Wasiat Ibunda
Terima kasih
sebelumnya.
Malam ini aku sedang tidak melakukan sesuatu yang penting.
Mengkhayal. Setelah aku lelah sepanjang hari , hadir diantara teman-teman dan
menuntaskan semua tugas. Hampir saja aku terlelap dalam luapan air mata. Aku
mendapatkan inspirasi lagi hari ini. Seperti biasa , aku melepaskan sepatuku ,
bergegas ke kamar dan berganti pakaian. Tapi aku jadi ingat ibu. Sepulang dari
sekolah selalu menanyakan apakah aku sudah makan. Sudah shalat apa belum. Tapi
aku selalu menemukan beliau dalam keadaan tidak siap dalam hal apapun. Aku baru
sadar , bahwa sebelum beliau meninggal , beliau mewariskan sesuatu yang tidak
bisa kulupakan...
Secara tidak sadar aku menuju ke kamar ibu dan menemukan
sebuah surat izin yang ibu tulis ketika aku tidak dapat masuk sekolah , saat
itu. Kubaca dan kuamati...
“ .......... Dengan hormat , saya
selaku orangtua dari siswi yang bernama :
Nama : Cinintya Listianti
Kelas : 10 - 1
Dengan
ini menyatakan bahwa anak kami tersebut tidak dapat mengikuti pelajaran sekolah
dikarenakan sakit ........ “
Air mata ini
menggenangi seisi ruangan kamar ibu. Dengan tulisannya yang rapi , dan tegak
lurus. Kertas itu hampir robek karena basah... dan masih terngiang-ngiang
pembicaraan ibu padaku.
“ Tya , kamu kalo nulis jangan miring ke
kiri , itu tandanya kamu nggak punya pendirian ... “
“ Kalo nulisnya miring ke kanan
boleh nggak bu? ”
“ Lebih baik tegak lurus , kayak tulisan
ibu ... “
Lalu ibu
memberikan secarik kertas yang sudah beliau tulis dengan rapi. Aku membacanya.
Teratur sekali. Dan aku mulai berlatih untuk menulis tegak...
Sejak saat itu aku tidak pernah berubah-ubah dalam tulisan.
Akhirnya kertas itu aku lipat dan kusimpan. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu
aku simpan dimana. Kemudian aku menengok ke arah tempat persediaan obat ibu.
Ada beberapa plastik pembungkus obat yang masih tercantum nama ibu.
“ ..... Ny. Dyah Wulandari ,
tanggal 30 / 6 / 07 , diminum 3 kali sehari... habiskan ! “
Kasihan ibu.
Setiap hari zat-zat kimia tidak berhenti masuk ke tubuh ibu. Aku ingat saat ibu
menyuruhku untuk mengambilkan beberapa butir obat ketika beliau sedang memasak.
“ Tiga kapsul ya nak ... “
Tiga kapsul
sehari ??? Bagaimana dengan ginjal ibu. Maka dari itu entah mengapa ayah dan
ibu sangat menginginkanku menjadi seorang dokter. Karena mereka ingin aku bisa
menyembuhkan penyakit ayah kalau sudah besar nanti , terutama ibu. Tapi aku
tetap tidak bisa , karena bukan itu keahlianku. Jika sekiranya mereka
menginginkan rumah , aku pasti akan mengabulkannya.
Perlahan tapi pasti. Lalu aku
menengok ke sebuah lemari pakaian ibu. Banyak busana yang tersusun rapi disana.
Kembali aku memikirkan perkataan ibu...
“ Tya , ibuk pantes nggak , pake blus
ini ? Apa ibuk pake atasan longgar aja ya ? “ ...
Ibu terlihat sangat senang ketika menyesuaikan busana di
depan cermin. Dia nampak sangat bahagia. Setiap ada acara keluarga , ibu selalu
begitu dan berusaha agar tampak sempurna dan menarik dalam acara nanti. Namun
upaya ibu tidak sia-sia. Ibu berhasil menunjukkan kepada semua orang dan dapat
membuat anaknya tidak merasa malu. Ah , ibu...
Busana beliau sangat banyak ,
hingga sepertinya aku tidak akan dapat menggunakan itu semua satu persatu dan
mencocokannya di depan cermin. Aku pasti akan menjadi seorang ibu , tapi bukan
sekarang.
Kemudian aku melihat tempat tidur yang selalu menemani ibu di
setiap waktu. Terbayang-bayang dalam pikiranku , saat ibu tertidur pulas disana
setelah aku pulang sekolah , siang hari. Menghadap ke dinding , dan kembali
menghadap jendela. Posisi tidur ibu selalu demikian. Dengan jari jemarinya yang
berhiaskan cincin emas , gelang rantai. Menggunakan daster kembang-kembang.
Buku-buku do’a dan ponsel ibu berdampingan dengan alas kepala. Mata terpejam.
Pada saat itu juga aku selalu mengawasi tidurnya dengan cukup lama , yang
terjaga karena kekhawatirannya terhadap penderitaan dan penantian hidup.
Saat ibu sedang merias wajah , aku lihat beliau sedang
mengoleskan krim pada wajah. Disentuh dengan lembut dan menutupinya kembali
dengan bedak. Mengukir beberapa guratan pada alis dan kelopak mata. Blush on ,
tidak pernah lupa. Sebagai penutup , beliau mengakhirinya dengan memanjakan
rambut dan tidak terasa beberapa helai rambut berjatuhan di lantai kamar.
Banyak sekali.
Aku tercengang.
Oh Ibu , aku tahu pasti mahkotamu sedang pening saat ini. Memikirkan persoalan
rumah tangga yang tiada habisnya. Aku ikut berduka , bu. Ini semua karena
ulahku , yang tidak bisa setiap saat berada disampingmu dan mengetahui
keadaanmu.
Terakhir , ketika aku ingin
menjalankan ibadah , aku melihat mukena ibu tertutup dengan kain bantal. Aku
mengambilnya , lantas menciumnya. Baunya khas , wangi parfum kesukaan ibu. Terulang
kembali ingatanku , saat ibu menasehatiku bagaimana caranya mendo’akan
orang-orang yang sudah tiada...
“ Kamu harus rajin-rajin do’ain Kaik
sehabis shalat , biar Kaik tenang disana , jadi biar Kaik bisa dahar anggur
disana ... dulu waktu ibuk masih kecil , ibuk diajarin gitu ... “
“ Bu , dalem kangen sama Kaik ...
dalem pun belum pernah liat sedikitpun wajahnya Kaik ... “
“ Tya sayang , Kaik itu orangnya
bijaksana . Kaik itu baik sama semua orang . Kaik tuh nggak pernah marah kalo
anaknya bandel , Kaik orangnya sabar banget , nggak pernah ada kata penyesalan
kalo udah jadi anaknya Kaik , semuanya sayang sama Kaik ... kalo kamu mau
ketemu Kaik , kamu harus rajin shalat biar bisa masuk surga ... ya sayang ? “
Aku hanya
mengangguk. Waktu itu aku masih berumur 12 tahun , saat hujan es melanda
rumahku dengan sangat dahsyat. Aku bercengkrama dengan ibu di tempat tidur ,
saat ingin memejamkan mata. Ibu menciumku dan menemaniku hingga aku terlelap...
Musik. Aku juga diajari sesuatu
yang penting oleh beliau , bagaimana memilih selera musik yang sesuai dengan
kepribadian kita. Karena musik mencerminkan perilaku dalam diri dan menggambarkan
jiwa yang telah kita ukir melalui nada. Awal mulanya aku tidak mengerti , tapi
lama-lama aku mengerti juga.
“ Tya , musik itu menggambarkan
kepribadian , jadi , selera tergantung dari kebiasaan dan perasaan kita , kalo
kamu suka musik yang keras , berarti kamu orang yang hatinya sekeras batu ...
tapi kalo kamu suka dengan selera musik yang lembut , berarti kamu adalah tipe
perempuan yang lembut juga ... kamu bisa melihat karakter seseorang melalui
aliran musiknya ... “
“ Kalo misalnya ada orang yang suka
musik yang sedih-sedih , apa berarti orang tersebut hatinya sedang kalang kabut
? Tapi kan mata nggak bisa bohong bu ... “
“ Iya ... tapi selain dari mata , kamu
bisa lihat dari penampilannya ... dia orang yang teratur apa urakan ... kamu
anak yang kritis , jadi ibuk tahu kamu pasti ngerti ... “
Ibu benar. Aku tidak bisa melihat dari penampilannya saja ,
jiwanya pun harus. Bagaimana dia berbicara , menanggapi sesuatu , cara dia
mengambil sikap , itu semua terbaca hanya dari sebuah alunan musik. Untuk jiwaku
kali ini , aku tahu apa yang terbaik untukku. Alunan musik smooth jazz , mellow , slow dance , melancholis , slow rock...
adalah seluruh jawaban dari isi hatiku...
Sebelum ibu pergi untuk tidur panjang , beliau sempat
memberikanku 3 buah kaos bermotif , segenggam kamus kecil , sebuah buku catatan
berisikan kata-kata kunci dalam bhs. Inggris yang beliau tulis semasa SMA dan
sebuah permintaan. 3 buah kaos bermotif itu ibu beli di sebuah toko grosir. Ibu
ingin menghadiahkannya padaku. Lalu ibu pernah memberikan kamus mini mirip
kartu joker yang selalu dipelajarinya , ibu ingin aku bisa berbahasa Inggris
dengan mahir. Selain itu ibu menitipkan sebuah buku catatan yang sangat berarti
di hatinya , dan aku sudah berjanji tidak akan merusaknya , karena buku itu
sudah usang. Untuk yang pertama dan yang terakhir , ibu berpesan padaku...
“ Nak , kamu kalo udah besar jangan
kayak ibuk ya , jadi psikolog itu nggak enak nak ... kamu harus bisa lebih dari
bapak dan ibuk . Kamu jadi arsitek aja ya nak , supaya kamu bisa betulin rumah
ini , ibuk mau rumah ini dijadiin ... nanti kalo kamu sudah nikah , bapak sama
ibuk bisa ngayomi rumah ini sampai ibuk tua ... “
“ Iya buk ... pasti ... ibuk nggak
perlu khawatir ... dalem janji ... dalem nggak mau bikin malu bapak sama ibuk
di depan semua orang ... dalem minta do’a restunya ibuk ... “
Banyak hal menyenangkan yang aku lalui bersama ibu. Lihatlah
sebuah foto yang terdapat pada atas layar monitor komputerku. Begitu jelas
keakrabanku terhadap beliau semasa kecil , hingga apapun dilakukan selalu
berdua. Sepotong roti dibagi berdua , secangkir kopi susu dibagi berdua ,
masalah dibagi berdua , alas bantalpun dibagi berdua. Kasihan adikku. Aku tahu
di dalam hatinya sedang menjerit. Tapi memang aku sudah ditakdirkan untuk bisa menghabiskan
hidup berdua. Dan aku harus menyampaikan wasiat ibu kepada kalian , karena
hanya ada aku yang berada pada situasi tersebut. Ibu bercita-cita agar suatu
saat nanti beliau mempunyai sebuah usaha yang dilakukannya sendiri. Menciptakan
tempat pernak-pernik lucu dari bahan stiker. Tapi sekarang tidak hanya stiker
yang dapat engkau ciptakan , bu... melainkan sejuta kenangan manis dan milyaran
inspirasi yang telah kau berikan untuk kami , terutama diriku. Karena aku akan
tumbuh seperti apa yang engkau banggakan , yang tidak dapat orang lain temukan
di dalam setiap sanubari manusia...
Good
night. ---

Comments
Post a Comment