Ketika Ku Bilang Cinta


ketika ku bilang cinta…


“Andai saja aku tak pernah merasakan cinta, mungkin aku takkan pernah berada dalam kegalauan seperti ini. Tapi aku tak dapat berlari karena memang bukan itu takdirku. Aku harus berani menatap kenyataan yang sebenarnya. Walau sesungguhnya aku tahu mungkin perasaan ini takkan dapat dilukiskan entah sampai kapanpun. Karena, aku adalah wanita yang berbeda.”
Inilah aku, dengan kisah cintaku yang indah ……

S
ekali lagi kusibakkan tirai jendela ini agar tak membutakan mataku. Hello Cinintya, ini sudah pagi. Berulang kali aku menguap karena lelahnya perjalanan hidupku kemarin. Sungguh aku tahu ini saatnya aku bergegas ke kamar mandi dan membasuh tubuhku yang lembut. Tapi kumohon, berilah aku sedikit waktu untuk menghembuskan nafasku yang berkabut. Aku pasti akan segera kesana. Sebenarnya aku enggan mencari ilmu hari ini, namun aku tak memiliki alasan untuk mengingkarinya. Jadi, lupakan saja. 
Setelah berpikir sejenak, aku baru ingat bahwa hari ini adalah hari libur !!! Betapa sialnya aku sampai benar-benar tidak menyadarinya. 
“Ah, bodohnya aku…” kataku sambil memukul dahiku. 
Tidak seperti biasanya, kuhampiri sebuah cermin rias dengan sesosok wanita yang berdiri menatap dirinya sendiri tanpa rasa malu. Ya, kini aku telah berubah seutuhnya. Dulu, seorang anak perempuan cantik nan rupawan berdiri dengan teguhnya sambil bertanya : 
“Wahai cermin ajaib, siapakah perempuan tercantik di dunia ini?” 
Dan tiada satupun jawaban yang mendatangiku. Hmm… tapi itu dulu. Sekarang, aku hanya bisa tersenyum manis sambil bertanya dengan penuh kepastian : 
“Wahai cermin di dinding, siapakah wanita tercantik di dalam ruangan ini?” 
Dan lekas aku menjawab : Aku !!! 
Diawali dengan gerakan tangan yang menyisir rambut hitamku dengan sangat manja. Beralih pada pandangan mata dan bibirku yang sendu. Mengamatinya secara seksama, tanpa sadar kira-kira sudah berapa lama aku berdiri di depan cermin. Entah mengapa aku jadi merasa bergairah pada saat seperti itu. Nyaman sekali rasanya, seperti melihat pesona dalam diri sendiri. 
Lantas aku duduk bersimpuh memeluk kedua lututku di dekat jendela. Memandangi eloknya mentari yang menerpa wajahku seraya berpikir. Ah, aku sudah besar sekarang. Aku sudah remaja, bahkan beranjak dewasa. Aku jadi teringat atas apa yang telah mengubahku jadi seperti ini. Cinta. Ya ! Benar sekali. Setidaknya, aku dapat mengingat seluruh kejadian yang pernah aku hadapi dulu. Tapi aku jadi geli sendiri, karena semuanya memiliki karakteristik yang unik. Dan sempat terlintas dibenakku, bila mungkin sudah saatnya aku belajar tentang segalanya. Baik mencinta, maupun dicinta. 
Kemudian kuraih buku harianku yang tergeletak diatas meja sudut. Kubuka perlahan seraya bergumam. Ada sebuah halaman disana yang memuat tentang cerita cintaku. Berikut isinya : 
“……Ketika kau menjalani hidupmu tanpa tahu ada apa sebenarnya dibalik hatimu, tahukah dirimu bahwa kau hidup dari cinta, atas cinta, untuk cinta dan karena cinta. Sebab sungguh meski kau merasa bahwa kau selalu terbunuh atas perasaanmu sendiri saat menyimpannya sedalam mungkin, kau tak pernah tahu bila dunia selalu ada disekitarmu dan menantikanmu setiap waktu. Karena suatu hari nanti Tuhan ingin membuatmu mengerti bahwa cinta tak sepantasnya membuatmu begitu tersiksa, namun untuk mengubah duniamu menjadi yang terindah untuk disaksikan seluruh manusia yang menyayangimu……”
Secarik kertas itu membuat buluku bergidik. Sudah setahun aku tak pernah membacanya. Yang kutahu hanyalah menulis. Aku sendiri tak mengira bahwa sampai seperti itu ternyata bila aku sedang patah hati. Ah, Cinintya? Patah hati? Sudah biasa. 
Memang sejak kecil aku dibesarkan oleh makna cinta. Orangtua dan keluarga. Ayah dan ibuku bukanlah orang biasa. Sejarah kehidupan cinta mereka pula telah memanipulasi kecerdasanku. Dulu waktu aku masih duduk di sekolah dasar,  aku disukai oleh adik kelasku sendiri. Ah, aku merasa mual bila mengingat kejadian itu lagi. Mulai dari secarik surat tanda cinta, sebuah kado, dan pada akhirnya, sekuntum bunga mawar sudah sampai diatas meja kelasku. Tapi aku jadi semakin berontak, karena memang sifatku seperti laki-laki. Bertengkar dengan lawan jenis? Ah, itu sih wajar. 
Dan kini telah hadir 7 orang pria yang mengitari kehidupanku, namun hanya ada 3 diantaranya yang memiliki sejarah. 
Di sekolah menengah, ada seorang pria yang menggugah pikiranku. Sebut saja si X. Pada suatu hari, ketika aku hendak melewati sebuah koridor, aku berhadapan dengan sesosok pangeran tampan dan gagah, berjarak setengah meter dan memandangiku dengan tersenyum. Aku yakin mungkin saja dia ingin melewatiku, namun ternyata ia hanya bertahan di titik yang sama. 
Dia menjulurkan tangannya. 
“Kamu Cinintya yang kemarin lomba pidato Bahasa Indonesia itu kan?”
“Iya benar, saya sendiri. Kamu tahu darimana?”
“Aku rasa semua orang tahu siapa namamu. Salam kenal , Cin…” 
“Oh iya, salam kenal juga…” jawabku tersipu.
Pertama kalinya aku berkenalan dengan pria, hanya dengannya. Aku melongo setelah membiarkan ia berlalu dari hadapanku, dan aku membeku. Dari semua musuh bebuyutanku di dunia ini, hanya dia yang terlihat begitu berbeda. Mulanya aku menganggap bahwa semua pria itu berengsek, tapi akhirnya dia membuka mata hatiku. Di setiap kesempatan aku selalu mencuri dengar atas perbincangan teman-temanku terhadapnya. Dia orang yang cerdas. Supel, ramah dan baik hati. Terlebih lagi ketika aku memperhatikannya secara tak sengaja, saat ia menyisir rambutnya ke belakang. Menampilkan ekspresi wajah yang menawan. Maka dari itu aku tak pernah merasa heran bahwa dia selalu dikelilingi oleh banyak wanita. Namun, ia tak pernah menganggap bahwa seluruh wanita yang ada disisinya, begitu memikat hatinya. Tapi, dia bukan cinta pertamaku. Karena, aku tahu diriku dan berkesimpulan bahwa aku hanya menaruh rasa simpati saja. 
Dan kenyataan berkata TIDAK . 
Suatu hari, sahabatku memergokinya sedang berbincang-bincang dengan teman-teman di laboratorium. Semuanya laki-laki. Anehnya, salah seorang dari mereka bertanya, siapa sebenarnya perempuan yang dia taksir. Maka terkejutlah sahabatku saat mendengar perkataannya : 
“Hmm… Cinintya… tapi lo jangan bilang siapa-siapa !!! Gue ga mau dia denger semuanya…”  
            Lalu sahabatku berlari terengah-engah menuju ke arahku. 
“Cin… aduh… ada kabar penting nih… sumpah… gue ga abis pikir… hhuuuffttt…”
“Ya ampun lo kenapa ?! Mending lo ambil nafas dulu deh… abis itu cerita semuanya sama gue… emang lo kenapa sih ?!” kataku resah.
“Cin… jangan kaget yah… ternyata dia suka sama lo…”
“Siapa ?! Aduh gue jadi ga ngerti…”
“Si X !!! Siapa lagi coba ?”
“HAH ?! Ah serius lo ?!”
“Dua rius gue Nin… tuh kan gue bilang juga apa… lagian sih lo dibilangin ngeyel…” 
     Oh, tidak. Ini semua diluar prasangkaku sebelumnya. Mana mungkin dia bisa menyukai seorang perempuan sepertiku. Aku tahu diri, lah !  Secara banyak sekali yang menyukainya. Sebenarnya aku suka padanya tapi aku juga tahu bahwa aku harus bersabar demi masa depanku nanti. Pantas saja selama ini dia selalu memintaku untuk mengajarinya, padahal sebenarnya dia sangat cerdas. Pernah ketahuan sedang melihatku, setelah itu mukanya bersemu merah. Sering tersenyum kepadaku. Hmm… mungkin aku hanya sekedar simpati dengannya, tidak lebih. Sehingga perasaan ini berlanjut dan memisahkan kami berdua. 
      Kedua. Waktu aku masih duduk di kelas 2 SMA, ada seorang teman sekelasku yang mendekatiku. Namanya si Y. Tubuhnya proporsional, badannya tegap dan otaknya jenius. Sobatku pernah menyukai dia, teman-teman dekatnya juga pernah. Lumayan tampan, sih. Memang seperti biasa, aku selalu diminta oleh guruku untuk menjadi seorang moderator seluruh kelompok presentasi. Secara otomatis aku harus berbicara di depan kelas dan mengatur seluruh kegiatan yang akan kami jalankan. Ternyata dia mengamati caraku berbicara sepanjang jalannya diskusi. Kata temanku, dia sempat berbisik ke beberapa teman sebagai rasa simpatinya kepadaku. Dia bangga sekali, katanya. 
    Ketika aku bernyanyi di depan kelas, teman-teman memandangku dengan penuh kekaguman. Aku merasa senang sekali karena lagu yang kunyanyikan ternyata membuat semuanya ingin mendengar suaraku lagi, lagi, dan lagi. Bahagia sekali rasanya jika dapat menghibur teman-teman. Dan setelah mereka bertepuk tangan, dia memandangku dengan begitu dalam. Aku berharap semoga saja itu bukan pertanda buruk. Hmm… aku akui dia hebat. Karena dia bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Tapi kembali aku merasa simpati terhadap pria. Setiap hari dia selalu berada disekelilingku. Bahkan kita sempat bersahabat hingga akhirnya dia mengutarakan sesuatu. 
“Aku sangat mencintaimu, Cin. Walau aku tahu bagaimana dirimu yang sebenarnya. Tapi aku takkan memaksakan kehendak. Jadi, aku akan menunggumu sampai kapanpun…” 
     Malam itu aku tak dapat bergeming. Pesan singkat yang kubaca di telepon genggamku itu, memang nyata. Aku berpikir seribu kali agar dapat menolaknya secara baik-baik dan menganggap layaknya seorang sahabat. Karena dia lebih pantas menjadi seorang teman dan layak mencintai wanita yang lain. 
Esoknya, aku berbicara empat mata padanya. 
“Aku terima bila kau mencintaiku namun aku takkan pernah bisa menerima bila kau berusaha untuk memiliki aku seutuhnya. Karena kau layak mencintai siapapun di dunia ini yang lebih baik dari aku, dan aku berharap atas keputusan apapun yang telah kupilih, akan membawa kebahagiaan untukku. Sungguh aku benar-benar minta maaf atas apa yang telah terjadi, dan aku ingin kau mengerti…” 
    Tanpa terasa air mata mengalir di wajahnya yang tegas itu. Walau hanya setetes, tapi mengartikan hal yang begitu besar untuk kusadari. Baru kali ini ada pria yang berani menangis di hadapanku, karena takut kehilanganku. Lebih baik begini daripada aku harus mencintai seseorang yang tidak aku cintai. 
      Mungkin dia telah merasakan sakit yang teramat dalam, dan aku tahu itu. Namun sungguh aku tak bermaksud untuk menyakiti hatinya. Sehingga aku dapat menemukan sebuah alasan mengapa dia menjauhiku. Dan akhirnya dia tersenyum padaku, sampai kini. 
     Akan tetapi ada hal yang tak pernah kuharapkan agar hadir di dalam kehidupan ini. Aku tak tahu apakah ini merupakan suatu hukuman karena telah membuat hati seseorang begitu patah. Akupun tak dapat mengerti bahwa ternyata aku akan mengalami hal yang serupa. 
    Ketiga. Saat aku berusia 17 tahun, ada seseorang yang mencuri perhatianku. Dia teman sekelas, sahabat, sekaligus rekan detektif. Panggil saja si Z. Mulanya aku berkenalan dengannya lewat situs hiburan yang terkenal di zaman era globalisasi sekarang ini. Facebook. Awalnya dia yang memulai perkenalan kami, sebelum kami bertemu dan mengucapkan salam hangat layaknya seorang teman baru. Dari semua teman priaku di sekolah, hanya dia yang paling berbeda. Sumpah demi Tuhan, dia sangat tampan. Mulanya aku tak mau mengakui kelebihannya pada saat itu. Setelah kuamati baik-baik, dia manis sekali. Dan sebenarnya aku juga sangat tahu bahwa dia selalu dikelilingi oleh kaum hawa. Aku tak bisa memungkiri hal itu. Terlebih lagi dia terkenal akan sikap dinginnya yang biasa diucapkan oleh teman-teman wanitaku : COOL ABIS !
    Kita berdua selalu gemar memecahkan beberapa kasus rumit yang diadakan oleh komunitas rahasia kami. Semakin hari ia makin menunjukkan sesuatu yang menggelikan kepadaku. Ia semakin rutin mengirimkan pesan singkat via handphone hanya untuk mengucapkan beberapa kalimat : 
“Hai… lagi apa nih?”
“Hey… panas-panas gini enaknya ngapain ya?”
“Cin… apa kabar?”
“Pagi… lagi dimana?”
“Nite…” 
    Seluruh pesannya selalu memenuhi kotak masuk telepon genggamku. Setiap hari selalu ada saja yang dapat kita bahas, sampai akhirnya kita saling tertawa bersama. Terkadang ia sering meneleponku karena ingin mencurahkan isi hatinya, entah karena ia sedang patah hati, atau apapun namanya. Pernah aku menyatukan hubungannya dengan sang pacar. Hanya sayangnya aku tak selalu tahu kapan dia telah memutuskan hubungan, kembali lagi, putus lagi, dan begitu seterusnya. 
      Entah mengapa aku merasa begitu nyaman ketika ia memerhatikanku. Saat ia berbicara padaku, menatap erat kedua mataku, dan tersenyum sangat lebar. Ia selalu memberikanku beberapa lagu yang iramanya sangat kusukai. Seperti biola, violin, saxophone, semuanya. Bahkan yang tak pernah kuduga sebelumnya, ia memberikan perhatian yang lebih dari semua itu. Di sebuah malam yang gegap gempita, ia meneleponku dan menginginkanku untuk mendengar sejenak atas permainan bakatnya di bidang musik. Piano. Aku larut seketika dalam keindahan melodi-melodi klasik yang mengalir lembut di telingaku. Sangat sempurna. Aku tak dapat menguntai kata-kata yang pantas untuk kusampaikan padanya. Dia memang pandai bermain piano. 
     Segera aku bertanya padanya, apakah dia pernah memainkan alunan musik itu pada orang lain. Dan ternyata tidak. Aku terkejut mendengarnya, dan berikut adalah alasannya : 
“Karena cuma lo yang menghargai gue…” 
      Aku membeku sekarang. Ini tidak mungkin. Saat itu aku masih berpikir bahwa mungkin saja ia menganggapku sebagai sahabat yang baik atau mungkin pemberi nilai yang bagus atas usahanya dalam bermain. Memang dia pernah dikirim ke Singapura karena mengikuti kontes permainan pianonya itu. Tapi apakah mungkin jika ia melakukan segalanya untukku? 
       Dan kejadian ini berlanjut di hari esok dan seterusnya. 
       Selama ini aku selalu menghubunginya apabila aku sedang sakit atau tidak dapat mengikuti pelajaran seperti biasanya. Agar ia dapat menyampaikan pesanku pada guru-guru di sekolah. Terkadang ia membalas pemberitahuanku dengan menggunakan bahasa Perancis. Padahal bahasa itu ia dengar pertama kali dari perkataanku. Aku sempat tersenyum kecut setelah tahu bila ia mulai mahir berbicara bahasa itu. Sejak kapan ia jadi seperti itu? Aku tak tahu. Biar bagaimanapun, tindakannya terhadapku selama ini benar-benar konyol. 
“Oui, je dirais que vous êtes malade. Quand êtes-vous aller I’École?” (“Ya, aku udah bilang kamu sakit. Kapan kamu masuk sekolah?”)
“Peut-être demain. Je vous remercie à I’avance…” (“Mungkin besok. Makasih sebelumnya…”)
“De rien. Je I’espère un prompt rétablissement…” (“Sama-sama. Semoga cepet sembuh ya…”)
“Oui, merci…” (“Ya, makasih…”) 
      Ah, sepertinya keheningan akan dimulai. Kembali lagi aku berpikir dengan tenang, atas ulahnya yang membuatku kian membingungkan. Dia menyukaiku? Mustahil. Masalahnya, dari beberapa kalangan wanita yang mencintainya, adalah bukan wanita sembarangan. Jelas sekali aku pasti takkan pernah masuk kategori wanita idaman seperti mereka. Memang benar dia pernah mengaku bahwa ia sayang padaku. Tapi menurutku, ia sayang karena aku adalah sahabat yang menyimpan semua rahasianya. 
     Dan tibalah pada saat-saat yang menegangkan. Suatu hari, aku mengirimkan pesan singkat hanya untuk sekedar menanyakan kabar. Baru pertama kalinya aku melakukan hal ini. Semalam kami sempat bersikap acuh tak acuh karena masalah kecil. Jadi tidak ada salahnya bila aku mencoba untuk menelusurinya. 
“Cin, kok lo masih berani sih sms gue? Padahal semalem gue udah jutekin lo… salut gue sama lo…”
“Salut?”
“Iya… hmm… rata-rata cewek yang udah gue jutekin, biasanya langsung ogah sms gue… tapi lo engga… soalnya lo masih berpikir positif ke gue atas kejadian semalem… gue ya salut gitu…”
“Ah ngga kok, gue ga ngerasa kaya gitu.”
“Haha… oke deh… kalo gitu besok gue mau kasih lo hadiah… cium…”
“HAH?! Ah lo gila kali… becanda ajah lo bisanya… hehe…”
“Mau ngga? Gue serius…”
“Idiiih gue ga mau ah, enak ajah, ntar gue disuruh nyium motor lo lagiii… hehe… hmm tapi lo cuma becanda kan?”
 “SERIUS…”
“??? Lantas kenapa lo pengen nyium gue?”
“Karena gue mau lo jadi cewek pertama yang ciuman ama gue…”
“…………………….” 
     Dan disanalah tubuhku mulai terpaku. Aduh, bagaimana ini. Aku bahkan sempat berpikir, jika memang ini pertanda bahwa ia akan menyatakan cinta, maka aku harus menyusun rencana terbaik. Sampai-sampai aku berkeinginan bila ia lebih baik menungguku nanti, dan jika saatnya sudah tepat, aku akan menerimanya. Aku juga harus memikirkan keluarga, teman-teman, dan semua orang yang berada disekitarku. Sungguh galaunya aku. 
      Akhirnya kuajukan satu pertanyaan yang mengandung arti bahwa apa benar dia telah mencintaiku selama ini. Dan jawabannya adalah benar. Kemudian dia menanyakan satu hal yang nyata : 
“Jadi, mau ga jadi first kiss gue?” 
        Terjerat aku dalam pernyataannya kini. Sebenarnya, dia memintaku agar menjadi seorang kekasih atau hanya sekedar “first kiss” saja? Namun dari segala kekalutan ini, aku yakin dia berkata demikian karena kesungguhan. Teman-teman pula sudah pernah mengira-ngira atas perbuatannya hari ini. Sebagai wanita yang normal, bila dihadapi situasi seperti ini, pasti akan berpikir bahwa ia telah menyatakan perasaannya selama ini. Jika aku menolak pria untuk yang kedua kalinya, mungkin aku akan selamat namun hatiku tidak. Dan jika aku menerimanya, mungkin hatiku akan bahagia namun aku pasti akan menghadapi masalah yang sangat besar. Aku tidak dapat berbicara dengan siapapun kecuali DIA yang selalu menyaksikanku diatas sana. 
Tahukah kamu? Aku bukanlah wanita yang dengan mudahnya berkata iya dan tidak. Aku tidak bisa menjalin hubungan dibalik semua kebohongan ini. Apalagi CIUMAN. Dan aku adalah wanita yang antipati akan hal itu. Jangankan ciuman, pacaran saja rasanya sudah tak mungkin. Tapi entah mengapa ayahku selalu saja marah bila aku mengalami hal yang namanya cinta. Padahal aku memang tidak ingin menjalin hubungan dengan pria manapun. Ayah takut kalau saja aku menerima cinta mereka dibawah umur yang belum pantas untuk kujalani bersama pria lain. Kalau aku ingin, aku pasti bisa mengkhianati kepercayaan ayah yang telah diberikan padaku. Tapi buktinya? TIDAK sama sekali. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk mengatakan yang sejujurnya. Sayangnya aku terlalu payah untuk menghadapi ayahku sendiri. Aku hanya tak ingin beliau berpikir bahwa, aku menolak pria karena aku takut kepadanya. Sungguh hatiku benar-benar tersayat pilu, karena sudah hilang akal mencari cara untuk membuatnya mengerti. 
Ya Tuhan, aku sudah tak kuasa menahan semuanya. Sudahilah semua perasaanku yang tengah bertengger di hidupku ini. Sumpah, aku sudah tidak bisa berpikir lagi dengan logika dan realitaku. Karena aku telah jatuh dalam anugerah cintamu, yang terlarang untuk aku rasakan lebih dalam lagi. Tiada pernah aku menangis, hanya karena cinta. Dan setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku berkata : 
“Mungkin gue akan nerima lo kalo lo mau nungguin gue sampe gue kuliah, ya tentunya kita pacaran dulu nantinya…”
“Hmm… kayanya gue ga bisa nunggu tuh… jawab ajah IYA atau ENGGA… gitu…”
“Tell me why you can’t wait me for a long time?”
“Ya, karena gue benci menunggu…”
“Tapi bukannya kalo kita menunggu demi orang yang kita cinta, bukanlah suatu kebencian?”
“Ya tapi tetep ajah namanya nunggu… so, gimana?”
“Hmm… gue bingung… IYA tapi ga sekarang kayanya…”
“Oh gitu… yaudah deh gapapa, gue kira lo bisa jadi first kiss gue… hmm… anggep aja gue ga pernah ngomong kaya gitu dan udah, kita jadi temen aja…”
“…… Kenapa lo ngomong kaya gitu?! Dan kenapa lo ga bisa buktiin kalo lo sayang sama gue…?!?!”
“Ya… karena… karena gue ga mau lo nentang apa kata bokap lo lagi…” 
Dan esok paginya, aku memberinya sebuah pesan singkat. 
“Aku terima cintamu. Tapi jangan lupa nanti pulang sekolah kita bicara dulu, tentang keluarga kita. Ok?” 
Dan ia membalas pesanku dengan sangat menyakitkan. 
“Lo salah ngerti Cin… gue belom nembak lo…”
“HAH ?!?!?! Ah jadi selama ini lo cuma ngerjain gue?!”
“Gue belom nembak lo… gue cuma pengen lo jadi first kiss gue… kalo pacaran gue belom berani…”
“……………………..” 
     Aku terguncang cukup kuat pada pagi hari itu. Ada apa sebenarnya dibalik hatinya. Ingin mati rasanya bila ia mengatakan hal itu sekali lagi. Untungnya aku sadar bahwa aku harus bergegas ke sekolah, dan bersikap lebih dingin nantinya dibandingkan hari-hari biasa, apalagi bila aku akan bertemu dengannya. Sesampainya di sekolah, aku mencari sahabat-sahabatku dan menceritakan apa yang telah terjadi. Mereka tak bisa menahan amarah kalau aku tak mencegahnya waktu itu. Ya, aku sudah tahu sekarang. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh teman akrabku dulu, kalau dia itu bangsat. Dan karena emosiku yang tak terkendali, aku menceritakan yang sebenarnya dengan pacar si Z. Dia terkejut dan sangat marah terhadapnya, apalagi aku. Karena setelah mendengar kenyataan bahwa, mereka masih berhubungan. 
       Sampai sekarang aku masih berpikir negatif terhadap pria itu. Bahkan lebih dari itu.  Di setiap kesempatan aku selalu memohon pada-Nya agar dia menjauh dari kehidupanku dan menghilangkan rasa yang telah terukir karenanya. Aku ingin semuanya berakhir sampai disini, saling memaafkan, dan berteman seperti dulu lagi. Tapi rasanya itu semua sudah tidak mungkin. Karena ia terlalu jahat untukku. Aku penasaran apakah dia benar-benar mencintaiku, atau tidak pernah. Karena dia mengaku, bahwa seluruh pesan singkat itu, adalah lelucon belaka. Sakit sekali rasanya. Andai aku dapat membunuh perasaan yang telah kuberi secara tulus selama ini, tapi aku tidak bisa. Aku teramat bodoh, sungguh. Ketika orang lain dihadapi masalah ini, aku selalu bisa memberikan solusi terhadap mereka, dan ternyata berhasil. Dan tibalah waktunya aku berhadapan dengan yang namanya CINTA. Meski rencana sudah kita bentuk, ternyata kenyataan itu tidak pernah sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Jadi sebaiknya, aku memilih untuk bersikap layaknya seorang teman biasa dan belajar dari semua pengalaman ini. Namun, apabila dia memang masih mencintaiku suatu saat nanti, entah ia akan berusaha untuk mengejar atau mencariku, aku akan siap untuk mengatakan : 
MAAF… AKU TIDAK BISA MENERIMAMU LAGI… 
     Biarkanlah aku untuk memilih. Karena, aku suka. Aku yakin Tuhan sayang padaku, karena ia tidak mengizinkanku bisa berhubungan dengannya. Dia, memang bukan yang terbaik. Tapi tahukah kalian? Setelah kususun ulang semua kejadian-kejadian yang menimpa diriku, semuanya menjadi sangat indah untuk diketahui. Aku diberi kesempatan oleh-Nya untuk merasakan cinta tanpa harus saling memiliki, ketika aku harus menolak cinta seseorang yang benar-benar tulus dan apa adanya, bahkan merasakan kehancuran diri saat menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai ternyata tidak benar-benar mencintai kita. Lengkaplah sudah semuanya. 
    Tinggal satu cerita yang harus aku untai, yang sangat dinanti-nantikan oleh semua insan di dunia. Mencintai seseorang yang mencintai kita. Aku, menunggunya. Tapi entah sampai kapan aku akan terus menunggu, karena hidupku terus berjalan. Wow… aku sudah tidak sabar untuk bercerita tentang yang satu ini. Dan yang lebih membuatku begitu tergugah, adalah menemukan sesosok pangeran yang LEBIH dari semua pria di muka bumi ini. Memang sih, seleraku terlalu tinggi. Tapi inilah aku, sang wanita berbeda. Yang menginginkan perlindungan dan pengertian dari seorang pria. Yang bisa membuatku berdecak kagum, penuh kebanggaan, penuh kebahagiaan dan penuh inspiratif. Yang dapat mengubah duniaku menjadi lebih berarti. Yang bisa meluluhkan hatiku yang DINGIN ini terhadap semua pria. Yang membisikkan kata-kata lembut di telingaku, menatap kedua mataku lekat-lekat, mendominasiku dengan segala kebaikan, memelukku hangat, menggenggam tanganku erat, yang menyadariku akan semua realita kehidupan, yang membuatku merasa begitu damai disampingnya, atau apapun yang dapat membuatku dapat mencintainya. 
Tak terasa waktu menunjukkan pukul delapan. Aku harus melanjutkan perjalanan hidupku hari ini, karena aku sedang dinantikan banyak orang diluar sana. Kuusap derainya air mataku dan beranjak dari tempat dudukku. Ah, sudah waktunya aku tersenyum dan menyibukkan diri, ‘tuk menembus kekosongan jiwa yang tiada bertepi. ---

romantic poems