma karena mendengar keindahan Rasulullah saat
membaca Al-Qur’an...” kata ayah menerangkan. Tanganku terasa dingin dan
mengepal, karena aku benar-benar takjub.
“Kalau gitu... selama Umar jadi khalifah, gimana cara dia memegang kepemimpinan, Pak?”
“Waktu dia dipilih sama Allah buat jadi salah satu khalifah dan mendampingi Rasul, perasaan
dia selalu khawatir dan gak tenang, karena dia takut semua amanahnya gak bisa
dijalani dengan baik. Pernah satu malam dia gak bisa tidur, karena mikirin
rakyatnya kira-kira udah makan apa belum di hari itu. Dia juga pernah ngelarang
pengawalnya buat ikut dia mengawasi kemanapun, karena dia mau turun sendiri dan
ngeliat keadaan umatnya. Pada saat dia nemuin satu rumah yang isinya
orang-orang kelaparan, dia lari sendirian malem-malem buat manggul beras,
makanan, atau apapun yang bisa dia kasih buat orang-orang itu. Sampe segitunya
dia berkorban, dan gak mau tau terhadap keselamatan dirinya sendiri...”
“..........................................................”
“Kamu tau gak? Kalau kita ngitung kekayaan Umar bila
di-kurs-kan ke mata uang rupiah sekarang, kekayaannya sekitar 7 triliun rupiah,
dan itu adalah hasil jerih payah dia memegang usaha di berbagai penjuru
wilayah. Tapi, kamu gak akan bisa bedain kalau kamu hidup di zaman itu : mana
yang pemimpin, mana yang umat Islam. Soalnya, Umar kalau pake baju, lebih
sederhana ketimbang rakyatnya. Dia cuma punya baju dua pasang. Dan kalau lagi
makan, lauknya gak pernah lebih dari satu. Dia sadar betul kalau kekayaan yang
dia miliki itu sebenernya buat kesejahteraan umat Islam, gak kayak zaman
sekarang, punya uang banyak malah bikin proyek gede, akhirnya jadi korupsi
kan?”
“Ckckck... masya’Allah... hmm, trus tadi Bapak bilang kalau
pemerintahan kita mulai ngikutin budaya pemerintahan Islam... maksudnya gimana
yah Pak?”
“Sekarang kamu coba bandingkan pemerintahan sekarang sama
zaman Rasul. Kalau sekarang sih, yang namanya pimpinan itu rata-rata ngejar
jabatan tinggi buat dapet gaji yang besar, atau dipandang orang.
Pertama-tamanya sih janji mau mensejahterakan, tapi setelah jabatan dipegang,
yaudah janjinya diabaikan. Udah gitu orang-orang yang dipilih bisa dari mana
aja, apalagi yang berduit. Jadi cara mimpinnya juga gak bermutu. Coba pas zaman
Rasul dulu. Kebanyakan umat pada takut, dan biasanya yang dipilih itu
bener-bener orang yang terpercaya dan imannya sangat kuat,”
“Oh, jadi nanti kebiasaan disana bakal ditiru sama kita?”
“Iya, lama-lama kan’ orang mulai mikir, hukum seperti apa
yang pantas dijalankan. Jadi lambat laun semua orang mulai menerima landasan
Islam nantinya...”
“Hmm... trus Umar itu dulu pernah main politik gak, Pak?”
“Pastinya iya, tapi politik zaman dulu kan’ gak kayak
sekarang, Nak...”
“Menurut Bapak, politik sekarang itu kayak gimana sih?
Maksud Tya, cara pandang Bapak sebagai orang ekonom...” ya, lagi-lagi aku menyusahkan Bapakku untuk menjawab sekelumit
pertanyaan konyol.
“Politik itu jahat. Dan politik itu biasanya punya link khusus dengan partai. Kalau mau
gol, mau gak mau kan harus punya dana banyak. Semua orang yang gak kuat
instingnya waktu main politik, pasti pikirannya udah mulai kacau. Ada yang
nekat jual rumahnya bermilyar-milyar, ada yang minjem uang sana-sini gak jelas,
ada yang dari korupsi tapi belom ketauan, bahkan ada juga yang dari hasil suap.
Akhirnya mereka hidup tanpa berdasarkan logika. Makanya, banyak jalan menuju
kejahatan, tapi makin sedikit nyari jalan buat kejujuran dan ketetapan dalam
memimpin...” katanya sambil mengusap rambutku.
“Trus mau sampe kapan kita kayak gini terus, Dad. Mau nunggu sampe orang-orang asing
masuk ke negara kita, trus ambil alih semuanya?” kataku seraya memicingkan
mata.
“Ya, jangan tanya sama Bapak, itu kan’ tugasmu,”
“Lah, kok bisa jadi tugas dalem?”
“Hehehe... suatu saat kamu akan lebih paham daripada Bapak.
Bahkan Bapak bisa tau nanti kamu sama adikmu bakalan jadi apa ntar kalau udah
gede,” katanya jahil.
“Mmmm, masaaaa?” kataku menantang.
“Lha... beneran,”
“Coba buktiin, Tya mau liat...” kataku sambil tersenyum
lagi. Biasanya ayahku tidak pernah meleset dalam memprediksi sesuatu. Tapi
melihat beliau langsung menutup matanya dengan sebelah tangan, aku rasa dia
sedang berusaha membuatku yakin.
“Eeeenngg... kamu nanti bakal jadi istrinya pejabat,”
“Yah, cuma jadi istrinya doang. Kirain beneran...” tukasku
sambil menjulurkan lidah.
“Hahaha... abisnya kamu gak bilang sih kalau kamu bakal jadi
apa. Katanya tadi kamu cuma mau liat...” kata ayah bercanda.
“Hihihi... trus kalau dik Jodi, bakal jadi apa, dong?” sejenak kemudian ayahku menutup matanya lagi
seperti yang dilakukannya tadi.
“Ya ya ya... adikmu beneran jadi arsitek ntar,” katanya
seraya menganggukkan kepala.
“Hah?! Ah yang bener, Pak?! Anak kayak dia gitu, tukang
ngelayap, main muluuu??!” kataku kaget. Masalahnya,
dia tuh gak pernah belajar. Tapi kalau lagi ulangan, nilainya bagus-bagus
terus. Wajarlah kalau aku kaget. Kemarin dia lulus dengan peringkat tertinggi
di sekolahnya, ranking 1 pula. Tapi dari gayanya sih, sok kegantengan, sok cool,
populer di sekolah, dan tukang main. Jadi gak bakal ketebak kalau dia
sebenernya tuh pinter.
“Iyaaaa... tapi wallahu’alam. Semua kan’ Allah yang ngatur.
Udah ah, kamu tuh daritadi, nanyaaaaa terus. Bapak mau manasin mobil dulu,”
katanya seraya mengambil kunci mobil. Kemudian, aku berjalan menuju kamar dan
duduk diatas tempat tidur.
... Oh, jadi begitu yah.
Sepertinya sulit sekali menentukan hal-hal apa yang sepantasnya dikerjakan atau
tidak, bagi seorang pemimpin. Banyak orang bersenang-senang diatas penderitaan
orang lain, atau orang-orang yang saling menyusahkan hidup satu sama lainnya.
Tidak berpendapat secara subjektif sih, tapi realita kan’ mengatakan demikian.
Cuma bagaimana caranya supaya bisa bertindak, dengan bukti yang bisa merefleksikan
banyak hal secara keseluruhan dan tepat. Kita semua kan’ masih belajar, jadi
masih belum memahami, seperti apa lingkup dunia kepemimpinan yang sebenarnya ...
Tidak lama kemudian, adikku tiba di rumah dan memasuki
ruangan kamarku. Dia sedang tergesa-gesa untuk segera pergi ke luar rumah lagi.
“Mbak, gue titip tas ransel gue, yah. Abis ini mau maen dulu
ke rumahnya si Baso, trus kerja kelompok. Ntar kalo ada apa-apa, sms gue aja...
gue bawa hape sama motor, kok. Oke?”
“Oke... jangan lama-lama, Dik. Taruh aja disitu tas-nya,”
“Thanks,
Mbak...”
Setelah dia mencubit pipiku dan pergi,
kuperhatikan tas ransel hitam-nya yang tergeletak diatas lantai.
Ada sebuah gulungan kertas berukuran
besar melewati ukuran tas-nya.
Hingga resletingnya tidak bisa
tertutup...
Oh, tidak.
Sepintas pikiranku menjelma.
Dia sepertinya akan jadi arsitek! ---
