Suatu Pembelajaran di Terminal Kota
Jakarta,
29th June 2011
#De
Barge – Who’s Holding Donna Now*
(Genre
: Romantic Ballads)
Kepada Yth.,
Sahabat & para pembawa kebahagiaan dunia
Di tempat
Dengan hormat,
Sehubungan
dengan kisah hidup saya baik mengenai masalah cinta di masa lalu atau persoalan
kehidupan, maka dengan ini saya sampaikan kepada Saudara bahwa ada beberapa hal
yang perlu Saudara perhatikan dengan cermat. Saya sangat mengharapkan
partisipasi dari Saudara, sebagai orang-orang yang hidup mewarnai dunia dan
berada dalam hidup saya. Mohon pengertiannya, Saudara. ^_^
***
Sobat, hal yang terbaik dan terindah di dalam hidup
tidaklah dapat dilihat atau disentuh, tetapi dirasakan di dalam hati. Itu
adalah untaian kata yang dirajut oleh Helen Keller. Tahukah kalian siapa dia?
Helen Keller adalah seorang wanita hebat yang dilahirkan di Amerika Serikat
yang menderita penyakit buta, tuli dan bisu semenjak ia masih berumur 19 bulan,
memiliki semangat belajar yang sangat tinggi dan berhasil menjadi salah satu
wanita yang menginspirasi dunia. Aku memang sudah pernah membaca buku
biografinya ketika masih sekolah, tapi tetap saja hal itu melekat dalam otakku.
Kau tahu tidak? Ternyata itu benar. Tapi aku harus mengalami peristiwa yang
cukup aneh. Dan rasanya benar-benar menyakitkan.
Entah mengapa
sejak 2 hari yang lalu, ada sesuatu yang merasuk pikiranku hingga aku tak bisa
tidur. Pada hari Senin sore itu, aku masih membereskan perlengkapan untuk
kembali ke Bogor. Mulanya aku memang tak ingin pulang sendiri, mengharapkan
dalam hati agar Ayah --- yang biasa kupanggil Daddy saat sedang perang-perangan bahasa Inggris lewat ponsel;
berkenan untuk mengantarku pulang dengan mobil sedan warna krem kesukaanku itu.
Aku berusaha menahan keinginan terdalamku ini. Tapi ternyata tidak bisa, karena
Ayah harus meeting besok pagi dengan
rekan-rekan kantornya. Lagipula, aku pikir, Ayah akan menghadapi masalah
kemacetan setelah sepulang dari mengantar ke Bogor nantinya. Dan aku memahami.
---
Ada masalah
dengan kartu telepon Ayah. Padahal itu baru dibelinya sekitar seminggu yang
lalu. Aku diutus untuk memperbaikinya dengan cara memasukkan kartu itu ke dalam
ponselku. Sepertinya ada kesalahan jaringan. Kemudian, aku bergegas mengambil
tas merah-ku.
Seperti biasa,
aku mencium tangan beliau dan mengecup pipinya sekilas. Didampingi oleh adik
tampanku yang siap mengantarku dengan sepeda motor ke tempat pangkalan angkutan
umum. Lalu kuhampiri Bibi-ku yang selalu membantuku di rumah. Aku memeluknya.
Di tengah
perjalanan, aku dan adik tak bergeming. Kami berdua tidak dapat merasakan
keganjilan sedikitpun, terutama aku. Nah, ketika aku tiba disana dan masuk ke
dalam angkot, aku segera menghubungi
sahabatku, Yessy, yang akan kusinggahi kost-annya sebagai tempat penginapan
untuk kegiatan safari bisnis ke berbagai perusahaan esok hari.
Tapi, ada
sesuatu yang salah.
Aku tak bisa
menghubunginya. Setelah kuperiksa, ternyata ini kartu ponsel Ayah. Mati aku... berarti kartuku ketinggalan di
rumah... kalo udah kayak gini, aku mesti gimana... mau kembali ke rumah, tapi
waktunya udah makin sore... nanti kalo Bapak mau nelpon dan nanyain aku ada
dimana, pasti repot... aduh, mesti nyari akal nih...
Aku semakin
gelisah karena itu artinya 3 hari ke depan aku tidak akan berkutat dengan alat
komunikasi apapun. Tidak ada fesbuk. Tidak ada blog. Tidak ada sms, dan tidak
ada telepon. Ah, sudahlah. Itu berarti Tuhan memberiku pelajaran bahwa
bagaimana rasanya hidup tanpa komunikasi; atau menjadi orang yang kurang mampu,
yang tak dapat membeli ponsel, bahkan selalu kesulitan untuk mencari sesuap
nasi.
Aku melamun.
Memandangi jalan raya dengan harapan agar nanti tidak ada kendala kedua yang
aku hadapi. Lalu, supir angkot langgananku berkata...
“Mau ke Bogor
lagi yee, Non? Emang udah kelar liburnyee?”
“Belom nih, Bang...
saya mah besok mo ada safari bisnis di kampus... jadinya kepaksa berangkat
sekarang deh,”
“Oh... kirain
udah masuk, Non...”
“Hehehe...
belom,”
Setelah sampai
di terminal, aku merogoh saku celana dan memberi uang lima ribu rupiah padanya.
Aku berjalan dengan cepat dan tiba-tiba aku dikelilingi oleh orang-orang tak
dikenal. Biasanya, mereka tak menyapa seperti ini.
“Teh... bade
kamana, ceunah? Geulis pisan ih si teteh,”
“Neng...
hayang kamana atuh? Perlu abang anterin?”
“Euleeuh,
euleeuh... manis pisan teh senyumnya,”
“Hayuuk,
teh... sini saya bawain tasnya... mo ke Bogor kan? Saya mah tau kalo ama yang
ini,”
Aduh, apa lagi sih ini. Mana aku bawa notebook
segala lagi. Kalo nanti aku diapa-apain, gimana coba. Aku hanya
tersenyum biasa dan berusaha bersikap sewajarnya untuk menolak pertolongan
secara baik-baik. Tapi mereka selalu menghalangi jalanku dan terus memaksaku. Oh gak, Bang... trimakasih... kataku
sambil tersenyum kecut.
Lagi dan lagi,
berlari ke dalam pintu gerbang terminal dan bertemu dengan satpam yang bermuka
masam dan menyebalkan. Aku membayar uang masuk dengan sama masamnya. Dia adalah
pengganti satpam yang dulu sering melayaniku dengan ramah dan bersahabat. Aku
memikirkan beliau sekarang. Mengapa harus orang aneh ini yang ada di hadapanku.
Ketika
berjalan menuju parkiran bus, aku dikejar oleh seorang anak penjual aksesoris
yang kira-kira berusia 16 tahun. Ia tidak segera menawarkan barang dagangannya
padaku layaknya seorang konsumen, tapi dengan sikap genitnya, ia justru
berusaha menarik perhatianku dengan mengedip mata dan menanyakan aku akan pergi
kemana. Berkali-kali aku mengatakan ‘trimakasih,
tapi saya gak berminat buat beli’... ia tetap bersikeras memaksaku untuk
bicara.
Kulangkahkan
kaki dengan cepat.
Memusatkan
pikiran pada arah tujuanku pergi.
Tapi ia masih
mengikutiku.
Sesaat
kemudian, mataku bergerak untuk mencari bus jurusan Kp. Rambutan – Bogor. Ah,
sial. Hanya satu bus yang masih tersisa. Aku menghentikan langkah sejenak untuk
menghela nafas yang tak bernada. Kupandangi berbagai sisi badan bus sampai
akhirnya aku bertanya pada seorang kondektur yang biasa berdiri di sisi kanan
bus.
“Maaf, Pak.
Ini bus menuju terminal Baranangsiang, kan’?” aku memastikan.
“Iya, Mbak...
naik aja... bukannya waktu itu Mbak pernah naik ini, kan’?” ia masih
mengingatku ternyata.
“Hmm, saya
takut salah naik soalnya,” kataku tersenyum.
“Oh gitu
Mbak...”
Ia mengerutkan
dahi seakan tak percaya pada apa yang kutanyakan. Mungkin karena kebingungan
yang menghinggapi, dan aku hampir terlupa. Setelah berterimakasih padanya, aku
bergegas masuk ke dalam bus. Oh, Tuhan...
mimpi apa aku semalam. Panas sekali disini, hingga dapat kuperhatikan semua
orang sibuk mendinginkan tubuhnya dengan segenggam koran, kipas, bahkan buku
teka-teki silang. Aku berjalan dengan semua sisa tenagaku --- menghembuskan
nafas panjang dan mencari tempat duduk di sebelah kanan.
Ternyata, oh
ternyata. Si penjual genit itu masih tak puas juga untuk terus merayuku. Ia
menghampiri tempat dudukku dan mengajak teman-temannya untuk berdatangan ke
arahku. Aku akhirnya bicara.
“Sekali lagi
saya bilang : SAYA GAK BERMINAT !!! Kenapa kamu masih maksa?!” aku terkesiap.
Tak disadari tubuhku sudah tegak berdiri dan menegang.
“Aduuh, Teh...
kasih kita senyum dulu laaah... masa’, cantik-cantik kok galak,” ia tertawa.
“Eh, Dik. Kamu
gak denger tadi saya bilang apa?! Hah?!”
“Iya, iyaaa...
maaf,” ia lekas pergi dengan senyuman jahil.
Astaghfirullahaladzim, ada apa denganku hari ini. Aku sudah
berusaha menahan amarah sedari tadi, dan aku tak biasa melakukan hal seperti
itu. Kurebahkan tubuh kembali ke kursi dan merasakan banyak mata sedang
melihatku. ‘Maaf Pak, maaf Bu... kalo
sudah mengganggu...’ mendengar itu, mereka hanya tersenyum dan menenangkan
keadaan ini seperti semula. Lalu mulailah berdatangan penjual-penjual makanan
hingga sampailah penjual jam tangan menawariku. Tidak, Pak... trimakasih...
Kuraih jam
tanganku. Setengah lima sore. Kuhitung dengan bayangan, kira-kira sampai pukul
berapa aku akan tiba di Bogor. Sebelum adzan Maghrib. Kemudian, pandanganku teralih pada salah satu pria rusuh yang
sejak tadi berpindah tempat duduk kesana kemari, dan berakhir di depanku. Aku
mulai curiga dengan tingkah lakunya; merogoh sesuatu di dalam kantong celana
dengan suara percikan korek api. Ya
Tuhaaan... jangan yang ituuu... aku benci sekali. Ia merokok dengan asap
yang mengepul, membuatku sesak. Pada situasi yang panas seperti ini, ia masih
santai menyulutkan apinya seakan dunia hanya miliknya sendiri. Tadinya aku
ingin beralih, tapi kupikir itu akan menyinggung dirinya. Jadi, aku terpaksa
menahan nafas sesekali sampai ia berhenti merokok.
Aku hanya membeli
sebungkus kacang bawang dari salah seorang penjual kacang yang kelihatannya
sudah sangat berumur; sudah tak layak untuk bekerja; dan sudah sepantasnya bila
ia menikmati hasil jerih payah di masa tua dari anak dan cucunya. Seharusnya
aku butuh air, kau tahu. Untuk menyirami amarahku yang sebentar lagi akan
meledak. Tapi setelah melihat orang ini, dengan kesungguhan yang ia bawa hanya
dari sebungkus kacang, pertahananku akhirnya runtuh. Kalaupun rasanya tidak
enak, aku masih bisa mengerti. ---
Kuraba butir
demi butir kacang di tanganku sambil memandangi pesona di balik jendela.
Jalanan yang penuh sesak, ribuan orang yang mengantri untuk mendapatkan
tumpangan, kondektur dan supir-supir bus yang lalu lalang, pedagang asongan
yang menghitung uang dengan cermatnya, petugas kebersihan yang menggenggam sapu
kesayangannya... atau... pengemis itu. Yang kusaksikan dengan lirih, mengamati
wajah-wajah orang yang melewati dirinya. Mengharapkan kasih dari sedikit uang
yang tak berarti. Bila aku ada di sebelah pengemis itu, aku tak dapat
membayangkan apa yang akan kulakukan padanya. Aku terkesima hingga tak sadar
jika bus ini mulai melaju.
Indonesia,
kau belum merdeka... Indonesia, kau begitu tragis...
Aku mulai
membenarkan posisi dudukku. Ada bunyi ponsel berdering. Tapi itu bukan milikku.
Sepertinya itu ponsel milik seorang pria maskulin yang duduk di depan sepanjang
dua blok dari kursiku. Karena ia memunggungiku, maka sangat jelas sekali bagiku
terhadap apa yang hendak ia lakukan. Ia melepaskan jaket hitamnya dengan gagah
dan mengambil ponsel di saku baju. Lalu menempelkannya di telinga.
“Eh, cyiiin...
eike masih di bis niiih, nelponnya nanti aja yaaaw... ntar kalo dah sampeeii,
eike kasitau yeiy... oceeeyyy?”
“....................”
Aku menahan
tawa sambil membenamkan diri ke dalam jaket dan menundukkan kepala. Aku yakin
seribu persen bahwa ada suara-suara geli yang muncul dari para penumpang.
Sungguh, ini benar-benar hari yang membingungkan. Aku berusaha percaya atas apa
yang kuhadapi sekarang. Aku tidak tahu firasat apa yang kudapatkan semenjak
sore tadi; entah karena harus pulang sendiri, atau menemukan hal-hal unik
disini. YA ALLAH... lucu sekali hariku.
Pukul setengah
tujuh malam. Aku terbangun dari mimpi dan bus yang kutumpangi masih berlari di
jalan tol. Sepertinya dugaanku salah. Tapi, mau bagaimana lagi. Sudah menjadi
takdirku bila harus pulang larut malam.
Setelah sampai
disana, aku bergegas menuruni tangga bus dan segera mencari pangkalan angkutan
umum.
Laladon... Laladon... Laladon...
BTM... BTM... BTM...
Jambu... Jambu... Jambu...
Suara-suara
itu menggema di telingaku. Kulepas jaket cokelat bergradasi krem ini dan
menyampirkannya di pundak kananku. Sebelah pundak lainnya sedang membawa tas
ransel merah. Aku masih sibuk memikirkan keadaan Ayah --- yang mungkin sudah
sejak tadi siang merasa gelisah menunggu kabar dariku. Atau mungkin sudah
membingungkan orang seisi rumah karena tak tahu arti di luar praduga. Begitu
pula dengan sahabat-sahabatku, Yessy dan Yunda. Pasti mereka sudah memutuskan
sesuatu sebelum aku tiba. Mengapa aku
harus berada pada kondisi semacam ini...
Aku tak tahan
lagi.
Ketika selesai
melewati semua perjalanan, kulambaikan tangan pada seorang tukang becak yang
akan mengantarku pulang ke kost-an. Ada beberapa peralatan yang harus kubawa
nanti, sebelum akhirnya aku berangkat ke kost-an sahabatku itu, malam ini juga.
Aku langsung menjatuhkan diri di tempat tidur saat sampai di rumah kecilku. Tak
peduli seberapa kacaunya penampilanku dan beranjak untuk melihat diri di depan
cermin. Aku berantakan sekali.
Beralih pergi
ke kamar mandi untuk menyucikan diri. Mengambil sajadah dan mukenah. Shalat. Terlepas dari itu, aku hanya
ingin menenangkan hati dari segelintir derita dan lelah yang hadir menemaniku
sepanjang hari. Oh, tidak. Perutku kini bernyanyi. Baru kusadari, sudah
seharian ini aku tidak makan apapun. Tapi perjalananku belum berhenti sampai
disini. Aku harus segera berangkat.
BA... RA... NANG... SI... ANG...
Aku
terengah-engah di sepanjang jalan nan gelap dengan mengeja kata-kata itu
berulang kali. Disini banyak sekali anak-anak muda yang duduk-duduk santai di
atas motor; menghisap rokok sesekali malam itu dan bersenda gurau. Aku
mendengar salah seorang dari mereka memanggilku dengan manja. Mungkin mereka
merasa heran bahwa masih ada saja wanita sepertiku yang berani keluar
malam-malam. Apa peduliku?
Kuketuk pintu
sebanyak tiga kali dan tidak ada jawaban. Aku menerobos masuk ke dalam ruangan.
Yessy... aku harus bilang apa sama kamu
nanti... sebentar lagi aku hampir pingsan. Lima langkah kemudian aku menemukannya
di kamar; sedang bicara dengan seseorang lewat ponsel. Seketika itu juga aku
menjatuhkan diri di depan pintu dan mengucapkan hamdalah.
“Assalamu’alaikuuum...
alhamdulillaaah! Yang, maaf tadi aku telat,”
“Wa’alaikum
salam... yaa ampuun, Yang... yaudah gih sana ambil minum dulu, nafas dulu kek
gitu. Aku kan jadi kaget, ngeliat kamu kayak gini,” ia mengambil sebuah gelas
dan menyerahkannya padaku.
“Hmm... sumpah
hari ini bener-bener bikin aku sial... critanya panjang banget, Yang...” aku
meneguk air dengan cepat dan menatap langit-langit penuh keheranan.
“....................”
“Oiya, tadi
kamu sms aku, gak? Masalahnya kartuku tadi ketuker sama punya Ayah di rumah...
jadi maaf banget kalo gak sempet di bales...”
“....................”
“Trus tadi aku
juga gak sempet beliin kamu masakan di Pakdhe’
Marem... aku...”
“... Iya
gapapa kok, Yang. Ini juga baru makan mie. Kalo kamu mau makan, adanya cuma
mie... gapapa?” ia menyela.
“Iya gapapa...
tapi... aku harus ngasih kabar sama Ayah dulu, masalahnya daritadi pasti Ayah
nelpon aku terus,” kataku sambil melepaskan jilbab.
“Oh, yaudah
pake hape-ku aja, Yang... ini,” ia menyerahkan salah satu ponselnya.
“Oke, Yang...”
Aku segera
menuliskan beberapa kalimat di pesan singkat :
... Assalamualaikum, Pak ... ini Tya pake
ponselnya Yessy. Sebelumnya Tya minta maaf karena daritadi gak bisa dihubungi
terus, karena ternyata kartu Tya ketuker sama punya Bapak yang baru dicoba
tadi. Nunsewu, kalo bisa kartu Tya di simpen di laci kamar, nggih Pak ... Trus
tadi Tya coba buat menghubungi Bapak, tapi pulsanya tetep gak berfungsi
meskipun udah di transfer sama temen. Alhamdulillah Tya sekarang udah nyampe di
kost-annya Yessy, mungkin bakalan nginep disini sampe lusa, setelah itu Rabu
paginya Tya langsung pulang ke Jakarta. Kalo ada apa-apa, hubungi Tya lewat
ponsel Yessy aja, ya Pak ...
Teramat
panjang bagi sebuah pesan singkat, tapi setidaknya aku tak perlu lagi
menjelaskan semuanya pada Ayah setelah itu. Semuanya sudah menjadi alasan yang
rasional, sekarang. Tak berapa lama kemudian, aku dan sahabatku mendengar nada bernuansa
jazz Tania Maria – Come With Me di
kamar ini. HAH?! ITU BUNYI PONSEL MILIKKU !!! Aku segera membongkar isi tas
ransel dan menemukannya sedang berkelip-kelip. Daddy.
“Halo, Pak?
Masya Allah, kok bisa sih kartu ini nerima telpon dari Bapak?!”
“Gak tau,
Nak... Bapak juga bingung, giliran buat nerima telpon, bisa... tapi kalo buat
nelpon dan transfer pulsa, gak bisa... aneh nih kartunya,” kata Ayah penasaran.
“Hmm, yaudah
deh... mungkin emang kartunya rusak total, Pak...”
“Tapi kamu
gapapa disana? Trus kamu sama siapa sekarang? Bapak khawatir daritadi miscall-in kamu, tapi tulalit terus...
trus tadi ada kendala gak di jalan???” kata Ayah mengintrogasi.
“Hehehe...
alhamdulillah gapapa kok, Pak... ini lagi sama Yessy... tadi Tya juga udah
nebak kalo Bapak pasti nelponin daritadi siang... hmmm, tadi bus-nya sempet
berenti sih setengah jam di pertigaan tol, soalnya ada masalah sama polisi.
Untungnya masih bisa jalan,” kataku dengan tenang.
“Oh, ya sudah
kalo gitu. Yang penting kamu selamat,”
“Iya,”
“Eh, ini
adikmu daritadi pengen ngomong sama kamu...”
“Oh,
inggih...”
“... Halo,
Mbak... lo gapapa kan disana? Trus sekarang ada dimana? Gue daritadi berdo’a
terus sama Bapak, takut lo kenapa-napa,” suaranya terdengar getir. Baru kali
ini Si Tampan mengkhawatirkan keadaanku. Aku tersenyum sumringah.
“Hmm. Iya
gapapa, Dik. Tumben, kamu perhatian sama Mbak,” kataku menjebak.
“Ah, mulai deh...
yaudah sana buruan makan, udah malem lho, Mbak...”
“Hahaha...
oke, tutup aja telponnya. Salam buat Bapak yaa,”
“Iyooo...”
Selesai sudah.
Aku segera mengambil peralatan mandi. Menyegarkan diri.
Sesudah
memakai baju tidur, aku bicara mengenai beberapa hal bersama sahabatku itu.
Hingga menjelang tengah malam. Tapi kesadaranku akan persiapan besok pagi masih
belum dapat mengubah keinginanku untuk pergi tidur. Aku harus terima... selama tiga hari tiga malam, aku akan berteman
dengan bus sampai TIGA KALI. Memang tidak seberapa parah dibandingkan
orang-orang yang pergi ke daerah lain selama berhari-hari, tapi paling tidak
tubuhku sudah remuk setelah perjalanan nanti.
Akhirnya, kami
berdua menarik selimut.
Selasa, 28 Juni 2011. Pukul lima
lewat dua puluh menit. Jari kakiku serasa ada yang menggelitik, yang ternyata
berasal dari tangan sahabatku. Sssttt...
bangun Cin... udah agak siang nih. Aku menguap sesekali dan beranjak untuk
mengambil handuk. Memang seperti pada rencana sebelumnya, lelah atau tidak
lelah, hari ini harus menjadi hari yang menyenangkan.
Aku siap menghadapi apapun. ---
Rabu, 29 Juni 2011. Pukul enam
kurang tujuh menit. Setelah menunaikan shalat, aku masih menyiapkan peralatan
sebelum pulang. Seharusnya pukul tujuh nanti aku harus berangkat. Tapi
nampaknya sahabatku itu masih terlelap. Kasihan sekali, dia. Mungkin sekarang
ia sedang bermimpi. Lantas aku menunggunya terbangun hingga pukul delapan.
............................................................
Sepatuku
melangkah ke arah jembatan penyeberangan untuk memasuki pintu terminal. Ketika
tiba disana, bus dengan jurusan Kp. Rambutan ternyata sudah berangkat sejak
tadi pagi. Kalau begitu, lebih baik menunggu. Aku masih sabar menanti di sudut
halte bus --- berdiri tegak sambil memerhatikan orang-orang sedang bepergian.
Setelah sejam kemudian, aku mulai berpikir. Apa
lebih baik kutanyakan saja pada orang itu, seorang pria tua yang memiliki
sebuah tato di lengan kirinya dan melambaikan tangan untuk mengajak para
penumpang agar naik ke dalam bus. Sepertinya ia juga ingin segera
berangkat. Sedangkan orang-orang di sekitarku hanya bisa pasrah menerima
keadaan, tak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, aku memutuskan untuk
menghentikan penantianku.
Aku berjalan
dengan sigap, takut kehilangan jejaknya.
“Pak, maaf
saya mau tanya, kok bus jurusan Kp. Rambutan daritadi ga ada pergiliran ya?
Kami udah nunggu disini lebih dari satu jam. Kalo emang ga ada, kenapa pusat
informasinya ga ngasih kabar ya?” kataku.
“Wah, Mbak...
kenapa ga bilang daritadi... yaudah saya kesana dulu, mo bilangin sama
orangnya,” katanya kaget. Ia segera berlari menuju sebuah ruangan kantor di
sudut terminal.
Tak lama kemudian,
ada pemberitahuan dari tiap-tiap pengeras suara.
... Untuk para penumpang dengan jurusan Bogor -
Kp. Rambutan, diharapkan untuk mengambil arah tujuan bus dengan jurusan Pasar
Rebo, dikarenakan belum ada pergiliran lebih lanjut dan masih dalam perbaikan
...
Terimakasih ...
Wow, pikirku. Buseeet, jauh amat... aku mana tau dimana
arah Pasar Rebo... kalo kayak gini sih, mendingan pulang aja daritadi.
Semua orang langsung berhamburan penuh kesal. Aku menggumam dalam hati seraya
mengusap wajahku yang polos. Ya ampun, kendala ketiga-ku sudah terjadi
sekarang. Berarti ini saatnya aku harus memilih : PULANG, atau TIDAK SAMA
SEKALI. ---
Kami dengan
terpaksa berlarian ke arah bus Pasar Rebo itu. Kata sang supir, bus ini juga
dapat mengantarkan kami ke terminal Kp. Rambutan. Aku mendapatkan kursi paling
depan, ditemani oleh seorang nenek yang parasnya mirip sekali dengan nenekku.
Ia tersenyum
padaku.
“Saya baru
pertama kali naik bis ini,” katanya.
“Saya juga,
Bu... saya juga gatau kalo ternyata ada pengalihan jalur,” aku tersenyum ramah.
“Untung tadi
kamu bilang sama orangnya. Kalo engga, Ibu sama orang-orang ga bakalan jadi
pergi,”
“Iya Bu,
gapapa, syukur deh kalo gitu...”
“Oiya...
ngomong-ngomong kamu mo pergi kemana, Nak?”
“Saya mo
pulang ke Jakarta, Bu... mumpung liburan panjang... hehe...” kataku seraya
menunjukkan barang bawaan dan almamater.
“Oh, sama dong.
Kebetulan rumah Ibu di daerah Kemayoran. Emang Jakarta-nya dimana? Kapan-kapan
main lah ke rumah Ibu...” katanya bersemangat.
“Saya di
Jakarta Timur, deket daerah Cibubur – Bekasi. Iya Bu, trimakasih... Insya’Allah
saya main kesana kalo ada waktu...” jawabku.
“Oiya, namamu
siapa? Sebelumnya panggil saya Ibu Kus aja yaa, soalnya itu nama suami Ibu,”
“Oh, iya Bu, saya
Cinintya, tapi biasa dipanggil Tya kalo lagi di rumah Bu... hehe...”
“Oh gitu...
hmm kamu disini kuliah?”
“Iya... saya
disini nge-kost, Bu. Ayah sama adik saya ada di Jakarta semua,” aku memulai
cerita. Tak terasa sudah dua puluh menit lamanya kami berbincang.
“Oooh... emang
Ayah kamu kerja dimana sih? Ibu kamu juga kerja? Atau cuma di rumah?” katanya
penasaran. Waduh, gimana caranya yaa biar
bisa ngejawab pertanyaan dia yang satu ini...
“Hmm... ayah
saya kerja di PT. Pertani, jadi komite audit komisaris. Kalo Ibu saya, udah ga
ada Bu...” kataku dengan polos. Aku berusaha menjawab setenang mungkin,
walaupun ia adalah orang asing, tapi perasaanku berkata bahwa dia sepertinya
adalah orang yang baik.
“Ibu kamu udah
ga ada?! Maksudnya?!” ia tercekat. Aku masih menebak insting yang terlihat
dibalik sinar matanya.
“Iya Bu, udah
lama sekali...” kataku sambil tersenyum manis.
“Masya Allah,
maafin Ibu ya Nak. Meninggalnya kenapa? Sakit ya?” wajahnya berubah sayu.
“Betul Bu,
kena serangan Leukemia. Taun 2008 kemaren meninggalnya. Divonisnya pas saya
masih kelas 3 SMP, 3 hari menjelang UAN,” tuturku.
“Ckckck, Ya
Allah, yang sabar ya Nak...”
“Iya Bu, gapapa...”
aku berusaha meyakinkan.
“... Pokoknya
Ibu do’akan semoga kamu selalu seneng dalam hidup, keluarga kamu bisa tetep
survive dan istiqomah, dan semoga aja kamu dapet jodoh yang ganteng ... yang
setia dan sayang sama kamu. Sayang banget kalo anak kayak kamu ga dapet jodoh
baik-baik. Nah, nanti kalo kamu main ke daerah Kemayoran, jangan lupa mampir
yaa? Nanti biar Ibu kenalin sama anak-anak Ibu ...”
“....................”
Aku terenyuh.
Beliau masih memegangi pundak kiriku dan mengusapnya dengan lembut. Dia lebih baik
dari yang kuduga. Berarti pemikiranku benar. Kalau saja memang ia sedang
menyamar menjadi orang jahat atau berpura-pura baik padaku, aku rasa tidak
mungkin ia bisa menaruh harapan besar untuk duniaku. Bahkan ia tidak
segan-segan menunjukkan dimana letak persis daerah rumahnya, alamatnya, dan
harus menggunakan kendaraan apa disana.
“Iya Bu,
trimakasih, begitu juga dengan Ibu, saya juga do’ain semua yang terbaik buat
Ibu,”
............................................................
Tiba-tiba, bus
yang kutumpangi terasa sangat kencang lajunya di jalan tol hingga sang supir
bus tak dapat mengendalikan kecepatannya. Aku melihat sebuah truk sampah di
depan bus kami yang juga menghentikan lajunya secara mendadak. Semua penumpang
mulai menjerit ketakutan. Aku mengambil almamater untuk menutupi tubuh ---
segera memeluk tubuh sang nenek --- dan menahan tabrakan bus yang kencang itu.
AAAAAARRRRRGGGGHHH
!!!
Kondektur bus
kami terpental mundur menuju ke arahku dan kulihat tangannya sudah berlumuran
darah akibat pecahan kaca. Ia merintih kesakitan. Sedangkan almamaterku sudah
terkena beberapa serpihan. Truk sampah itu pergi menghilang entah kemana;
mengebut dan berusaha menyalip beberapa sisi di tengah-tengah hamparan mobil.
Tidak bertanggung jawab.
Kemudian, aku
membantu pak kondektur untuk bangkit dan ia berjalan dengan perlahan.
Berdiri
disebelah pak supir --- memperingatkan sesekali dan tetap mendampinginya.
Kami semua
tenggelam dalam hening. Tak dapat bersuara. Bus kami berada di sebelah kiri
jalan tol dan melaju dengan lambat. Menunggu polisi lalu lintas. Tapi belum
nampak sepertinya. Jadi kami tetap melaju dengan semua sisa tenaga dan
sampailah di depan pintu gerbang terminal.
Aku hampir saja mendekati kematian.
............................................................
Kami menuruni
tangga bus satu persatu dengan perasaan getir. Aku menggandeng tangan sang
nenek di tengah jalan sampai akhirnya kami berpisah. Ada beberapa kalimat yang
ia sampaikan padaku. Dan ia mencium pipiku. Kulambaikan tangan dari kejauhan
seraya mengawasi kepergiannya, setelah itu aku bergegas mencari angkutan umum.
***
Di rumah. Kuputar
sendok makan sambil memainkannya diatas piring yang masih dipenuhi nasi dan
sayur. Menyuapnya tanpa semangat. Lalu bertopang dagu. Baru kali ini rasanya
ditinggal oleh nafsu makan, setelah berusaha melupakan bayangan darah yang
mengalir dari tangan orang itu. Jadi mual. Padahal, kejadian kemarin lusa itu
sudah berlalu. Akhirnya kutelungkupkan sendokku dan beranjak dari tempat duduk.
---
Duduk termenung
di teras rumah. Memandangi taman dan kolam ikan. Aku mulai menyusun beberapa
teka-teki dan segelintir peristiwa yang kualami semenjak hari Senin kemarin. Diawali
dengan kekesalan yang terjadi di terminal, menemukan orang-orang yang
menyebalkan, berkawan dengan situasi tersulit, berkenalan dengan nenek itu, dan
menghindari kecelakaan yang menimpa. Hingga membawa efek sedemikian jelasnya di
otakku. Tapi tunggu dulu. Sepertinya ada yang mengawasiku disini. Ternyata Ayah
sedang bersandar di kusen pintu seraya melipat kedua tangan di depan dada. Aku
tahu pasti beliau sudah berada disana dari lima menit yang lalu. Namun posisiku
masih tetap sama. Menyembunyikan kedua tangan ke dalam saku celana, menatap ke
depan dengan pandangan yang kosong.
“Kok makannya
ga diabisin? Masih keingetan sama kejadian kemaren? Udahlah, lupain aja. Yang
penting kan’ kamu gapapa,” kata beliau.
“Iya, Pak.
Tapi... kalo Allah ga sayang sama Tya, wah, Tya gatau deh gimana nasib Tya
selanjutnya, masih bisa bertahan buat hidup atau udah gabisa...”
“Untung dulu
kamu ga beneran milih jadi dokter. Kalo iya, kamu bisa frustasi ntar. Buktinya
aja cuma ngeliat darah banjir segitu doang, kamu udah kayak gini...”
“Hmm inggih,
Pak...”
“Yaudah,
jangan dijadiin trauma. Selama kamu masih ingat sama Allah dan memulai semuanya
dengan hal yang baik, Bapak yakin kamu pasti dijagain sama Allah. Inget itu
yoo, Nduk...” ia mengelus rambutku dan masuk ke dalam rumah.
***
Sekarang, kita
perlu belajar mengenai sesuatu. Sebuah pembelajaran yang mungkin tak’kan pernah
kita dapatkan selama kita bepergian jauh. Atau hanya memiliki intuisi sederhana
bahwa : terminal hanyalah sebuah tempat yang dikerumuni oleh sekumpulan orang-orang
pencari nafkah, dikondisikan dengan keadaan yang penuh sesak dan kegaduhan, rawan
tingkat kriminalitas, atau mungkin... tempat yang kacau balau tanpa ada susunan
pengatur yang lebih baik. Kau tahu tidak? Aku mempunyai pemikiran begini :
Terminal adalah tempat pertama bagiku yang
mengajari tentang suatu pengertian sesama manusia terlepas dari masalah
kemiskinan dan kemelaratan hidup.
Terminal adalah tempat yang baik bagi kita untuk
mengoreksi diri lebih mendalam dan belajar arti sebuah kesabaran.
Terminal adalah tempat yang dipenuhi oleh rasa
sosial yang tinggi, bentuk kerjasama yang baik, dan orang-orang yang saling
bahu membahu demi membantu para penumpang yang kesulitan untuk pergi.
Terminal adalah... tempat berkumpulnya anak-anak
dan pemain musik jalanan yang mengabdikan dirinya untuk mencari nafkah dengan
cara yang mulia; tanpa harus melakukan tindakan-tindakan asusila; atau
membahayakan keselamatan segenap jiwa.
Bila kita telusuri lebih jauh, terminal adalah :
Sebuah tempat yang dikelilingi banyak makna
filosofi hidup, keunikan, dan cinta yang sangat berarti.
Seandainya saja hatiku tidak digerakkan oleh Tuhan
untuk merasakan petualangan ini, mungkin aku takkan pernah mengenal apa artinya
kesungguhan.
Hingga harus rela mendapatkan peluang untuk menyelamatkan
diri tanpa kebutuhan komunikasi.
Menyikapi pemaksaan orang-orang muda yang
mengejarku tanpa menyerah dan berhenti.
Mencoba mengendalikan diri dari hal-hal yang
memuakkan serta paling terbencikan.
Memperoleh segudang keikhlasan dan ketulusan hanya
dari sebungkus kacang.
Merasakan gejolak terpedih saat memperhatikan
pengemis itu meminta.
Atau sang pria maskulin yang membuatku tersenyum
setelah mendengar suara kewanitaannya.
Dan terengah-engah ketika tenaga sudah habis di
sepanjang jalanan malam.
Letih? Itu sangat terasa, sehingga akhirnya aku
jatuh sakit tiga hari kemudian.
Sakit hati, sakit pikiran, sakit sekujur tubuh,
sakit semuanya.
Lantas, harus tetap siap menghadapi apapun,
terutama untuk mengambil keputusan penting yang berhubungan dengan kepentingan
orang lain. Seperti pengalihan jalur waktu itu.
Yang secara tak sengaja bisa berkenalan dengan
wanita bijak yang mengerti kronologis hidupku.
Yang akhirnya menggerakkan hatiku untuk tetap
melindunginya meskipun kejadian berdarah itu menghantam keakraban kami.
Terkesima saat menyaksikan kekuatan diri dari sang
kondektur untuk tetap mendampingi sang supir --- walaupun dirinya sudah
terluka.
Yang membuatku benar-benar menyadari. Atas semua
yang dikehendaki oleh Tuhan.
Sampai melankolis begini.
Ia bisa saja mengambil nyawaku saat itu.
Tapi Ia tidak melakukannya.
Jadi,
Seperti apa yang dikatakan oleh Helen Keller itu
adalah benar.
Kita tidak perlu menyentuh atau melihat sesuatu
untuk memperoleh keindahan hidup.
Cukup rasakan dalam hati.
Karena, sementara kita mencoba mengajarkan hidup
kepada orang-orang disekeliling kita, merekalah yang mengajar segala sesuatu
tentang hidup kepada kita.
Sekarang, bolehkah aku menutup lembaran kisahku
ini? ---

Comments
Post a Comment