Masa Kecilku


*** 
Saat masih kecil dulu, ada seorang anak perempuan lugu tak berdaya.  
Hari demi hari dilaluinya dengan harapan memiliki banyak teman. Ia hanya bisa meratapi kesendiriannya dikala teman-temannya berlarian di taman. Memandangi dunia dengan wajah nan redup. 
Ia selalu menghabiskan hari-harinya dengan sebuah krayon berwarna yang ia genggam setiap waktu. Ia tak tahu apa yang ia lukiskan. Yang ia tahu adalah arti sebuah pelampiasan. Yang selalu menahan emosi kala mereka mencela dirinya. Dan ketika semua telah pergi, tangan-tangannya bereaksi. Menutupi wajah yang terlumuri air mata. 
Tertunduk --- bersimpuh di sudut ruangan kelas yang sunyi. Memeluk kedua lutut hingga peluh mengalir. Namun ia selalu berbisik dalam diri agar tidak perlu bersedih hati. Dalam pikiran yang lemah, ia selalu yakin. Ayah dan Bunda adalah orang-orang yang masih dimilikinya. 

Lalu ia bangkit dan bangkit kembali. Berusaha sekuat tenaga mengikuti bimbingan dari sang guru taman kanak-kanak. Beliaulah yang mengerti keadaan anak itu. Meski sekeliling telah menertawainya, ia tiada peduli. Karena masih banyak krayon yang harus digenggam. Karena masih ada keinginan besar untuk menjelaskan asa.

  
*** 
Menginjak 6 tahun. Ia bertambah besar. Dengan semangat baru, dan paras yang berbinar. Tapi setelah itu, segalanya justru berbeda. Sejak ia menyesuaikan diri dengan teman-teman barunya. Mereka menjauh --- tanpa ada peringatan. Hal itulah yang membuatnya kian merasakan sakit. Ia selalu memikirkan sejuta alasan mengapa ia begitu dibenci. Bahkan terkadang terlalu menyalahi diri. Namun sekian jawaban selalu berakhir dengan kernyitan di dahi. Ternyata ini semua bukan salahnya. Tapi sifat manusia seperti mereka yang selalu membeda-bedakan derajat. Selama ini mereka berpikir jika anak itu sangatlah rendah. Sedangkan ia selalu menyembunyikan harta yang ia punya. 
Musuh bebuyutannya adalah teman-teman prianya. Meski ia hanya seorang anak perempuan, halaman luas telah menjadi medan perang pilihan. Bunda akan bertanya atas luka-luka. Itu adalah pilihan yang harus ia tempuh. Mereka selalu mengganggu hidupnya. Dan ia menyadari bahwa dunia ini tak bersahabat. 
Kemudian banyak peluang menghampiri dirinya. Belajar. Berlatih. Berusaha. Diiringi segenap doa yang takkan pernah padam. Hingga suatu hari, nama baiknya tertera disana. Karena sejumlah piala kemenangan menghiasi etalase sekolah. Yang berhasil ia raih --- bersama beberapa teman terdekat. Dan sejak saat itu, ia dapat menjalani hari-hari dengan penuh senyuman. Sampai perpisahan sudah mendekat. 
*** 
Inilah ia dengan umur belia. Dengan tubuh kurus menyisakan tulang. Efek pertengkaran di masa yang silam. Penekanan batin. Lantas ia menaruh harapan, semoga semuanya terlihat lebih baik. Mengenal satu persatu teman baru yang ia jumpai. Dan lagi ia mengalami. Ia mengerti --- mereka mulai mundur perlahan seiring dengan bergulirnya waktu. Mungkin karena fisik. Mungkin karena daya pikirnya tak dapat dipahami oleh orang lain. Seorang perempuan yang hidup seperti alien. Kekurangannya begitu nampak dari luar. Hingga hari-hari ia habiskan dengan buku-buku di perpustakaan. Bila perlu, menjaga tempat itu sampai bel berbunyi tanda masuk kelas. 

Ia selalu merasakan kebencian saat berada di dalam ruang kelas. Mereka akan selalu datang --- tanpa sadar bila ia telah dimanfaatkan. Tapi hatinya tak pernah sedikitpun kuasa. Ia sayang pada mereka. Rasa tega hanya akan membelit selubung jiwanya. 

Prestasi kian meninggi, mengikis rasa duka. 

Akhirnya ia menemukan sebuah bintang pertamanya. Seorang pria tersohor. Entah mengapa ia justru merasakan kesalutan saja --- tidak lebih. Dan Ia mulai belajar bersahabat dengan pria. Baginya, dulu pria adalah lambang kekecewaan. Kini pria telah melambangkan harapan dan cita. 

Kedamaian merasuki tubuh kecilnya pada saat itu. Namun senyuman kembali memudar dua kali. Orang yang sangat dicintainya : Bunda --- divonis sebuah penyakit. Kanker darah. Bertepatan dengan beberapa hari ia akan menghadapi ujian kelulusan. Seluruh tubuh memang tidak percaya. Hanya mata yang tak dapat menutupi kepiluan hatinya. Setelah ia mengatakan janji pada Ayah. Bila ia akan menjaganya selama Tuhan masih memberikan waktu. 
Ketika Ayah menutup pintu kamar tidur. Ia masih berdiri disana --- mengamati pintu yang sudah tertutup. Merekam ulang percakapannya dengan sang Ayah. Apakah ia sungguh-sungguh bermimpi. Harus menghadapi dua cobaan yang begitu berat. Kondisi hati belum pulih, sedangkan ia harus siap saat Bunda memang akan pergi. 

Dan sisa-sisa hari. Ia luangkan banyak waktu untuk Bunda. Sejalan dengan urusan sekolah yang harus ia selesaikan. Saat usai sekolah tiba --- ia selalu bergegas menuju kamar Bunda. Mengamati dari pintu. Wanita cantik berselimut tebal sedang tertidur disana. Ia tersenyum menahan luka. Luka yang akan ia hadapi pada waktunya. 

Apabila Bunda menyaksikan pemandangan sejuk di teras. Ia menyempatkan diri bicara dengan beliau selama mungkin. Karena ia tahu --- ada suatu masa bila mereka takkan bersama lagi. 
*** 

Ia menuju usia 16 tahun. Mengawali hari dengan lingkungan sekolah yang baru. Ia terus mengintrospeksi dirinya dari masa lalu. Terlepas dari kejadian-kejadian itu, ia belajar menghargai setiap detik yang berjalan. Dan tibalah saatnya ia memperoleh kebahagiaan di dalam hidupnya. Menjadi seorang remaja yang dibanggakan banyak orang. Memiliki banyak teman. Menerima penghargaan. Menonjol akan prestasi. 

Ternyata kebahagiaannya pun terkikis. Ia harus rela melepas kepergian Ibunda dalam genggaman tangannya. Perjuangan yang sia-sia. Sejenak ia cermati sekujur tubuh mulia yang membiru. Ia telah bersikeras --- mengeluarkan air mata ketidakpastian. Karena hatinya sudah mati rasa... 

Sepanjang jalan itu. Kendaraan pun berduka. Riuh tangisan telah tertumpah. Mengantar Ibunda pergi dalam kedamaian. Di kejauhan ia menyaksikan --- pengabdian untuk yang terakhir. Berdiri dengan seikat bunga. Ia begitu hancur : memilih untuk lekas tiada dari sini.

Dipeluknya Ayah dan sang adik kecil. Kini hanya ia satu-satunya orang yang harus diandalkan. Ia akan melakukan apapun demi kedua orang itu. Bahkan ketika dunianya tiada berseri lagi. 

Sedari dulu. Ia tahu bahwa ia ditakdirkan agar menghadapi kehidupannya sendiri. Dan ia terpaksa harus membeku. Dingin --- sifat yang telah berbekas di setiap rona wajah. Karena sejak awal keadaan tak selalu berkawan. Membentuk dirinya sampai sejauh ini. 

Setelah hari-hari terlewati --- anak gadis itu mencoba. Menghargai perasaan setiap laki-laki yang mendekatinya. Meski tak satupun dari mereka yang membuatnya menentukan. Hatinya untuk siapa.

Mungkinkah Tuhan selalu mendengarkan keinginan. Yang terlintas saat memandangi angkasa. Ketika ia terjaga dari kemilaunya malam. Dan hening. 

Perubahan hidup --- adalah permohonan terbesarnya. Kala bibir mengatup di sujud terakhir. Ia berharap banyak, bahkan terkadang terlalu banyak. Meski mimpi akan tetap menjadi mimpi.

Hingga suatu hari. Masa depan memberikannya pilihan. Ia tak menyangka jika keajaiban itu ternyata akan datang. Ia tak menyadari bila orang yang selalu mencelanya kini merasa malu. 
*** 
Kini. 
Ia berhasil keluar dari dunianya. Ia telah menjadi wanita yang dewasa. Memang perlu pengertian untuk menepis masa-masa pahit. Hanya dari perubahan seorang anak lugu. Yang menggenggam sebuah krayon. Mengasingkan diri. Memeluk buku-buku. Yang akhirnya melahirkan tulisan sendu disini. Yang kau baca dengan tetesan air mata.Dimana ia pun tersenyum --- menandakan ini semua belum berakhir. Masih ada milyaran ujian hidup yang menggantung. Baginya, hidup takkan pernah sesederhana itu. Karena ekspresi ; motivasi ; inspirasi... selalu setia menemani keraguan. 
Entah Ayah, Ibunda, dan sang adik kecilnya. Itulah gambaran sebuah keabadian. Menjadi orang yang berhasil adalah ambisi dirinya. Ia hanya ingin mereka bahagia atas itu. 
Dan diantara kelabunya cinta. Ia masih menyimpan beberapa harapan.  
Kepada seseorang yang akan mengakhiri lara. Semua butuh waktu --- semua perlu proses. Bersamaan dengan liku-liku rahasia kehidupan. Lalu kembali pada satu sejarah. 
            
Masa lampau. Masa kecilku. ☺☻☼♫♪



romantic poems