Hope.



Saturday Night, 29 September 2012 – 18 : 28 PM
#Backsound : Jefferson Starship – Sara* (Genre : Rock Ballads)#

Malam minggu yang tak pernah memiliki momen. Aku terjebak dalam satu situasi hening. Disini terdapat sejuta pemikiran yang menggantung, tapi tidak satupun bisa ku telaah dengan baik. Baru kali ini kutemukan sebuah teguran yang pasti --- dan mungkin saja itu juga ada dalam pemikiranmu.
Berapa banyak hal yang kita temui di dunia ini, yang berhasil kita raih atau justru tidak. Atau mungkin bisa kusimpulkan maknanya seperti ini : ada sesuatu yang datangnya tak diduga, atau bisa jadi hanya sekilas mimpimu yang akhirnya jadi kenyataan. Nah, wanita sepertiku punya beberapa alasan untuk itu.
Baiklah, akan kuceritakan padamu. Sebenarnya ini kisah hidupku sendiri, hanya saja mengandung banyak perbandingan. Kau tahu, tidak? Aku selalu mengalami hal yang satu ini. Terjadinya sebuah harapan. Bayangkan saja jika semuanya benar-benar terjadi di luar kesadaran kita. Wah, rasanya tidak dapat dilukiskan dengan apapun.
Sejak kecil, aku diajarkan oleh ayah untuk selalu berpikir dahulu sebelum melakukan tindakan. Pokoknya, jangan sampai salah arah hanya karena salah prediksi. Tentunya saat itu aku masih bisa dimaklumi kalau belum bisa. Tapi, yang namanya rencana itu kan’ pasti tidak selamanya berjalan dengan mulus. Logika kita juga pasti terhenti karena keadaan yang sudah ada. Nah, satu-satunya kesempatan yang masih kita pegang, adalah berharap.
Harapan itu datangnya tidak menentu. Terkadang kau akan berharap lebih ketika sudah berhasil, saat menghadapi kegagalan, atau sedang mengusahakan sesuatu. Pernahkah suatu kali kau mendengar sahabatmu berpesan padamu, “Gue harap, loe bisa jadi yang terbaik dari kita semua,” atau seorang temanmu yang mendengar kabarmu bila sedang sakit dan berkata, “Cepet sembuh yah sob, biar besok bisa masuk sekolah lagi...” atau seperti ini, “Ayooo... kamu pasti bisa! Semangat yaaah!” atau misalnya kita sendiri yang berharap begini, “Semoga besok usahaku berhasil. Aku harus menang...” dan yang terakhir mungkin bisa jadi seperti ini, “Aku harap semuanya akan berjalan baik-baik saja,” ---
Sebenarnya, pada saat kesempatan itu datang, jangan hanya dijadikan penyemangat semata. Tapi, coba tundukkan kepalamu sejenak, dan berharaplah dalam hati. ~
Saat menginjak usia balita, aku sangat menggemaskan bagi banyak orang, seperti keluarga besarku dan setiap orang  yang ada di dalam hidupku. Bagaimana bisa lucu, tingkahku saja seperti anak laki-laki. Tidak akan bisa diam sampai akhirnya kelelahan sendiri. Namanya juga naluriah seorang ibu. Meskipun punya anak perempuan yang tingkahnya amburadul, tapi harapan beliau tetap saja ingin punya anak perempuan yang manis.
“Tya, kamu tuh jangan mainan sama anak laki-laki terus. Kalo mau sepedaan, mainan aja sama si Furi. Kalo engga, mainan boneka aja disini sama si bibi. Ibu gak suka ngeliatin kamu tingkahnya kayak anak cowok. Kalo kayak gitu caranya, mending kamu gak usah keluar rumah lagi...”
“Iya, bu. Maafin Tya...” kataku sambil meremas pegangan stir sepeda. Menahan tangis.
“Kamu harusnya inget, kamu itu perempuan. Gak pantes, kalo perempuan yang nyamperin anak laki-laki duluan. Emangnya mereka gak bisa jemput kamu? Nak, kamu itu harapannya Ibu. Jangan bikin Ibu malu dong sama tetangga...”
“.............................................”
“Ibu cuma kepingin punya anak perempuan yang bisa diem di rumah. Kalo gak punya temen, gak usah maksain mereka buat diajakin kesini. Main sendiri kan’ bisa...”
“.............................................”
Akhirnya aku menangis, namanya juga anak kecil. Aku masih ingat betul, saat itu aku langsung bergegas memasukkan sepeda ke dalam garasi. Kemudian langsung berlari ke dalam kamar. Membiarkan tubuh dalam keadaan tertelungkup begitu saja. Aku hanya berpikir, semua teman itu baik. Mereka juga tidak jahat atau berusaha menindas aku, sepertinya. Kalau memang Ibu tidak suka, berarti aku harus berubah. Esoknya, aku belajar mengenakan rok sendiri dengan baju yang lebih feminim.
Nah, dari kejadian kecil itulah, akhirnya aku bisa menjadi perempuan yang layak sampai sekarang.

***

Kini beralih pada masalah pendidikan. Kau suka pelajaran Matematika? Semoga saja kau suka, karena aku SANGAT TIDAK SUKA. Padahal cita-citanya mau jadi arsitek, tapi tetap saja tidak bisa berhitung. Paling malas kalau harus menghafalkan rumus. Kalau di rumah, ayahku paling gencar memarahi aku. Pasalnya, aku tidak bisa fokus meskipun sudah diajari ribuan kali. Pernah waktu itu aku mengerjakan soal-soal hitungan sampai pukul 2 pagi. Alhasil, mata sembab karena menangis dan mengantuk. Besok paginya saat bersekolah, materi yang diingat hanyalah seraut wajah Ayah sewaktu marah-marah semalam. Setelah dikumpulkan dan dikoreksi oleh guru, aku maju ke depan kelas dan mengambil kertasnya. Lumayan, hari ini dapat nilai 70. Tapi teman sebangkuku, nilainya 95. Matilah aku! Bisa saingan sama teman sendiri, kalau begini caranya...
Seminggu kemudian, aku menghadapi ujian sekolah. Oke, saatnya berhadapan dengan Matematika. Namun apakah ingatan belajarku semalam akan muncul? Belum tentu. Buktinya saja, satu nomorpun belum kukerjakan. Ah sudahlah, modal “tang-ting-tung” saja, daripada menyontek.
4 hari kemudian, aku mendapati posisi tubuh yang bergidik seraya memegangi kertas hasil ujian. Masya Allah, dapatnya cuma 30. Nilai macam apa ini. Nanti kalau Ayah tahu, aku bisa dihukum...
Ketika aku sedang merenung, salah seorang temanku, Devi, menghampiri dan bertanya padaku.

“Cin, Matematika dapet berapa?”
“Dapet 30,” kataku lirih.
“Hah? 30? Yang bener aja... ntar kalo misalnya bokap loe tau, gimana dong?!” katanya kaget.
“Gak tau. Abis mau gimana lagi, aku udah belajar semaleman tapi hasilnya malah kayak gini...”

“Duh, kasian banget sih loe Nin. Yaudah gini aja, mendingan loe minta remidial gih sama Bu Emma. Gue harap, loe bisa perbaiki nilainya dan nggak akan ngulangi lagi. Masih ada waktu kok Cin,” katanya berusaha menenangkan.

“Ck ah, mesti ngulang lagi nih dari awal. Tapi yaudah deh, makasih yah Dev...”

Malamnya aku mengurung diri di kamar. Bagaimana bisa begini, padahal kan’ sudah belajar mati-matian. Hmm, kira-kira si Devi makan apa yah? Kok bisa pintar begitu. Dengan perlahan, aku membuka buku Matematika diatas meja belajar. Buku setebal itu mau diisi apa? Aku tidak tahu. Menelisik soal-soalnya, mencari jawabannya, menyusun rumusnya tepat di sebelah soal yang ditanyakan. Setelah itu, aku bergegas untuk tidur.
Di sekolah. Aku hanya bisa menunduk saat teman-teman melihatku. Pastinya mereka sudah tahu, berapa nilaiku kemarin.
Saat Bu Emma sedang memecahkan soal yang sulit di papan tulis, tiada satupun anak yang bisa menjawab soal itu. Beliau sudah berulang kali bertanya, “Ada yang tau rumus lain gak, selain rumus yang saya kasih?” tapi tidak ada yang menjawab. Sebenarnya aku bisa, tapi takut salah. Sepertinya beliau melihatku sedang gelisah, dan berkata, “Gak usah takut salah, ayo siapa yang mau maju?” dan seketika itu juga, aku menunjuk.
Kuhabiskan seluruh bagian papan tulis untuk menghitungnya. Teman-temanku tak bergeming. Setelah selesai menulis, aku lekas duduk kembali. Lantas Bu Emma berkata sambil tersenyum, “Cinin, kalo kamu bisa ngerjain, kenapa gak maju-maju daritadi?” dan aku menjawabnya dengan lega, “Soalnya, saya takut salah, Bu...” ---
Semenjak saat itu, aku tidak punya nilai merah dalam pelajaran Matematika. Belajar terus menerus. Hingga akhirnya aku diikutkan pada ajang Olimpiade Sains - Fisika. Semakin hari, aku jadi mengambil kesimpulan sendiri. Suatu saat, aku akan terlibat dan dilibatkan dalam masalah hitungan di kehidupan nyata. Ini hanya masalah bagaimana caranya agar bisa mengelola logika. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain untuk itu, karena semua orang punya masalahnya sendiri. Baru sekarang ini, aku mendapatkan hasilnya di dunia perkuliahan, seperti Matematika Bisnis, Manajemen Keuangan, Ekonomi Manajerial, Akuntansi Manajemen, Dasar Akuntansi, atau Studi Kelayakan Bisnis. Semuanya hampir tidak meleset, mendapat nilai A.

***

Masih mau dilanjutkan ceritanya? Baiklah kalau begitu. 
Saat aku masih belia, aku pernah mengajukan satu pertanyaan menggelikan pada Ayah. Beliau adalah orang yang sangat pandai dalam menilai fisik dan karakter orang lain.
“Pak, kalo menurut Bapak, Tya itu sebenernya termasuk cewek yang kayak gimana sih Pak? Cewek yang cantik, cewek yang manis, cakep, cewek yang cool, biasa-biasa aja, atau gimana yah?”
“Kamu itu termasuk cantik, sayang. Kamu tau gak kenapa? Soalnya pipimu tirus, persis kayak ibumu. Biasanya perempuan yang begitu pasti punya karakter kuat,”
“Bapak gak bohong, kan? Tya kan’ gak cantik... ibu tuh, yang pantes dibilang cantik. Makanya kenapa semua orang suka ngeliatin ibu,” kataku sambil berpikir. Perkataanku benar, karena aku menilai diri sendiri saat itu : dandanan buruk, bertubuh kurus, kulit yang hitam, dan penampilanku yang serba hancur.
“Kenapa Bapak mesti bohong? Kalo gak percaya, liat aja sendiri di kaca. Yang tau bagaimana kamu kan’ dirimu sendiri. Berharaplah yang terbaik dari Allah. Bapak gak pernah salah kalo menilai kamu, karena kamu anak Bapak...” katanya tersenyum.
“Oh, okay daddy.”

Berharaplah yang terbaik dari Allah. Kalimatnya lugas, tapi mengena. Aku hanya tidak bisa terima kalau pernyataan itu jatuh padaku. Ini namanya penghinaan. Lama sekali aku memandangi cermin, sedangkan rupaku tidak ada yang bagus. Wah, ada yang tidak beres sepertinya.
Setiap bel istirahat berbunyi, kupandangi tiap langkah teman-teman wanitaku yang mengundang banyak mata. Siapa yang tak tahan, melihat caranya berjalan bagaikan model busana fesyen. Semuanya cantik dan anggun. Bentuk tubuhnya bagus, seperti liukan jam pasir. Atau semacam gitar spanyol. Aku menggumam sendiri --- apakah aku bisa menjadi seperti mereka?
Semakin hari, semakin banyak orang yang menilai perubahanku. Seringkali kakak-kakak sepupuku mencubit hidungku, pipiku, atau sahabatku yang gemas melihatku sambil menciumku (eits, yang ini hanya beberapa orang saja kok, dan tentunya perempuan, hahaha). Kalau tidak, terkadang komentar ganjil berasal dari tante, oom dan saudara-saudara jauh yang jarang bertemu dengan keluarga kami. Cantik? Ah masa sih? Itu adalah pertanyaan yang timbul saat bertemu atau bertegur sapa. Bukankah setiap wanita itu ditakdirkan untuk menjadi indah, tergantung dari bagaimana caranya dia mencintai diri sendiri? Demi Tuhan aku katakan, sampai sekarang aku masih belum mengerti apa alasannya aku mendapatkan julukan itu. Apakah karena dulu Ayahku pernah mengatakan tentang harapan itu? Bisa jadi.

“Yang, sebenernya kamu itu cantik, tau.” tukas sahabatku, Yessy, pada saat kami berjalan beriringan di sepanjang area kampus, 3 hari yang lalu. Menuju terminal bus.
“Cantik darimananya, say? Aku malah heran, kok kamu bisa bilang kayak gitu,” kataku sambil mengernyitkan dahi.
“Iya... cantik... mukanya keliatan Indonesia-nya gitu deh, yang...” katanya meyakinkan.
“Hah???” ---

***

Nah, kalau yang ini, agak lain ceritanya.
Ada beberapa orang teman kuliah yang dulu pernah melalui hari-hari bersama denganku. Maaf, aku tidak bisa menyebutkan siapa saja orangnya. Yang jelas, mereka pernah mengintrogasi aku di depan kampus. Tentu saja, di hadapan sekian banyak orang. Hanya karena kesalahanku yang tidak bisa dimaafkan, dan ketidakpekaan diriku terhadap mereka yang selalu ingin dihargai. Kalau aku sendiri, berhadapan dengan mereka, berarti memang aku yang salah. Ternyata permintaan maaf saja tidak cukup, sehingga aku diharuskan untuk mengasingkan diri, tanpa adanya mereka. Antara harus membuang muka dan pergi menjauh, aku tidak bisa lari. Hari-hari begitu berat dirasa, dan aku memutuskan untuk menangis di depan sahabat karibku, Birgitta, setelah pulang kuliah.
“Kenapa sih, cuma masalah buku diary aja diributin. Itu kan hakku buat menulis, karena itu emang punyaku. Oke, aku akui aku salah. Harusnya aku jangan terlalu percaya sama mereka. Lagian salah sendiri kenapa pengen tau. Emangnya aku sok cantik yah? Sok pinter? Trus sombong? Iya? Jadi selama ini mereka gak tulus buat temenan sama aku? Masya Allah, jahat banget...” kataku terisak.
“Yaudah, Cin... jangan nangis terus... yang sabar yah Cin...” katanya sambil mengelus pundakku.
“Gak bisa begitu dong... itu namanya egois. Apa sih artinya berteman, tapi kemana-mana harus sama-sama? Jadi gak bisa berteman dengan yang lain. Rasanya itu... kayak dimanfaatin, tau gak. Tapi giliran situasinya begini, gak ada satupun uluran tangan yang mau terbuka...”
“Cinin, kamu harus tau satu hal. Gak semua orang itu baik. Mungkin aja mereka iri sama kamu. Allah itu tau kamu kayak gimana, Cinin. Percaya deh sama Allah, dia gak akan bikin manusia-nya tersiksa kelamaan... dan kesabaran kamu lagi diuji sekarang. Berharap aja suatu saat nanti Tuhan bisa ngasih kamu temen-temen yang baik, dan nantinya kamu bakal tau, siapa yang beneran tulus temenan sama kamu...”
“Apa mulai sekarang aku serius sama kuliahku dulu aja yah? Tapi aku gak yakin...”
“Kamu pasti bisa lewatin semuanya... kan’ ada aku disini. Buktikan kalo kamu bisa lebih baik dari mereka. Kamu kan’ udah dewasa, udah gede, jadi pasti bisa memilah dulu mana yang mau dijadiin prioritas. Yang penting tetep sabar, tetep ikhlas, berdo’a sama Allah... kalo perlu, shalat tahajud aja, Cin.”
“.............................................”
Untungnya dia mengerti betul bagaimana kondisiku. Itulah sebabnya, mengapa sampai sekarang aku tidak bisa lupa dengan nasihatnya yang berharga. Keesokan harinya, aku menjalani hari-hari di kampus sendirian. Sesekali ada teman-teman yang peduli, atau yang sedang berpikir. Tapi begitulah, semuanya karena aku yang memilih untuk menjalaninya sendiri. Kalau biasanya selalu sama-sama, dan sekarang sendirian, berarti Cinin punya masalah. Aku cuma bisa tersenyum, menguatkan diri dengan cara itu.
Karena aku punya tujuan hidup disini, jadi keseharianku hanya disibukkan dengan bekerja di kantor sekaligus mengerjakan tugas-tugas kuliah saja. Hanya temanku itu yang masih bisa menaruh harapan padaku. Tidak terasa hampir 2 tahun berjalan, akhirnya aku melalui hidup dengan teman-teman yang lain. Tidak jarang juga kalau sahabat-sahabatku rela menghampiriku hanya untuk meluapkan tangis. Dan nasihat teman baikku itu, tidak hanya menjadi harapan lagi.

***

Satu lagi.
Ini mengenai masalah percintaan. Sahabatku sedang gundah kali ini. Dia sedang menyukai seseorang waktu itu. Tapi, akhir-akhir ini orang yang dia sukai sedang didekati wanita lain. Betapa hancurnya dia, dan aku selalu tahu itu. Ini adalah sepenggalan pesan yang dia kirimkan padaku lewat ponsel :
“Say, kamu dimanaaa? Aku pengen nangis... kayaknya dia gak suka deh sama aku. Abisnya dia lagi deket sama kakak kelas... pokoknya tiap kali aku sms-an, dia cuma nyeritain cewek itu terus ke aku. Aku mesti gimana dong say? Apa aku mundur dari sekarang aja yah... takut dianya tau kalo aku suka...”
Lalu aku balas pesannya.
“Emangnya dia cerita apaan aja ke kamu?”
“Ya gitu deh... ah pokoknya pengen nangiiis... aku mundur sekarang aja deh,”
“Oke gini. Kamu pernah ngerasain hal yang ganjil gak, waktu deketan sama dia? Atau mungkin ada sikap yang gak biasa waktu kalian lagi berduaan? Trus apa dia sering sms-in kamu atau pengen jemput kamu? Soalnya aneh banget kalo dia gak suka, tapi sering menghubungi kamu. Say, percaya deh, dia tuh suka sama kamu. Cuma mungkin belum saatnya bagi dia buat ngutarain. Gak peduli dia ngomongin tentang siapa, it’s nothing. Aku malah justru berharap supaya kalian bisa jadian...”
“.............................................”
Hening sekali. Tidak ada pesan yang masuk setelah aku berkata begitu. Pasti tebakanku tidak meleset. Dan dia, takkan bisa lari dari intuisiku.
“Mendingan kamu tungguin aja. Gak usah buru-buru. Kamu gak perlu nangis yah, pokoknya kamu harus semangat lagi. Udah cukup buat kamu, nangis seharian ini.” ---
Entah seminggu atau dua minggu kemudian, kalau tidak salah, akhirnya mereka berdua benar-benar jadian. Aku hanya bisa tersenyum dengan manis saat melihatnya berlari menghampiriku, seraya mengatakan padaku dengan wajah yang berbinar :
“Yang, kamu bener, dia akhirnya nembak aku. Tau gak, aku gak nyangka loh kalo dia ngomong cinta ke aku pas malem itu. Makasih yah yang, aku seneng banget...”
“Hehehe, iyaaa, kan’ aku udah berharap,” kataku sederhana.

***

Do you see?
Harus berapa banyak aku memberi contohnya padamu?
Aku memang sengaja menggarisbawahi kalimat-kalimat diatas yang dipenuhi oleh harapan. Itu pertanda bahwa harapan bisa datang dari siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Berapa banyak orang yang sering mengabaikan kata-kata harapan saat ini. Setelah masuk telinga kiri, keluarnya telinga kanan. Padahal, kalau orang itu punya harapan yang lebih pada kita, bentuknya sudah seperti do’a. Kau tahu kan? Orangtua kita pasti punya maksud tertentu saat memberi nama untuk kita ketika lahir. Namaku sendiri sangat indah artinya.
Pergi dari rasa sakit itu memang menyebalkan. Berjuang meraih suatu ketidakpastian itu juga terkadang cukup menyiksa. Mungkin akan jadi penjelasan bila apa yang kita tanyakan bisa terjawab. Kemudian, memiliki keinginan yang lebih dari apa yang sudah diperoleh sekarang, itu bukan hal yang berlebihan. Setiap orang yang dihidupkan oleh Tuhan itu diharapkan untuk mempunyai mimpi. Yah, pokoknya selama kita masih berada dalam kehidupan yang stagnan dan tidak berbelit-belit. Yang terpenting adalah, kita masih mau berusaha dan berharap.
Tadinya, aku tidak pernah bisa bernyanyi. Tapi saat berlatih terus-menerus sejak masih kecil, akhirnya aku bisa.
Tadinya, aku tidak bisa menulis. Tapi saat aku mencobanya saat masih remaja, sekarang aku bisa.
Tadinya, aku bukan perempuan yang modis. Tapi sekarang? Kau kan’ bisa lihat sendiri.
Tadinya, aku tidak bisa bermain gitar. Tapi, akhirnya bisa juga, meski suaranya jadi aneh waktu dipetik. Lho? Hahaha... *maklum, gitaris gadungan*
Tadinya, aku benci memasak. Tapi karena tuntutan sebagai perempuan... yah, akhirnya jadi bisa deh.
Tadinya, aku selalu dinasihati oleh orang lain. Kini, aku yang sering dituntut untuk menasihati.
Tadinya, aku bukan orang kompeten dalam berdebat. And now, I’m the one.
Tadinya, aku berpikir ‘gak bakalan mungkin’ kalau kuliah sambil kerja saat masih sekolah. Akhirnya, justru jadi sungguhan.
Tadinya, aku tidak punya teman. Setelah itu, aku punya banyak teman dan sahabat.
Tadinya, aku kurang yakin untuk mengenakan hijab. Hingga akhirnya, punya kemauan buat menjadi orang yang tawadhu’. Hehehe J
Tadinya, tidak ada satupun pria yang sudi melirikku. Tapi sekarang... alhamdulillah banyak kenalan. Sekarang jadi bingung deh, pilih yang mana. Hehehe.
Tadinya. ---

***

Ini adalah sebuah percakapan di situs jejaring sosial yang akan selalu teringat dalam hidupku.
“Fina sayang, kamu apa kabar? Wah udah lama banget kita gak ngobrol-ngobrol lagi, hehehe...”
“Ciniiiinnn, aku alhamdulillah baik say... kamu sendiri gimana? Kuliahnya lancar?”
“Hihihi, alhamdulillah baik juga Fin, cuman yah... lagi dikerjain sama dosen, kebanyakan tugas, heeuu...”
“Hohoho... semangat lah sayang, Cinin pasti bisa...”
“Makasih Fina, kamu juga yah!”
---
Beberapa menit kemudian, aku membuka situs Twitter di sebelah tab Facebook. Ternyata Fina juga sedang aktif di beranda. Lantas aku melihat sekilas tentang profilnya. Dia punya persamaan tujuan denganku : sama-sama ingin mencari beasiswa ke Australia.

Fina Prichilia : Grrrrr.. 
Kenapa sayang? RT @finapris : Grrrrr.. 
@finapris : I'm oke, cuma harus banyak refreshing nih :D
@CinintyaList_ : Hihihi, iya nih sama Fina, jenuh juga nih lama2, pingin pergi ke suatu tempat, pingin jalan2. 
@finapris : Kuliah di luar aja Cinin. Asoy tuh, hihihi...
@CinintyaList_ : Hahaha, maunya sih gitu Fina :D kuliah di luar, tapi.. sekarang masih belum ada jalannya, masih berusaha. 
@finapris : Waw hebaaat :D yayaya, smoga gak lama lagi ada kesempatan itu amin amin :))
@CinintyaList_ :  amien amien makasih banyak Finaaa! Ayo dong kita bareng2 cari beasiswa, hihi :p
@finapris : Hihi waw! ayooo :D kabar2an Cin! RT @CinintyaList_ :  amien amien makasih banyak Finaaa! (cont)
@CinintyaList_ : Hihihi okee okee, dirimu mau cari beasiswa kemana rencananya say? 
@finapris : Ostrali Cin (ʃoƪ) kamu?
@CinintyaList_ : Lah? Hihihi kita samaan dong say, kalo aku mau ikutan di UQ, Aussie :p

..........................................................................................................................................

Aku mulai memutar otak sedari tadi. Menulis status dengan kepala yang terasa pening. Memicingkan mata dengan fokus.

“Lagi pusing, mikirin ide bisnis yang mau dijalani.”

Tak lama setelah statusku terpasang, ternyata Fina juga sedang menyalakan Twitter-nya.

:O RT @CinintyaList_ : Lagi pusing, mikirin ide bisnis yang mau dijalani.
@CinintyaList_  : Hihihi, kenapa mukamu jadi bengong begitu? 
@finapris : Kagum dong Cin :)) sukses buat segala cita & cinta kamu yaa ;)
................................................................................................................................................................................................

........................................................................................................................................................


#Phyllis St. James – Candle Light Afternoon#

Aku menatap layar notebook tak bergeming. Hanya nuansa musik jazz itu yang masih menemaniku. Mengejar cita dan cinta. Hmm, Fina sepertinya benar-benar mengerti apa yang sedang kuhadapi sekarang. Sudah sekian orang yang berkata begitu. Namun entah mengapa sampai sekarang hatiku belum terketuk untuk memikirkan hal itu lebih dalam. Kini, aku hanya tersenyum kala mendengar pernyataan sahabatku itu.
Tapi apakah semua itu hanya menjadi angan bagiku? Bagaimana aku bisa mengabaikan beberapa tanggapan, dukungan, informasi lebih banyak lagi setelah Fina mengatakan itu. Bagaimana aku bisa menghiraukan begitu banyaknya saran yang diberikan oleh beberapa saudara, dosen-dosen, dan teman-temanku yang sudah memperoleh pendidikan di luar negeri. Walau pada akhirnya, aku selalu ragu.
Tentunya, aku berusaha melakukan yang terbaik sebelum semuanya terjadi. Hanya tuk’ memastikan apakah seluruh upayaku bisa terlaksana. Setiap hari aku hanya memiliki 3 pemikiran :
“Aku percaya bahwa aku bisa.”
“Aku tidak yakin bahwa aku bisa.”
Dan yang terakhir,
“Aku yakin bahwa aku tidak bisa.”  ---

Nah, sekarang adalah saatnya kamu merancang harapanmu sendiri. Akupun masih sibuk menata pekerjaan, perkuliahan, kelulusan, dan rencana-rencana hebatku. Tidak usah menunggu orang lain untuk mendahului sebuah pergerakan. Lantas, bagaimana dengan urusan bermimpi? Ah, tidak perlu khawatir. Aku juga punya banyak mimpi. Apalah artinya kita hidup tanpa mimpi dan cita-cita, meski yang diinginkan adalah sesuatu yang sangat sederhana. Impian itu laksana niat yang baik, dan jadikan usaha kita sebagai ikhtiar-nya. Tuhan itu pernah bersabda :

“... Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”


..........................................................................................................................................................................................................

Selamat bermimpi. 
Aku ingin mengejar harapanku lagi.
Dengan caraku yang tidak biasa. ---




romantic poems