Ikhlas


Pernahkah kita : merasa tidak mendapatkan suatu kebaikan yang seharusnya kita peroleh, dari orang-orang di sekitar kita, dimana kita sudah memberikan yang terbaik untuk mereka?
Apakah kau juga pernah berada dalam kondisi jika : kita benar-benar berusaha mengikhlaskan diri pada saat mereka sungguh tak peduli terhadap keadaanmu, sedangkan itu adalah hal terpenting ketika kau sedang kesulitan?
Tidak semua orang dapat terbiasa dengan kesabaran yang tiada tara, dan itu membutuhkan waktu.
Termasuk aku.
Terutama saat menghadapi cobaan lagi dalam kesendirian. Ternyata ada juga sebagian orang yang senang dengan sindiran, celaan, membicarakan orang lain secara terang-terangan bahkan dalam keadaan berpuasa sekalipun.
Akhirnya, kuputuskan untuk mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan baku untuk ayahku.

"Terkadang apa yang kita inginkan dalam hidup, bertolak belakang dengan apa yang sudah kita dapatkan. Begitu juga dengan melihat kepekaan pada orang lain. Tidak selamanya itikad baik seseorang itu dapat terbalas dengan tanggapan yang baik pula."

Satu menit kemudian, beliau membalas.

"Itu sebabnya Allah perintahkan untuk ikhlas, karena dengan ikhlas, kita tak kecewa. Karena Allah-lah yang kita harapkan balasannya, bukan manusia yang tak pernah bisa adil."
"Are you sure, Dad?"
"Yes, alright exactly."
"Jadi, apa Tya harus tetap rela diperlakukan seperti itu, sedangkan semakin kita diam, maka akan semakin sulit buat kita untuk menjaga harga diri, Pak?"
"Cara terbaik mengatasi orang yang sombong adalah melakukan yang seperlunya lalu diam & biarkan Allah yang mengurusnya. Jangan buang energi dengan terlalu memperhatikannya. Bukankah sudah ada contoh bagimu dari Bapakmu dalam masalah keluarga besar waktu itu?"
"Hmm, inggih Pak. Yaudah, nanti Tya coba lagi. Selamat berbuka puasa nggih Pak, tetaplah menjadi Bapakku yang bijak."
"Ya sayang, Insya'Allah anak-anak Bapak juga pasti akan jadi orang bijak, shaleh & shalehah. Amien. Wassalam."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah."

Sekarang begini. Manusia memang takkan pernah sempurna dalam hal apapun. Karena selain hanya Allah yang memiliki kuasa, kita diwajibkan untuk memperbaiki setiap kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalam hidup. Dan Allah telah memberikan kemampuan itu pada kita. Itulah manusia yang sejati.

Tapi,
Tidak sepantasnya bila ada seseorang yang sering dibicarakan keburukannya oleh orang lain, justru tidak memperbaiki akhlak , namun selalu memperkaya pribadi dengan cercaan yang suatu saat akan kembali pada dirinya sendiri.
Tanpa tahu bahwa sebenarnya orang yang ia cerca adalah orang yang paling menyayanginya.
....................................................................................................................................................................................

Aku akhirnya berpikir :
Terlepas dari itu, semuanya kembali pada Allah.
Kita sebagai manusia sering melalaikan hak-Nya, lebih fokus pada urusan sosial dan dunia, dan terkadang sering melupakan segala nikmat yang Ia berikan setiap detik untuk kita.
Tapi Ia tetap ikhlas memberi segala rahmatnya walau mungkin kita tak pernah bisa adil terhadap-Nya.
....................................................................................................................................................................................

Jadi, bila kita ingin belajar mengenai arti sebuah keikhlasan, maka teladanilah cara Allah.
Subhanallah. ---

NB : Ayahku memang hebat. Pria yang berbesar hati dan bijaksana. :)

Comments

romantic poems