Suatu Pembelajaran di Terminal Kota


Jakarta, 29th June 2011
#De Barge – Who’s Holding Donna Now*
(Genre : Romantic Ballads)


Kepada Yth.,
Sahabat & para pembawa kebahagiaan dunia
Di tempat


Dengan hormat,

Sehubungan dengan kisah hidup saya baik mengenai masalah cinta di masa lalu atau persoalan kehidupan, maka dengan ini saya sampaikan kepada Saudara bahwa ada beberapa hal yang perlu Saudara perhatikan dengan cermat. Saya sangat mengharapkan partisipasi dari Saudara, sebagai orang-orang yang hidup mewarnai dunia dan berada dalam hidup saya. Mohon pengertiannya, Saudara. ^_^

***

Sobat, hal yang terbaik dan terindah di dalam hidup tidaklah dapat dilihat atau disentuh, tetapi dirasakan di dalam hati. Itu adalah untaian kata yang dirajut oleh Helen Keller. Tahukah kalian siapa dia? Helen Keller adalah seorang wanita hebat yang dilahirkan di Amerika Serikat yang menderita penyakit buta, tuli dan bisu semenjak ia masih berumur 19 bulan, memiliki semangat belajar yang sangat tinggi dan berhasil menjadi salah satu wanita yang menginspirasi dunia. Aku memang sudah pernah membaca buku biografinya ketika masih sekolah, tapi tetap saja hal itu melekat dalam otakku. Kau tahu tidak? Ternyata itu benar. Tapi aku harus mengalami peristiwa yang cukup aneh. Dan rasanya benar-benar menyakitkan.

Entah mengapa sejak 2 hari yang lalu, ada sesuatu yang merasuk pikiranku hingga aku tak bisa tidur. Pada hari Senin sore itu, aku masih membereskan perlengkapan untuk kembali ke Bogor. Mulanya aku memang tak ingin pulang sendiri, mengharapkan dalam hati agar Ayah --- yang biasa kupanggil Daddy saat sedang perang-perangan bahasa Inggris lewat ponsel; berkenan untuk mengantarku pulang dengan mobil sedan warna krem kesukaanku itu. Aku berusaha menahan keinginan terdalamku ini. Tapi ternyata tidak bisa, karena Ayah harus meeting besok pagi dengan rekan-rekan kantornya. Lagipula, aku pikir, Ayah akan menghadapi masalah kemacetan setelah sepulang dari mengantar ke Bogor nantinya. Dan aku memahami. ---

Ada masalah dengan kartu telepon Ayah. Padahal itu baru dibelinya sekitar seminggu yang lalu. Aku diutus untuk memperbaikinya dengan cara memasukkan kartu itu ke dalam ponselku. Sepertinya ada kesalahan jaringan. Kemudian, aku bergegas mengambil tas merah-ku.

Seperti biasa, aku mencium tangan beliau dan mengecup pipinya sekilas. Didampingi oleh adik tampanku yang siap mengantarku dengan sepeda motor ke tempat pangkalan angkutan umum. Lalu kuhampiri Bibi-ku yang selalu membantuku di rumah. Aku memeluknya.

Di tengah perjalanan, aku dan adik tak bergeming. Kami berdua tidak dapat merasakan keganjilan sedikitpun, terutama aku. Nah, ketika aku tiba disana dan masuk ke dalam angkot, aku segera menghubungi sahabatku, Yessy, yang akan kusinggahi kost-annya sebagai tempat penginapan untuk kegiatan safari bisnis ke berbagai perusahaan esok hari.

Tapi, ada sesuatu yang salah.

Aku tak bisa menghubunginya. Setelah kuperiksa, ternyata ini kartu ponsel Ayah. Mati aku... berarti kartuku ketinggalan di rumah... kalo udah kayak gini, aku mesti gimana... mau kembali ke rumah, tapi waktunya udah makin sore... nanti kalo Bapak mau nelpon dan nanyain aku ada dimana, pasti repot... aduh, mesti nyari akal nih...

Aku semakin gelisah karena itu artinya 3 hari ke depan aku tidak akan berkutat dengan alat komunikasi apapun. Tidak ada fesbuk. Tidak ada blog. Tidak ada sms, dan tidak ada telepon. Ah, sudahlah. Itu berarti Tuhan memberiku pelajaran bahwa bagaimana rasanya hidup tanpa komunikasi; atau menjadi orang yang kurang mampu, yang tak dapat membeli ponsel, bahkan selalu kesulitan untuk mencari sesuap nasi.

Aku melamun. Memandangi jalan raya dengan harapan agar nanti tidak ada kendala kedua yang aku hadapi. Lalu, supir angkot langgananku berkata...

“Mau ke Bogor lagi yee, Non? Emang udah kelar liburnyee?”
“Belom nih, Bang... saya mah besok mo ada safari bisnis di kampus... jadinya kepaksa berangkat sekarang deh,”
“Oh... kirain udah masuk, Non...”
“Hehehe... belom,”

Setelah sampai di terminal, aku merogoh saku celana dan memberi uang lima ribu rupiah padanya. Aku berjalan dengan cepat dan tiba-tiba aku dikelilingi oleh orang-orang tak dikenal. Biasanya, mereka tak menyapa seperti ini.

“Teh... bade kamana, ceunah? Geulis pisan ih si teteh,”
“Neng... hayang kamana atuh? Perlu abang anterin?”
“Euleeuh, euleeuh... manis pisan teh senyumnya,”
“Hayuuk, teh... sini saya bawain tasnya... mo ke Bogor kan? Saya mah tau kalo ama yang ini,”

Aduh, apa lagi sih ini. Mana aku bawa notebook segala lagi. Kalo nanti aku diapa-apain, gimana coba. Aku hanya tersenyum biasa dan berusaha bersikap sewajarnya untuk menolak pertolongan secara baik-baik. Tapi mereka selalu menghalangi jalanku dan terus memaksaku. Oh gak, Bang... trimakasih... kataku sambil tersenyum kecut.

Lagi dan lagi, berlari ke dalam pintu gerbang terminal dan bertemu dengan satpam yang bermuka masam dan menyebalkan. Aku membayar uang masuk dengan sama masamnya. Dia adalah pengganti satpam yang dulu sering melayaniku dengan ramah dan bersahabat. Aku memikirkan beliau sekarang. Mengapa harus orang aneh ini yang ada di hadapanku.

Ketika berjalan menuju parkiran bus, aku dikejar oleh seorang anak penjual aksesoris yang kira-kira berusia 16 tahun. Ia tidak segera menawarkan barang dagangannya padaku layaknya seorang konsumen, tapi dengan sikap genitnya, ia justru berusaha menarik perhatianku dengan mengedip mata dan menanyakan aku akan pergi kemana. Berkali-kali aku mengatakan ‘trimakasih, tapi saya gak berminat buat beli’... ia tetap bersikeras memaksaku untuk bicara.

Kulangkahkan kaki dengan cepat.
Memusatkan pikiran pada arah tujuanku pergi.
Tapi ia masih mengikutiku.

Sesaat kemudian, mataku bergerak untuk mencari bus jurusan Kp. Rambutan – Bogor. Ah, sial. Hanya satu bus yang masih tersisa. Aku menghentikan langkah sejenak untuk menghela nafas yang tak bernada. Kupandangi berbagai sisi badan bus sampai akhirnya aku bertanya pada seorang kondektur yang biasa berdiri di sisi kanan bus.

“Maaf, Pak. Ini bus menuju terminal Baranangsiang, kan’?” aku memastikan.
“Iya, Mbak... naik aja... bukannya waktu itu Mbak pernah naik ini, kan’?” ia masih mengingatku ternyata.
“Hmm, saya takut salah naik soalnya,” kataku tersenyum.
“Oh gitu Mbak...”

Ia mengerutkan dahi seakan tak percaya pada apa yang kutanyakan. Mungkin karena kebingungan yang menghinggapi, dan aku hampir terlupa. Setelah berterimakasih padanya, aku bergegas masuk ke dalam bus. Oh, Tuhan... mimpi apa aku semalam. Panas sekali disini, hingga dapat kuperhatikan semua orang sibuk mendinginkan tubuhnya dengan segenggam koran, kipas, bahkan buku teka-teki silang. Aku berjalan dengan semua sisa tenagaku --- menghembuskan nafas panjang dan mencari tempat duduk di sebelah kanan.

Ternyata, oh ternyata. Si penjual genit itu masih tak puas juga untuk terus merayuku. Ia menghampiri tempat dudukku dan mengajak teman-temannya untuk berdatangan ke arahku. Aku akhirnya bicara.

“Sekali lagi saya bilang : SAYA GAK BERMINAT !!! Kenapa kamu masih maksa?!” aku terkesiap. Tak disadari tubuhku sudah tegak berdiri dan menegang.
“Aduuh, Teh... kasih kita senyum dulu laaah... masa’, cantik-cantik kok galak,” ia tertawa.
“Eh, Dik. Kamu gak denger tadi saya bilang apa?! Hah?!”
“Iya, iyaaa... maaf,” ia lekas pergi dengan senyuman jahil.

Astaghfirullahaladzim, ada apa denganku hari ini. Aku sudah berusaha menahan amarah sedari tadi, dan aku tak biasa melakukan hal seperti itu. Kurebahkan tubuh kembali ke kursi dan merasakan banyak mata sedang melihatku. ‘Maaf Pak, maaf Bu... kalo sudah mengganggu...’ mendengar itu, mereka hanya tersenyum dan menenangkan keadaan ini seperti semula. Lalu mulailah berdatangan penjual-penjual makanan hingga sampailah penjual jam tangan menawariku. Tidak, Pak... trimakasih...

Kuraih jam tanganku. Setengah lima sore. Kuhitung dengan bayangan, kira-kira sampai pukul berapa aku akan tiba di Bogor. Sebelum adzan Maghrib. Kemudian, pandanganku teralih pada salah satu pria rusuh yang sejak tadi berpindah tempat duduk kesana kemari, dan berakhir di depanku. Aku mulai curiga dengan tingkah lakunya; merogoh sesuatu di dalam kantong celana dengan suara percikan korek api. Ya Tuhaaan... jangan yang ituuu... aku benci sekali. Ia merokok dengan asap yang mengepul, membuatku sesak. Pada situasi yang panas seperti ini, ia masih santai menyulutkan apinya seakan dunia hanya miliknya sendiri. Tadinya aku ingin beralih, tapi kupikir itu akan menyinggung dirinya. Jadi, aku terpaksa menahan nafas sesekali sampai ia berhenti merokok.

Aku hanya membeli sebungkus kacang bawang dari salah seorang penjual kacang yang kelihatannya sudah sangat berumur; sudah tak layak untuk bekerja; dan sudah sepantasnya bila ia menikmati hasil jerih payah di masa tua dari anak dan cucunya. Seharusnya aku butuh air, kau tahu. Untuk menyirami amarahku yang sebentar lagi akan meledak. Tapi setelah melihat orang ini, dengan kesungguhan yang ia bawa hanya dari sebungkus kacang, pertahananku akhirnya runtuh. Kalaupun rasanya tidak enak, aku masih bisa mengerti. ---

Kuraba butir demi butir kacang di tanganku sambil memandangi pesona di balik jendela. Jalanan yang penuh sesak, ribuan orang yang mengantri untuk mendapatkan tumpangan, kondektur dan supir-supir bus yang lalu lalang, pedagang asongan yang menghitung uang dengan cermatnya, petugas kebersihan yang menggenggam sapu kesayangannya... atau... pengemis itu. Yang kusaksikan dengan lirih, mengamati wajah-wajah orang yang melewati dirinya. Mengharapkan kasih dari sedikit uang yang tak berarti. Bila aku ada di sebelah pengemis itu, aku tak dapat membayangkan apa yang akan kulakukan padanya. Aku terkesima hingga tak sadar jika bus ini mulai melaju.

 Indonesia, kau belum merdeka... Indonesia, kau begitu tragis...

Aku mulai membenarkan posisi dudukku. Ada bunyi ponsel berdering. Tapi itu bukan milikku. Sepertinya itu ponsel milik seorang pria maskulin yang duduk di depan sepanjang dua blok dari kursiku. Karena ia memunggungiku, maka sangat jelas sekali bagiku terhadap apa yang hendak ia lakukan. Ia melepaskan jaket hitamnya dengan gagah dan mengambil ponsel di saku baju. Lalu menempelkannya di telinga.

“Eh, cyiiin... eike masih di bis niiih, nelponnya nanti aja yaaaw... ntar kalo dah sampeeii, eike kasitau yeiy... oceeeyyy?”
“....................”
Aku menahan tawa sambil membenamkan diri ke dalam jaket dan menundukkan kepala. Aku yakin seribu persen bahwa ada suara-suara geli yang muncul dari para penumpang. Sungguh, ini benar-benar hari yang membingungkan. Aku berusaha percaya atas apa yang kuhadapi sekarang. Aku tidak tahu firasat apa yang kudapatkan semenjak sore tadi; entah karena harus pulang sendiri, atau menemukan hal-hal unik disini. YA ALLAH... lucu sekali hariku.

Pukul setengah tujuh malam. Aku terbangun dari mimpi dan bus yang kutumpangi masih berlari di jalan tol. Sepertinya dugaanku salah. Tapi, mau bagaimana lagi. Sudah menjadi takdirku bila harus pulang larut malam.

Setelah sampai disana, aku bergegas menuruni tangga bus dan segera mencari pangkalan angkutan umum.

Laladon... Laladon... Laladon...
BTM... BTM... BTM...
Jambu... Jambu... Jambu...

Suara-suara itu menggema di telingaku. Kulepas jaket cokelat bergradasi krem ini dan menyampirkannya di pundak kananku. Sebelah pundak lainnya sedang membawa tas ransel merah. Aku masih sibuk memikirkan keadaan Ayah --- yang mungkin sudah sejak tadi siang merasa gelisah menunggu kabar dariku. Atau mungkin sudah membingungkan orang seisi rumah karena tak tahu arti di luar praduga. Begitu pula dengan sahabat-sahabatku, Yessy dan Yunda. Pasti mereka sudah memutuskan sesuatu sebelum aku tiba. Mengapa aku harus berada pada kondisi semacam ini...
Aku tak tahan lagi.

Ketika selesai melewati semua perjalanan, kulambaikan tangan pada seorang tukang becak yang akan mengantarku pulang ke kost-an. Ada beberapa peralatan yang harus kubawa nanti, sebelum akhirnya aku berangkat ke kost-an sahabatku itu, malam ini juga. Aku langsung menjatuhkan diri di tempat tidur saat sampai di rumah kecilku. Tak peduli seberapa kacaunya penampilanku dan beranjak untuk melihat diri di depan cermin. Aku berantakan sekali.

Beralih pergi ke kamar mandi untuk menyucikan diri. Mengambil sajadah dan mukenah. Shalat. Terlepas dari itu, aku hanya ingin menenangkan hati dari segelintir derita dan lelah yang hadir menemaniku sepanjang hari. Oh, tidak. Perutku kini bernyanyi. Baru kusadari, sudah seharian ini aku tidak makan apapun. Tapi perjalananku belum berhenti sampai disini. Aku harus segera berangkat.

BA... RA... NANG... SI... ANG...

Aku terengah-engah di sepanjang jalan nan gelap dengan mengeja kata-kata itu berulang kali. Disini banyak sekali anak-anak muda yang duduk-duduk santai di atas motor; menghisap rokok sesekali malam itu dan bersenda gurau. Aku mendengar salah seorang dari mereka memanggilku dengan manja. Mungkin mereka merasa heran bahwa masih ada saja wanita sepertiku yang berani keluar malam-malam. Apa peduliku?
Kuketuk pintu sebanyak tiga kali dan tidak ada jawaban. Aku menerobos masuk ke dalam ruangan. Yessy... aku harus bilang apa sama kamu nanti... sebentar lagi aku hampir pingsan. Lima langkah kemudian aku menemukannya di kamar; sedang bicara dengan seseorang lewat ponsel. Seketika itu juga aku menjatuhkan diri di depan pintu dan mengucapkan hamdalah.

“Assalamu’alaikuuum... alhamdulillaaah! Yang, maaf tadi aku telat,”
“Wa’alaikum salam... yaa ampuun, Yang... yaudah gih sana ambil minum dulu, nafas dulu kek gitu. Aku kan jadi kaget, ngeliat kamu kayak gini,” ia mengambil sebuah gelas dan menyerahkannya padaku.
“Hmm... sumpah hari ini bener-bener bikin aku sial... critanya panjang banget, Yang...” aku meneguk air dengan cepat dan menatap langit-langit penuh keheranan.
“....................”
“Oiya, tadi kamu sms aku, gak? Masalahnya kartuku tadi ketuker sama punya Ayah di rumah... jadi maaf banget kalo gak sempet di bales...”
“....................”
“Trus tadi aku juga gak sempet beliin kamu masakan di Pakdhe’ Marem... aku...”
“... Iya gapapa kok, Yang. Ini juga baru makan mie. Kalo kamu mau makan, adanya cuma mie... gapapa?” ia menyela.
“Iya gapapa... tapi... aku harus ngasih kabar sama Ayah dulu, masalahnya daritadi pasti Ayah nelpon aku terus,” kataku sambil melepaskan jilbab.
“Oh, yaudah pake hape-ku aja, Yang... ini,” ia menyerahkan salah satu ponselnya.
“Oke, Yang...”

Aku segera menuliskan beberapa kalimat di pesan singkat :

... Assalamualaikum, Pak ... ini Tya pake ponselnya Yessy. Sebelumnya Tya minta maaf karena daritadi gak bisa dihubungi terus, karena ternyata kartu Tya ketuker sama punya Bapak yang baru dicoba tadi. Nunsewu, kalo bisa kartu Tya di simpen di laci kamar, nggih Pak ... Trus tadi Tya coba buat menghubungi Bapak, tapi pulsanya tetep gak berfungsi meskipun udah di transfer sama temen. Alhamdulillah Tya sekarang udah nyampe di kost-annya Yessy, mungkin bakalan nginep disini sampe lusa, setelah itu Rabu paginya Tya langsung pulang ke Jakarta. Kalo ada apa-apa, hubungi Tya lewat ponsel Yessy aja,  ya Pak ...

Teramat panjang bagi sebuah pesan singkat, tapi setidaknya aku tak perlu lagi menjelaskan semuanya pada Ayah setelah itu. Semuanya sudah menjadi alasan yang rasional, sekarang. Tak berapa lama kemudian, aku dan sahabatku mendengar nada bernuansa jazz Tania Maria – Come With Me di kamar ini. HAH?! ITU BUNYI PONSEL MILIKKU !!! Aku segera membongkar isi tas ransel dan menemukannya sedang berkelip-kelip. Daddy.

“Halo, Pak? Masya Allah, kok bisa sih kartu ini nerima telpon dari Bapak?!”
“Gak tau, Nak... Bapak juga bingung, giliran buat nerima telpon, bisa... tapi kalo buat nelpon dan transfer pulsa, gak bisa... aneh nih kartunya,” kata Ayah penasaran.
“Hmm, yaudah deh... mungkin emang kartunya rusak total, Pak...”
“Tapi kamu gapapa disana? Trus kamu sama siapa sekarang? Bapak khawatir daritadi miscall-in kamu, tapi tulalit terus... trus tadi ada kendala gak di jalan???” kata Ayah mengintrogasi.
“Hehehe... alhamdulillah gapapa kok, Pak... ini lagi sama Yessy... tadi Tya juga udah nebak kalo Bapak pasti nelponin daritadi siang... hmmm, tadi bus-nya sempet berenti sih setengah jam di pertigaan tol, soalnya ada masalah sama polisi. Untungnya masih bisa jalan,” kataku dengan tenang.
“Oh, ya sudah kalo gitu. Yang penting kamu selamat,”
“Iya,”
“Eh, ini adikmu daritadi pengen ngomong sama kamu...”
“Oh, inggih...”
“... Halo, Mbak... lo gapapa kan disana? Trus sekarang ada dimana? Gue daritadi berdo’a terus sama Bapak, takut lo kenapa-napa,” suaranya terdengar getir. Baru kali ini Si Tampan mengkhawatirkan keadaanku. Aku tersenyum sumringah.
“Hmm. Iya gapapa, Dik. Tumben, kamu perhatian sama Mbak,” kataku menjebak.
“Ah, mulai deh... yaudah sana buruan makan, udah malem lho, Mbak...”
“Hahaha... oke, tutup aja telponnya. Salam buat Bapak yaa,”
“Iyooo...”

Selesai sudah. Aku segera mengambil peralatan mandi. Menyegarkan diri.
Sesudah memakai baju tidur, aku bicara mengenai beberapa hal bersama sahabatku itu. Hingga menjelang tengah malam. Tapi kesadaranku akan persiapan besok pagi masih belum dapat mengubah keinginanku untuk pergi tidur. Aku harus terima... selama tiga hari tiga malam, aku akan berteman dengan bus sampai TIGA KALI. Memang tidak seberapa parah dibandingkan orang-orang yang pergi ke daerah lain selama berhari-hari, tapi paling tidak tubuhku sudah remuk setelah perjalanan nanti.
Akhirnya, kami berdua menarik selimut.

Selasa, 28 Juni 2011. Pukul lima lewat dua puluh menit. Jari kakiku serasa ada yang menggelitik, yang ternyata berasal dari tangan sahabatku. Sssttt... bangun Cin... udah agak siang nih. Aku menguap sesekali dan beranjak untuk mengambil handuk. Memang seperti pada rencana sebelumnya, lelah atau tidak lelah, hari ini harus menjadi hari yang menyenangkan.
Aku siap menghadapi apapun. ---

Rabu, 29 Juni 2011. Pukul enam kurang tujuh menit. Setelah menunaikan shalat, aku masih menyiapkan peralatan sebelum pulang. Seharusnya pukul tujuh nanti aku harus berangkat. Tapi nampaknya sahabatku itu masih terlelap. Kasihan sekali, dia. Mungkin sekarang ia sedang bermimpi. Lantas aku menunggunya terbangun hingga pukul delapan.

............................................................

Sepatuku melangkah ke arah jembatan penyeberangan untuk memasuki pintu terminal. Ketika tiba disana, bus dengan jurusan Kp. Rambutan ternyata sudah berangkat sejak tadi pagi. Kalau begitu, lebih baik menunggu. Aku masih sabar menanti di sudut halte bus --- berdiri tegak sambil memerhatikan orang-orang sedang bepergian. Setelah sejam kemudian, aku mulai berpikir. Apa lebih baik kutanyakan saja pada orang itu, seorang pria tua yang memiliki sebuah tato di lengan kirinya dan melambaikan tangan untuk mengajak para penumpang agar naik ke dalam bus. Sepertinya ia juga ingin segera berangkat. Sedangkan orang-orang di sekitarku hanya bisa pasrah menerima keadaan, tak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menghentikan penantianku.
Aku berjalan dengan sigap, takut kehilangan jejaknya.

“Pak, maaf saya mau tanya, kok bus jurusan Kp. Rambutan daritadi ga ada pergiliran ya? Kami udah nunggu disini lebih dari satu jam. Kalo emang ga ada, kenapa pusat informasinya ga ngasih kabar ya?” kataku.
“Wah, Mbak... kenapa ga bilang daritadi... yaudah saya kesana dulu, mo bilangin sama orangnya,” katanya kaget. Ia segera berlari menuju sebuah ruangan kantor di sudut terminal.

Tak lama kemudian, ada pemberitahuan dari tiap-tiap pengeras suara.

... Untuk para penumpang dengan jurusan Bogor - Kp. Rambutan, diharapkan untuk mengambil arah tujuan bus dengan jurusan Pasar Rebo, dikarenakan belum ada pergiliran lebih lanjut dan masih dalam perbaikan ...
Terimakasih ...

Wow, pikirku. Buseeet, jauh amat... aku mana tau dimana arah Pasar Rebo... kalo kayak gini sih, mendingan pulang aja daritadi. Semua orang langsung berhamburan penuh kesal. Aku menggumam dalam hati seraya mengusap wajahku yang polos. Ya ampun, kendala ketiga-ku sudah terjadi sekarang. Berarti ini saatnya aku harus memilih : PULANG, atau TIDAK SAMA SEKALI. ---

Kami dengan terpaksa berlarian ke arah bus Pasar Rebo itu. Kata sang supir, bus ini juga dapat mengantarkan kami ke terminal Kp. Rambutan. Aku mendapatkan kursi paling depan, ditemani oleh seorang nenek yang parasnya mirip sekali dengan nenekku.
Ia tersenyum padaku.

“Saya baru pertama kali naik bis ini,” katanya.
“Saya juga, Bu... saya juga gatau kalo ternyata ada pengalihan jalur,” aku tersenyum ramah.
“Untung tadi kamu bilang sama orangnya. Kalo engga, Ibu sama orang-orang ga bakalan jadi pergi,”
“Iya Bu, gapapa, syukur deh kalo gitu...”
“Oiya... ngomong-ngomong kamu mo pergi kemana, Nak?”
“Saya mo pulang ke Jakarta, Bu... mumpung liburan panjang... hehe...” kataku seraya menunjukkan barang bawaan dan almamater.
“Oh, sama dong. Kebetulan rumah Ibu di daerah Kemayoran. Emang Jakarta-nya dimana? Kapan-kapan main lah ke rumah Ibu...” katanya bersemangat.
“Saya di Jakarta Timur, deket daerah Cibubur – Bekasi. Iya Bu, trimakasih... Insya’Allah saya main kesana kalo ada waktu...” jawabku.
“Oiya, namamu siapa? Sebelumnya panggil saya Ibu Kus aja yaa, soalnya itu nama suami Ibu,”
“Oh, iya Bu, saya Cinintya, tapi biasa dipanggil Tya kalo lagi di rumah Bu... hehe...”
“Oh gitu... hmm kamu disini kuliah?”
“Iya... saya disini nge-kost, Bu. Ayah sama adik saya ada di Jakarta semua,” aku memulai cerita. Tak terasa sudah dua puluh menit lamanya kami berbincang.
“Oooh... emang Ayah kamu kerja dimana sih? Ibu kamu juga kerja? Atau cuma di rumah?” katanya penasaran. Waduh, gimana caranya yaa biar bisa ngejawab pertanyaan dia yang satu ini...
“Hmm... ayah saya kerja di PT. Pertani, jadi komite audit komisaris. Kalo Ibu saya, udah ga ada Bu...” kataku dengan polos. Aku berusaha menjawab setenang mungkin, walaupun ia adalah orang asing, tapi perasaanku berkata bahwa dia sepertinya adalah orang yang baik.
“Ibu kamu udah ga ada?! Maksudnya?!” ia tercekat. Aku masih menebak insting yang terlihat dibalik sinar matanya.
“Iya Bu, udah lama sekali...” kataku sambil tersenyum manis.
“Masya Allah, maafin Ibu ya Nak. Meninggalnya kenapa? Sakit ya?” wajahnya berubah sayu.
“Betul Bu, kena serangan Leukemia. Taun 2008 kemaren meninggalnya. Divonisnya pas saya masih kelas 3 SMP, 3 hari menjelang UAN,” tuturku.
“Ckckck, Ya Allah, yang sabar ya Nak...”
“Iya Bu, gapapa...” aku berusaha meyakinkan.
“... Pokoknya Ibu do’akan semoga kamu selalu seneng dalam hidup, keluarga kamu bisa tetep survive dan istiqomah, dan semoga aja kamu dapet jodoh yang ganteng ... yang setia dan sayang sama kamu. Sayang banget kalo anak kayak kamu ga dapet jodoh baik-baik. Nah, nanti kalo kamu main ke daerah Kemayoran, jangan lupa mampir yaa? Nanti biar Ibu kenalin sama anak-anak Ibu ...”
“....................”

Aku terenyuh. Beliau masih memegangi pundak kiriku dan mengusapnya dengan lembut. Dia lebih baik dari yang kuduga. Berarti pemikiranku benar. Kalau saja memang ia sedang menyamar menjadi orang jahat atau berpura-pura baik padaku, aku rasa tidak mungkin ia bisa menaruh harapan besar untuk duniaku. Bahkan ia tidak segan-segan menunjukkan dimana letak persis daerah rumahnya, alamatnya, dan harus menggunakan kendaraan apa disana.

“Iya Bu, trimakasih, begitu juga dengan Ibu, saya juga do’ain semua yang terbaik buat Ibu,”

............................................................

Tiba-tiba, bus yang kutumpangi terasa sangat kencang lajunya di jalan tol hingga sang supir bus tak dapat mengendalikan kecepatannya. Aku melihat sebuah truk sampah di depan bus kami yang juga menghentikan lajunya secara mendadak. Semua penumpang mulai menjerit ketakutan. Aku mengambil almamater untuk menutupi tubuh --- segera memeluk tubuh sang nenek --- dan menahan tabrakan bus yang kencang itu.

AAAAAARRRRRGGGGHHH !!!

Kondektur bus kami terpental mundur menuju ke arahku dan kulihat tangannya sudah berlumuran darah akibat pecahan kaca. Ia merintih kesakitan. Sedangkan almamaterku sudah terkena beberapa serpihan. Truk sampah itu pergi menghilang entah kemana; mengebut dan berusaha menyalip beberapa sisi di tengah-tengah hamparan mobil. Tidak bertanggung jawab.

Kemudian, aku membantu pak kondektur untuk bangkit dan ia berjalan dengan perlahan.
Berdiri disebelah pak supir --- memperingatkan sesekali dan tetap mendampinginya.

Kami semua tenggelam dalam hening. Tak dapat bersuara. Bus kami berada di sebelah kiri jalan tol dan melaju dengan lambat. Menunggu polisi lalu lintas. Tapi belum nampak sepertinya. Jadi kami tetap melaju dengan semua sisa tenaga dan sampailah di depan pintu gerbang terminal.
Aku hampir saja mendekati kematian.

............................................................

Kami menuruni tangga bus satu persatu dengan perasaan getir. Aku menggandeng tangan sang nenek di tengah jalan sampai akhirnya kami berpisah. Ada beberapa kalimat yang ia sampaikan padaku. Dan ia mencium pipiku. Kulambaikan tangan dari kejauhan seraya mengawasi kepergiannya, setelah itu aku bergegas mencari angkutan umum.

***

Di rumah. Kuputar sendok makan sambil memainkannya diatas piring yang masih dipenuhi nasi dan sayur. Menyuapnya tanpa semangat. Lalu bertopang dagu. Baru kali ini rasanya ditinggal oleh nafsu makan, setelah berusaha melupakan bayangan darah yang mengalir dari tangan orang itu. Jadi mual. Padahal, kejadian kemarin lusa itu sudah berlalu. Akhirnya kutelungkupkan sendokku dan beranjak dari tempat duduk. ---

Duduk termenung di teras rumah. Memandangi taman dan kolam ikan. Aku mulai menyusun beberapa teka-teki dan segelintir peristiwa yang kualami semenjak hari Senin kemarin. Diawali dengan kekesalan yang terjadi di terminal, menemukan orang-orang yang menyebalkan, berkawan dengan situasi tersulit, berkenalan dengan nenek itu, dan menghindari kecelakaan yang menimpa. Hingga membawa efek sedemikian jelasnya di otakku. Tapi tunggu dulu. Sepertinya ada yang mengawasiku disini. Ternyata Ayah sedang bersandar di kusen pintu seraya melipat kedua tangan di depan dada. Aku tahu pasti beliau sudah berada disana dari lima menit yang lalu. Namun posisiku masih tetap sama. Menyembunyikan kedua tangan ke dalam saku celana, menatap ke depan dengan pandangan yang kosong.

“Kok makannya ga diabisin? Masih keingetan sama kejadian kemaren? Udahlah, lupain aja. Yang penting kan’ kamu gapapa,” kata beliau.
“Iya, Pak. Tapi... kalo Allah ga sayang sama Tya, wah, Tya gatau deh gimana nasib Tya selanjutnya, masih bisa bertahan buat hidup atau udah gabisa...”
“Untung dulu kamu ga beneran milih jadi dokter. Kalo iya, kamu bisa frustasi ntar. Buktinya aja cuma ngeliat darah banjir segitu doang, kamu udah kayak gini...”
“Hmm inggih, Pak...”
“Yaudah, jangan dijadiin trauma. Selama kamu masih ingat sama Allah dan memulai semuanya dengan hal yang baik, Bapak yakin kamu pasti dijagain sama Allah. Inget itu yoo, Nduk...” ia mengelus rambutku dan masuk ke dalam rumah.

***

Sekarang, kita perlu belajar mengenai sesuatu. Sebuah pembelajaran yang mungkin tak’kan pernah kita dapatkan selama kita bepergian jauh. Atau hanya memiliki intuisi sederhana bahwa : terminal hanyalah sebuah tempat yang dikerumuni oleh sekumpulan orang-orang pencari nafkah, dikondisikan dengan keadaan yang penuh sesak dan kegaduhan, rawan tingkat kriminalitas, atau mungkin... tempat yang kacau balau tanpa ada susunan pengatur yang lebih baik. Kau tahu tidak? Aku mempunyai pemikiran begini :

Terminal adalah tempat pertama bagiku yang mengajari tentang suatu pengertian sesama manusia terlepas dari masalah kemiskinan dan kemelaratan hidup.
Terminal adalah tempat yang baik bagi kita untuk mengoreksi diri lebih mendalam dan belajar arti sebuah kesabaran.
Terminal adalah tempat yang dipenuhi oleh rasa sosial yang tinggi, bentuk kerjasama yang baik, dan orang-orang yang saling bahu membahu demi membantu para penumpang yang kesulitan untuk pergi.
Terminal adalah... tempat berkumpulnya anak-anak dan pemain musik jalanan yang mengabdikan dirinya untuk mencari nafkah dengan cara yang mulia; tanpa harus melakukan tindakan-tindakan asusila; atau membahayakan keselamatan segenap jiwa.

Bila kita telusuri lebih jauh, terminal adalah :

Sebuah tempat yang dikelilingi banyak makna filosofi hidup, keunikan, dan cinta yang sangat berarti.
Seandainya saja hatiku tidak digerakkan oleh Tuhan untuk merasakan petualangan ini, mungkin aku takkan pernah mengenal apa artinya kesungguhan.
Hingga harus rela mendapatkan peluang untuk menyelamatkan diri tanpa kebutuhan komunikasi.
Menyikapi pemaksaan orang-orang muda yang mengejarku tanpa menyerah dan berhenti.
Mencoba mengendalikan diri dari hal-hal yang memuakkan serta paling terbencikan.
Memperoleh segudang keikhlasan dan ketulusan hanya dari sebungkus kacang.
Merasakan gejolak terpedih saat memperhatikan pengemis itu meminta.
Atau sang pria maskulin yang membuatku tersenyum setelah mendengar suara kewanitaannya.
Dan terengah-engah ketika tenaga sudah habis di sepanjang jalanan malam.
Letih? Itu sangat terasa, sehingga akhirnya aku jatuh sakit tiga hari kemudian.
Sakit hati, sakit pikiran, sakit sekujur tubuh, sakit semuanya.
Lantas, harus tetap siap menghadapi apapun, terutama untuk mengambil keputusan penting yang berhubungan dengan kepentingan orang lain. Seperti pengalihan jalur waktu itu.
Yang secara tak sengaja bisa berkenalan dengan wanita bijak yang mengerti kronologis hidupku.
Yang akhirnya menggerakkan hatiku untuk tetap melindunginya meskipun kejadian berdarah itu menghantam keakraban kami.
Terkesima saat menyaksikan kekuatan diri dari sang kondektur untuk tetap mendampingi sang supir --- walaupun dirinya sudah terluka.
Yang membuatku benar-benar menyadari. Atas semua yang dikehendaki oleh Tuhan.
Sampai melankolis begini.
Ia bisa saja mengambil nyawaku saat itu.
Tapi Ia tidak melakukannya.

Jadi,
Seperti apa yang dikatakan oleh Helen Keller itu adalah benar.
Kita tidak perlu menyentuh atau melihat sesuatu untuk memperoleh keindahan hidup.
Cukup rasakan dalam hati.
Karena, sementara kita mencoba mengajarkan hidup kepada orang-orang disekeliling kita, merekalah yang mengajar segala sesuatu tentang hidup kepada kita.

Sekarang, bolehkah aku menutup lembaran kisahku ini? ---


Comments

romantic poems