Ibu
Wednesday, 28
December 2011 – 17 : 48 PM
Backsound : Kenny
G Montage – Always (The Moment, 1996)
Ibu.
Satu kata dengan gambaran penuh arti.
Kilasan wajah yang takkan pernah
terlupa.
Ada dan tiadanya ia disampingmu.
Akan membuat raga yang kuat menjadi rapuh.
Kemudian melemahkan jiwa seketika.
Dan seperti kataku : kita pasti
menangis. ---
Kita terlahir di dunia ini dalam
keadaan yang hebat.
Melalui perjuangan seorang wanita di
antara hidup dan mati.
Ia terus menerus mengerang kesakitan;
bahkan terkadang mengeluarkan air mata.
Karena sedikit demi sedikit darah
mulai bercucuran...
Tapi beliau tetap mengelus perutnya
dengan lembut dan sabar.
Berharap bantuan segera datang,
memudahkan kesulitannya.
Kesan termanis saat kita belajar
membuka mata,
Yang terlihat pertama kali adalah
wajahnya.
Senyuman yang paling indah seumur
hidup.
Entah apakah setelah itu ia akan bisa
bertahan, atau
Menyerah untuk melanjutkan hidupnya.
Lalu anaknya akan tumbuh besar dan
berkembang.
Kebahagiaan terbesar saat memiliki
buah hati yang lucu dan menggemaskan.
Diajarkan bagaimana caranya duduk...
merangkak... dan berjalan.
Memegang kedua tangan kita agar sigap
saat melangkahkan kaki.
Sementara itu ia menyematkan kata
untuk diingat.
Ini Ayah, ini Ibu...
Celotehan mewarnai dunianya. Cara
bicaramu masih parau, namun ia mengerti.
Gerak-gerikmu membuatnya tertawa haru.
Gayamu lincah sekali.
Di tengah malam kita menangis,
Membangunkan tidur lelapnya untuk
membuatkan sebotol susu.
Dan menenangkanmu lagi.
Kala kita terjatuh di taman,
Yang bisa kau lakukan hanya menangis
tersedu-sedu.
Tiba-tiba ia berlari dan menghampirimu
dengan membawa obat merah.
Kecemasan terlukis di dalam rautnya.
Semoga kau tidak apa-apa.
Hanya pelukannya yang dapat mengobati.
Sebelum berangkat sekolah...
Ia menyiapkan bekal makanan setiap
pagi dan menyisipkan nasihat.
Belum lagi beliau harus berkutat
dengan persoalan rumah tangga ataupun masalah pekerjaan.
Tiada habisnya.
Lambaian tangan mengawali harimu.
Dengan senyumannya saat kau semakin
menjauh.
Ayah memang akan marah bila
nilai-nilai tugasmu buruk,
Tapi Ibu akan marah sebentar kemudian
diam.
Karena ia menyesal di dalam hatinya;
kau belum berhasil dididiknya.
Walau geram, ia senantiasa memberi
tahu pada Ayah agar tak terlalu kasar padamu.
Dia selalu membawa segelas susu
untukmu sebelum pergi tidur.
Mengantarmu dengan sentuhannya yang
kau rasakan diatas kepalamu.
Wanita yang tidak pernah melupakan
sebuah kecupan manis di dahimu.
Menyelimuti tubuhmu...
Serta meninggalkan jejak dengan pintu
yang takkan ia biarkan tertutup.
Setelah kita beranjak remaja dan
dewasa,
Kita mulai berusaha mengatur hidup
dengan cara yang kita sukai.
Kesibukan silih berganti.
Tapi apakah kita pernah memperhatikan
sekali waktu,
Ia menepuk sebelah pundakmu saat kau
sedang susah.
Menyarankanmu agar segera pergi tidur
ketika melihatmu sedang belajar; atau bekerja hingga larut malam.
Beliau juga melakukan hal yang sama
pada Ayah kita.
Akan tetapi...
Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan
yang sama. Bukan begitu?
Bahkan saat beliau sakit parah
sekalipun...
Kita belum tentu selalu ada untuknya.
Terpikirkah olehmu untuk memberinya
sekumpulan bunga rangkai di hari istimewanya.
Ambil alih pekerjaannya, sementara ia
beristirahat sejenak.
Membuatkan secangkir minuman
kesukaannya sesekali.
Dan dengarkan caranya berbicara...
Dibalik mahkota yang semakin memutih.
Paras akan mengeriput.
Itu tidak menghalangi rahasia yang
dimilikinya.
Ibu tetap cantik, bukan?
Sebab perasaannya tetap bijak, halus,
dan lembut;
Selembut kapas putih yang terbang
menerpa langit.
Suatu hari nanti... kita akan menikah.
Dan orang yang paling merasa
kehilangan dalam agenda itu ialah Ibu.
Jangan pungkiri rasamu dengan
kedekatan dirinya.
Bagi Ibu, tidak ada pintu yang
tertutup untuk buah hatinya.
Meski dia sudah melepasmu dengan
sedemikian beratnya.
Seperti do’a yang terjalin melalui
sepasang mata.
Yang memandangimu penuh kasih.
Sampai esok hari Ibu memeluk
cucu-cucunya,
Ia tersenyum mengamati mereka bermain
dengan ceria.
Lantas perlahan ia mulai merasakan
sakit yang ia derita,
Kita harus benar-benar siap...
...............................................................................................................................................................................................
Akhirnya, bunga-bunga hitam itu
menghiasi pusara.
Membawa senyuman terakhir di sudut
bibirnya.
Seakan-akan kita ingin menyalahkan
diri sendiri; memberontak sekuat tenaga.
Namun semuanya tergantung dari
seberapa besar kau mencintai.
Tidak hanya sekedar mencium
tangannya...
Menuruti segala kemauannya...
Atau menghargai keberadaannya saja...
Dari seorang Ibu,
Tuhan dapat menciptakan kita dengan
sempurna.
Keberhasilan keluarga,
Ditentukan melalui dedikasi dan
ajarannya selama masih hidup.
Berikan segala yang kau punya.
Persembahkanlah hanya untuknya.
...............................................................................................................................................................................................
Ibu.
Tiga huruf yang terasa getir saat teringat.
Aku suka apapun dari dirimu.
Bukan sepanjang masa,
Tapi sepanjang ku merasakan hadirmu di
hatiku.
Dalam segala masa.
Serta jutaan definisi yang tak
terbatas.
Ibu... izinkan aku mencintaimu sekali
lagi. ---
