Somewhere
Cinintya Listianti
kala lamunan berjalan.
di tengah kesendirian.
aku terguncang.
seorang kawan menepuk pundakku
dengan wajah heran.
hai kawan, sendirian saja.
dan kubalas sapaannya dengan
sebuah senyuman.
namun kelihatannya ia masih penasaran.
sobat, aku mengkhawatirkanmu.
dan kali ini aku bersuara.
aku? aku . . . baik-baik saja.
??? tapi
kau tak dapat meyakinkanku atas keadaanmu hari ini.
. . . . .
. . . . .
kau
yakin, Cinintya?
. . . . .
. . . . .
sebelum
kujawab pertanyaannya, aku serius melihat dua sejoli bertengkar di jalan karena
masalah cinta.
di sisi
yang lain kusaksikan dua hati sedang berpelukan penuh mesra di taman.
lagi-lagi
aku tersenyum menahan geli.
dan
kawanku akhirnya mengerti.
hahaha .
. . jadi begitu rupanya.
mengapa?
ada yang salah?
tidak,
Cin. aku hanya baru tahu jika kamu ternyata adalah wanita yang sangat polos.
terserah
apa katamu.
Cin,
sampai kapan kau terus bertahan? aku ingin melihat bagaimana caramu mencintai
orang lain.
lalu aku
berkata.
. . . sampai
ku dapat menemukannya . . .
dimana?
. . .
entah . . . somewhere . . . someday . . .
lantas
mengapa kau tak ingin dekati seorang saja agar dapat membuka hatimu lagi?
inilah
jawabanku.
. . .
karena aku tak ingin menyakiti seseorang walau hanya sekali saja. karena aku
bukan wanita termudah ‘tuk memutus dan menyambung sebuah hubungan. karena aku
sedang belajar lebih mendalam tentang bagaimana caranya memandang arti kasih
sayang. karena cintaku bukanlah cinta biasa. karena, aku ini pecinta sejati . .
.
sesaat ia
terpaku, dan berkata.
aku telah
salah menilaimu. aku tak tahu harus mengatakan apa.
senyumanku
kembali terukir.
kau
benar. wanita sepertimu lebih baik menunggu sang pencari daripada harus mencari
sang penunggu.
aku tahu.
hei,
sebenarnya, kau ini menyukai pria seperti apa?
menurutmu?
tampankah?
cerdaskah? sepertimukah? ayo cepat katakan padaku.
ah
sudahlah, aku malu jadinya.
Cin?
. . . . .
. . . . .
sejenak
ia menatapku bingung, mencoba menerka ada apa dibalik bayangan otakku.
berimajinasi.
Cin,
seperti apa?
. . .
seperti hujan. seseorang yang tidak membiarkanku dalam teriknya nafsu amarah. meneduhkan
jiwa kala ku sedang melihatnya. menjagaku sebagaimana seorang wanita yang ingin
dilindungi. sebagai tempat sandaran saat aku menangis. dan menghapus air mataku
dengan lembut, penuh perasaan. aku rasa, hanya itu . . .
wow . . .
manis sekali, Cin.
jadi,
sudah puaskah kamu dengan jawabanku? nah, itulah aku.
secara
perlahan ku buka halaman bukuku.
kubiarkan
kawanku berpikir sejenak.
kisah
cintaku memang benar-benar rumit.
bahkan
sahabatku saja sudah angkat tangan.
tapi
sungguh mengasyikkan.
belum
pernah ada satu orang pun yang sanggup menangani masalahku.
kalaupun
ada, mungkin nanti.
sampai
saat ini semua orang masih bertanya-tanya akan diriku.
aku akan
mencintai siapa.
dan
tentang seperti apa orang yang akan membuatku tersenyum bahagia.
. . . . .
. . . . .
kita
lihat saja.
