Hari Ibu




Jakarta , 22 Desember ‘08


Hari ini hari Ibu. Tak ada yang kukasihi dan kusayangi hari ini , karena aku tidak bisa memberikan sesuatu yang berarti di hati Ibu. Setelah setahun lamanya , aku masih bisa memberikan sebuah kartu ucapan atau sebuah bingkisan mungil hasil dari keringatku sendiri. Tapi hari ini , lain dan tidak akan pernah terjadi lagi seperti dulu. Dan pada hari ini aku masih tegak berdiri dengan keadaan tersenyum menghadapi duniaku yang semakin sempit. Impianku bagaikan bunga karang.

Well , aku harap Ibu tahu kini keberadaanku dan Ibu masih ada di hatiku. Tapi kenyataan bilang , beda. Aku memerlukan keberadaan Ibu disaat-saat begini , menjelang aku mulai dewasa dan adik yang semakin besar pula. Disaat-saat harus menemani hari tua ayah. Dikesendiriannya itu.

 Banyak media yang meliput berita tentang perayaan hari Ibu pagi ini. Tapi itu hanya menambah kesengsaraan hidupku dan membuatku tambah iri. Para wanita diexpose besar-besaran , apalagi setelah aku mendengar pekikan kata “ Pancarkan sinar di hatimu , ingat , kalian adalah wanita !!! untaian lagu itu membuatku jadi ...
Rapuh ...

            Setelah itu aku mengganti channel TV dengan berharap semoga saja ada berita yang layak untuk ditonton. Ganti , dan ganti. Namun tetap pada hasilnya , nol.  Lalu aku matikan tombol on-off , dan bergegas menuju kamar. Tapi tidak ada hal yang aku lakukan , selain memandangi foto Ibu. Memang disaat-saat seperti itu , aku tidak akan pernah lupa. Tapi waktu serasa berjalan cepat dan seakan tidak mengerti lelahnya aku menjalani hidup.
              Lima menit kemudian aku mendengar suara televisi lagi.

 Ya ampun , kepalaku serasa mau pecah !!! Ini masih siang !!! Tapi memang hanya aku yang bisa merasakan kehilangan seperti ini , karena tidak ada satupun yang tahu. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Berhubung sampai hari ini aku masih dalam keadaan sakit , sejak dari hari Selasa kemarin. Dan sejak dari kemarin pula , aku memikirkan kejadian apa yang akan kualami hari ini. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan ini semua.

              Perasaanku berkecamuk oleh tanda tanya. Kenapa aku ini ? When its over ?
             Hari ini dirumahku ada eyang. Tapi eyang lagi istirahat. Sms teman , yang ada malah jempol cantengan semua gara-gara nekan tombol hp. Telpon juga kalau telinga gak merah-merah karena kepanasan. Apalagi ndengerin mp4 ...

         Hari ini semua orang merasakan kebahagiaan yang amat sangat , tapi tidak sama halnya denganku. Libur panjang sih ... jadi kesimpulannya ... sampai saat ini aku belum melakukan sesuatu yang berarti untuk dilakukan dan itu tidak disertai niat. Tapi tidak apa-apa , yang penting aku tetap shalat 5 waktu. Masih ada hari esok. Semoga hari ini aku bisa mengerti tentang makna kasih sayang seorang Ibu , dan aku menatap hari esok dengan penuh ceria ...

          Akhirnya sampai juga pada penghujung kisah. Aku sudah bisa mengakhiri kisah ini dengan penuh senyum di bibir dan dengan penuh harap agar sosok Ibu selalu berkilauan di sanubariku dan selalu kusertai beliau dengan doa agar tenang disamping-Mu.


Terima kasih, Bu.


romantic poems