Surat Duka
Jakarta, 24 Maret 2008
Selamat siang,
Mengenai kabar hari ini, aku
tidak akan mengutarakan hal apapun. Seraut wajah telah menghantuiku sejak tadi
pagi. Sudah setahun aku tidak melihatnya, semenjak kemarin lusa kenangan itu
telah berlalu. Hasratku menggugah kembali. Aku sudah mengunjungi kediaman
abadinya, sehari sebelumnya. Bunda, aku sangat rindu sekali. Tak puas rasanya
hari itu untuk mengenangmu. Jauh-jauh hari, aku ingin memberimu segenggam bunga
kenanga, tapi aku tak punya. Serumpun bunga melati, tapi tak banyak materi yang
kumiliki untuk membelinya. Bahkan setangkai bunga sedap malam pun, tak dapat
kuhiasi di tamanmu yang indah. Entah mengapa aku merasa sangat bingung sekali,
sedangkan waktu berdetak sangat cepat, hingga tak dapat memberiku ruang untuk
berpikir, dan berkedip. Diriku seakan-akan buta saat itu. Aku ingin
menghadiahkanmu serangkaian bunga kasturi, tapi tidak sekarang...
Wajahku terlihat sangat murung
sekali, dan aku selalu menundukkan kepalaku ketika sedang berjalan. Aku tiada
secerah seperti biasanya, dan teman-teman jadi merasa gelisah setelah
memandangku. Aku tak tahu harus berkata apa, dan berbuat apa. Peluh keringat
mengguyur sangat deras, mata mulai memerah. Mahkota terasa pening, tubuh
menjadi lunglai. Aku seperti orang sakit. Mukaku pucat pasi. Mata berkantung,
urat-urat syaraf mulai nampak. Tenaga telah terkuras habis. Aku cacat
seketika...
Sampai pada pelajaran terakhir,
agama, menyerap ilmu bagaimana menyalatkan jenazah, memandikan jenazah,
mengkafani jenazah, menguburkan jenazah... Ooooh... hancurlah hatiku. Aku
teringat disaat-saat membelai rambutnya, membalutnya dengan 3 lembar kain
putih, dan melihatnya untuk yang pertama dan terakhir posisi tidurnya di tanah.
Bunda, aku takut ada sesuatu yang terjadi pada dirimu. Jangan sampai ada
hambatan ketika aku bertemu denganmu...
Ya Tuhan, sampai kapankah engkau
terus membuatku merasa cemas ? Aku tahu engkau sudah tenang, Bu... tapi aku
tidak. Awalnya aku sangat terpukul, Bu... setelah mendengar pendapat ayah agar
memiliki pendamping untuk kedua kalinya. Tapi setelah aku sadari, ternyata kita
perlu memahami keputusan itu. Mungkin Tuhan ingin menakdirkanku supaya aku
berhasil nanti dengan didampingi kasih sayang utuh dari kedua orangtua. Tetapi
aku sungguh tak tega melihat keadaanmu kini, Bu... mungkin di saat-saat seperti
ini, aku tidak akan pernah lupa. Aku akui engkau sangat sempurna saat masih
hidup di dunia nyata, namun sekarang engkau berada di dunia maya, dunia dimana
engkau dapat melepaskan seluruh tanggung jawabmu sebagai manusia, dulu. Aku
ingin mengejarmu, bahkan sekarang...
Setahun lamanya, engkau tinggalkan jalan setapak pada permukaan
bumi dan sehening kinilah engkau tinggalkan jejak yang tak berbekas. Terhempas
oleh kejamnya ruang waktu. Hilang secara merata. Membentuk suatu hal yang penuh
nuansa kalbu. Menjerat setiap kumpulan awan mendung di khayangan. Menoreh luka
yang sangat mendalam. Menghela sesaat setiap hembusan nafas pada jiwa.
Menepiskan kebahagiaan yang telah terbangun. Menciptakan gumpalan-gumpalan
kekecewaan. Menembus kekosongan raga yang tak berdaya. Menuai penyesalan yang
tiada akhir...
Aku ingin seperti hujan... karena aku takkan dapat meneteskan
air mataku hingga aku menutup mata. Sejak dahulu, aku mempunyai sebuah harapan
yang belum tersalurkan... dimana aku dapat berkumpul bersama-sama di dalam
lingkungan keluarga yang harmonis, keluarga yang dapat memberikan keteladanan
kepada siapa saja. Tapi itu semua sudah tidak mungkin... karena tiada
kehadiranmu lagi disisiku, Bunda... sayang sekali. Setiap gunung permasalahan
terus mengeluarkan lahar kebencian pada manusia. Semak belukar mulai meranggas,
merunduk. Angin kencang menderu luasnya samudera hati. Badai gemuruh menusuk
setiap aliran darah. Air di langit menggemparkan sejuta rasa di pikiran.
Kilatan petir menyambar iman dengan ganasnya. Semakin lama kurasakan, semakin
lama aku mencoba untuk menelusuri, ternyata impianku hanya bagaikan bunga
karang...
Pernah aku mengira hidup itu seperti permainan, namun dugaanku
salah. Atau anggapan orang lain kalau hidup itu indah. Tapi menurutku hidup itu
merupakan sesuatu yang unik, terdapat variasi dalam rasa pada manusia. Tak
sedikit mahakarya tercipta melalui berbagai macam perbedaan. Dan tak bisa
dipungkiri, karena perbedaan itulah, masalah kerap kali timbul karena perbedaan
persepsi, atau pendapat dari milyaran alam sadar manusia...
“ ... Bunda, walaupun mungkin aku tetap tak layak menjadi anakmu
sampai kapanpun, atau bagaimanapun caranya aku tidak akan dapat menjelaskan
beribu-ribu alasan padamu, meskipun hanya keajaiban yang dapat mengubah
segalanya, aku takkan menyerah untuk meyakinkan dirimu bahwa aku masih mencari
seseorang yang pantas bersanding disisi kekasihmu, menjadi salah satu saudarimu
disini, menjadi orang kepercayaanmu, dan menghabiskan sisa hidupku untuk
menunggumu setiap waktu dan mengharapkan kedatanganmu untuk menyaksikan
keberhasilanku nanti ketika sudah saatnya aku harus berada disisi orang yang
aku cintai ... “
Maafkan aku, Bunda. Aku sangat menyesal ...
