Should We Carry On?


Terlampau sulit bagiku menerima.
Keadaan begitu memaksaku mengerti.
Kau sudah berhasil menjauh --- hanya aku yang tak kuasa.
Berhenti memikirkanmu hanya akan membunuh hati.

Selama ini.
Sang waktu hanya membuat fikiran berkelit.
Sejauh aku bisa terlupa. Sesaat aku bisa terbang.
Mengarah ke bintang lain, namun tiada satu berseri.

Di kala hadirmu mengartikan.
Hal yang kusadari adalah kamu.
Terlepas dari bintang-bintang yang mencintaiku.
Tetap saja itu tidak mengubah --- kaulah yang bersinar.

Apakah dirimu merasa bebas.
Karena aku memilih pergi, karena dunia kita tak sama.
Karena persamaan kita hanya akan memusnahkan perbedaan.
Karena kebersamaan kita hanya akan menghancurkan kehidupan.

Ternyata cinta kita sungguh hebat.
Bahkan saat waktu memisahkan --- aku masih belum sanggup.
Di matamu aku hanya berpura-pura cukup kuat.
Setelah kepedihan menghantam diantara senyuman.

Mengapa kita harus bertemu.
Tanpa tahu jika akan mengalami hal seperti ini.
Baiknya aku tak pernah mengenalmu seumur hidupku.
Akibatnya, aku takkan sehampa kini.

Bagaimana caraku menghapusmu.
Agar mudah memberi kasih yang lain.
Sehingga ringan untuk berlari.
Supaya kita saling memberi jarak diri.

Aku tahu kau berusaha membohongi hatimu.
Isyaratmu itu sama sekali berpengaruh.
Bahasa tubuhmu belum bisa menutupi rasa.
Dan kedua matamu telah gagal lukiskan kebencian di hadapanku.

Oh Tuhan --- kami benar-benar cinta.
Sampai kapankah rasa ini tetap bergeming.
Dimanakah aku merasa siap ‘tuk lanjutkan hidup tanpanya.
Siapakah yang dapat mengubah arti cinta sejati ini.

Mungkinkah hanya ia yang kucinta di dalam hidup.
Ketika memilikinya serasa memeluk separuh dari dunia.
Separuh yang lain adalah perjalanan keseharian.
Sebab itulah ia tak terhapuskan * tak tergantikan.

Dan harapan selalu bersemi saat Kau berikan kami waktu.
Menghabiskan hari berdua tanpa penyesalan.
Hingga kami bertatapan. Pertanyakan impian suatu hari nanti.
Apakah kami akan bersatu. - - -

romantic poems